Mutiara

Mereka yang Disombongkan Oleh Kenikmatan

Written by A.Suryana Sudrajat

Orang menempuh berbagai cara untuk memenuhi keinginan bermewah-mewah. Apa akibatnya jika kemewahan dipertontonkan? Bercermin pada Bung Hatta, dan fenomena zaman sekarang.

Sebagian orang mungkin baru tahu barang-barang mewah setelah melihat tayangan media yang memperlihatkan harta benda para tersangka korupsi. Mulai dari jam tangan, tas, sampai mobil yang harganya miliaran rupiah. Juga kehidupan pribadi dan keluarga mereka yang wah, lengkap dengan rumah-rumah dan  apartemen-apartemen baik yang ditinggali maupun yang hanya ditengok sekali-kali.

Berkata Imam Fahruddin ar-Razi (Tafsir Kabir), mewah adalah perilaku orang yang disombongkan oleh kenikmatan dan kemudahan hidup. Kenikmatan dan kemudahan hidup antara lain didapat karena mereka berkuasa atau memiliki jalan masuk ke lingkaran kekuasaan. Memang sering didengungkan, kekuasaan adalah amanah atau mandat yang dikhdmatkan orang banyak. Akan tetapi, dalam praktik, ia tampak menonjol sebagai sarana untuk mengakumulasi kekayaan, selain untuk memfasilitasi pendukung dan menekan lawan.     

Sementara itu,  Ibn Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah menyebut korupsi sebagai akibat kebiasaan hidup mewah. Untuk itu, kata dia, mereka berbohong, berjudi, menipu, berbuat curang, mencuri, bersumpah palsu, dan seterusnya. Karena lahirnya beberapa keinginan yang diakibatkan oleh kemewahan, ungkap failasuf besar Muslim ini, orang-orang pun berusaha mengetahu cara-cara dan bentuk-bentuk tindakan immoralitas itu. Dan kita melihat betapa rumit dan licinnya perilaku tercela ini dimainkan sekarang.

Di Indonesia kita mengenalnya antara lain dalam bentuk yang popuer disebut KKN alias korupsi, kolusi dan nepotisme, yang hampir dipastkan terjadi pada seluruh lapangan kehidupan dan dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Tak heran jika Hatta pernah menyatakan bahwa korupsi telah membudaya dan masyarakat Indonesia – dan karena itu sulit diberantas. Bapak Proklamator itu tentu saja sangat anti-korupsi, dan dikenal hidup amat sederhana, sampai-sampai ia tidak mampu menyisihkan uang pensiunnya untuk sekadar bayar tagihan listrik. Hatta memang praktis  mengandalkan hidupnya hanya dari uang pensiun, selain mengajar di perguruan tinggi. Katanya, dia tidak ingin memanfaatkan pengaruhnya sebagai mantan wakil presiden untuk, misalnya, menjadi komisaris perusahaan.

Tapi bagaimana dengan seorang pejabat tinggi Republik yang mengatakan bahwa korupsi merupakan pelicin bagi roda pembangunan? Bagaimana pula dengan para mantan pejabat dan bekas pendukung calon presiden yang sekarang banyak mengisi jabatan komisaris di perusahaan-perusahaan negara? Hampir dipastikan, itu bukan lantaran kompetensi mereka yang dibutuhkan untuk mengembangkan korporsi, tetapi lebih karena pertmbangan yang selain itu. .

Kembali kepada pendapat Ibn Khaldun. Jika kemewahan dan segala akibat yang ditimbulknnya itu meluas dalam suatu negeri, maka kita akan menyaksikan kehancuran negeri itu. Allah sendirilah yang akan menghancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Allah berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Q.S. 17:16).

Hidup mewah juga merupakan faktor utama datangnya bala dan azab, serta jauhnya pertolongan Tuhan. Hidup  mewah juga merupakan faktor utama datangnya bala dan azab serta jauhnya pertolongan Allah. Seperti dinyatakan dalam sebuah firman: “Hingga apabila Kami timpakan azab kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri mereka, dengan serta mereka memekik minta tolong pada hari ini. Sesungguhnya kamu tidak akan mendapat pertolongan dari Kami.” (Q.S. 23:64-65).

Tentu kita tidak ingin generasi yang akan datang mewarisi negeri ini dalam keadaan hancur akibat perilaku kita yang durhaka. Kepada mereka yang sedang dan akan berkuasa, sudah sepatutnya kembali bertanya untuk apa berkuasa. Dan kepada yang berada di luar pagar kekuasaan, seperti ulama dan cendekiawan, kita berharap untuk terus menyuarakan kebenaran – dan tidak gampang dibungkam

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda