Cakrawala

Memimpin Adalah Menderita

Memimpin adalah menderita, begitu yang sering diucapkan KH. Agus Salim. Dalam terminologi sufi, seorang wali adalah seorang yang menanggung beban penderitaan di wilayahnya (wali dalam terminologi sufi adalah pemimpin -seringkali dalam pengertian ruhani- yang melindungi semua yang hidup di wilayahnya). Secara lahiriah bisa jadi dia berada di puncak piramida sosial; tapi secara batiniah sudah pasti ia bertahta di titik terendah piramida tersebut.

Dalam sudut pandang ruhani, persepsi kita terhadap kenyataan dianggap ‘terbalik’. Dengan demikian seluruh ‘tubuh pemikiran’ (saya sengaja menghindari istilah konstruksi atau mekanisme, yang berkonotasi material dan mekanik) kita selama ini harus dianggap ditanam dan mendapatkan nafas kehidupannya di ladang ‘keterbalikkan’ cara pandang. Tubuh pemikiran kita selama ini dianggap mengekalkan seluruh keterbalikkan kita dalam mencerap kenyataan.

Karena itu, untuk merebut kembali kejernihan dan ketepatan, kita harus ‘membalikkan kembali’ seluruh persepsi yang selama ini terlanjur kita tubuhkan sebagai mata untuk memandang kenyataan. Oleh para sufi, inilah salah satu makna terminologi taubat (arti literalnya: kembali), yang harus menjadi titik tolak orang yang akan menapak jalan kesufian (kejernihan, kesucian, kesejatian).

Dalam perspektif ini, kita dituntun untuk ‘membedah kembali’ (untuk menghindari istilah ‘membongkar’ yang terkesan dilakukan terhadap ‘bangunan yang mati’) pemaknaan-pemaknaan kita; antara lain seperti yang tercermin dalam oposisi biner (binary oposition) misalnya. Dalam kaitan ini, kita dituntun untuk membedah pemaknaan kita terhadap konsep tinggi-rendah, mulia-hina, kuat-lemah, dst; yang alat pengukurnya selama ini sering tidak jelas. Sekedar catatan, untuk tidak mengacaukan pengertian: meski punya beberapa kemiripan dengan metodologi dekontruksi yang dikembangkan Derrida, secara mendasar makna taubat kaum sufi sangatlah berbeda.

Bagi kaum sufi, momentum taubat akan mengantar seseorang ke posisi fitrinya secara ruhani, dimana seluruh ‘tubuh pemikiran’ yang selama ini ‘menghidupi’ pengetahuan dan cara pandangnya akan pupus, dan digantikan ‘tubuh pemikiran’ baru yang lebih sesuai untuk mencerap kenyataan hakiki. Atau, dalam bahasa lain, momentum ini akan menyampaikan seseorang pada apa yang sering diidentifikasi sebagai ‘akal murni’ dalam berhubungan dengan kenyataan, dimana ia diandaikan mampu melepaskan akalnya dari pengaruh daya tarik bumi yang selama ini menjadi kabut yang menyelimuti dan menutupi (hijab) kejernihan potensial yang dimilikinya. Menurut para sufi, akal yang dikuasai daya tarik bumi semacam ini, akan menghasilkan ‘tubuh pemikiran’ yang menipu dan menyesatkan.  

Kaum sufi menganggap momentum taubat sebagai momentum revolusioner: dia ditarik (majdub) ke titik dimana kenyataan akan tampak dalam perspektif yang sama sekali baru. Titik ini dianggap lompatan (yang identik dengan hidayah atau ilham), karena sulit dilacak hubungannya dengan basis pengetahuan yang sebelumnya dimiliki. Dari titik ini, seluruh pengetahuan yang telah dimiliki justru diacak untuk ditata ulang menurut cahaya baru yang memancar dari ‘akal murni’; dan itulah yang menjadi akar tumbuhnya tubuh pemikiran yang sama sekali baru. Bagi para sufi, momentum taubat semacam ini selalu dijaga untuk terus berulang, paling tidak untuk mencegah godaan ‘pembusukan tubuh pemikiran’, yang potensial mencegat perjalanannya mengarungi ruang-waktu.

Nah, untuk tidak berpanjang-panjang, ‘tubuh pemikiran’ baru yang dihasilkan oleh taubat inilah yang akan mengantar seseorang untuk -misalnya- memaknai kembali oposisi biner, tentu saja dengan alat pengukur yang dianggap lebih bisa dipertanggung-jawabkan. Maka dari titik ini orang akan bisa memandang: yang dianggap tinggi itu rendah, yang dianggap rendah itu tinggi; yang dianggap mulia itu hina, yang dianggap hina itu mulia; yang dianggap kuat itu lemah, yang dianggap lemah itu kuat; dst.

Contoh sederhananya seperti ini: api itu hakikatnya rendah, maka dengan perantara udara ia ditinggikan. Air itu hakikatnya tinggi, maka dengan perantara tanah ia direndahkan. Udara itu hakikatnya lemah, dengan perantara api (panas-dingin) ia dikuatkan. Tanah itu substansinya kuat, tapi dengan perantara air ia dilemahkan, dst. Dengan beberapa contoh sederhana ini, mungkin kita bisa sedikit meraba makna ‘pembalikan’ persepsi seperti dimaksud kaum sufi diatas. Dari perspektif ini, kategori normatif: tinggi-rendah, mulia-hina, kuat-lemah; sebagai teks bisa menjadi sangat relatif. Dan -tanpa harus kehilangan makna intrinsiknya- pada dasarnya bisa bebas bergerak ‘masuk-keluar’ konteks pemaknaan yang dituju. Yang tinggi bisa sekaligus rendah, yang rendah bisa sekaligus tinggi, dst. Para sufi memang dikenal ‘bebas’ memperlakukan teks tanpa pernah kehilangan substansi dasarnya.    

Dari titik tolak ini, kita akan kembali ke pokok bahasan kita, yakni memaknai pengertian wali (pelindung, pemimpin) sebagai sosok paling menderita dan paling rendah dalam piramida kenyataan. Perumpamaannya: seperti air, secara hakiki kewalian dianggap berada pada puncak piramida suatu wilayah (mulia, kuat); tapi secara lahiri ditempatkan pada titik terendah (hina, lemah). Dimana ia tidak sekedar merasakan, tapi sekaligus menanggung duka-derita mereka yang dipimpin dan dilindunginya. Secara imajinatif, dibayangkan bahwa para wali dalam pengertian ini adalah orang yang punggungnya memanggul piramida terbalik dari wilayahnya.

Perspektif ini pulalah yang tampaknya menjadi dasar ungkapan tradisional ‘sayyidul qoumun khodimuhu’: pemimpin suatu kaum adalah pelayannya. Kepemimpinan, yang selalu diasosiasikan dengan kemuliaan dan kekuatan, pada dasarnya terbangun dari wilayah yang diasosiasikan sebagai kehinaan dan kelemahan, yakni kepelayanan. Bahkan disimpulkan, bahwa tanpa unsur kehinaan dan kelemahan, yang muncul dari kepelayanan; kemuliaan dan kekuatan tidak akan ada secara intrinsik dalam kepemimpinan. Kepemimpinan akan menjadi absurd, sementara kemuliaan dan kekuatannya ditempelkan secara artifisial dan dipaksakan dari luar.  

Mungkin, inilah yang secara tidak langsung dimaksud KH. Agus Salim, ketika dia berbicara tentang: memimpin adalah menderita. Seorang pemimpin harus duduk di tanah paling rendah dari rakyatnya; tahtanya harus diposisikan pada tempat yang paling paling hina diantara rakyatnya, sehingga dia bisa terus terhubung untuk mencerap dan menanggung derita rakyat. Dia juga harus menganggap dirinya pelayan yang tanpa mengeluh setia memenuhi kebutuhan rakyatnya. Dan bukankah Allah pun, dalam simbolisme Qur’an, meletakkan Arsy(tahta)Nya di atas air; yakni diatas unsur yang selalu memposisikan dirinya pada lapisan yang paling rendah dari kenyataan?

Ini semua yang sekarang tampaknya hilang dari atmosfir kehidupan politik kita. Orang sibuk berebut kepemimpinan untuk mengejar kemuliaan dan kekuatan, yang sebenarnya nihil karena tidak dibangun dari kehinaan dan kelemahan kepelayanan yang tulus. Para pemimpin justru sibuk mematut-matut diri dengan kemuliaan dan kekuatan menurut ukuran artifisialnya sendiri.

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda