Mutiara

Sekolah Model Tan Malaka

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Tan Malaka selalu gagal memperoleh ijazah Akta Kepala. Toh ia sukses membangun  sekolah-sekolah Sarekat Islam. Namun, kita lebih mengenangnya sebagai seorang  revolusioner yang penuh legenda.

Oto itu berhenti persis di depan sekolah. Dua petinggi polisi Bandung turun dan langsung menuju sekolah milik Sarekat Islam (SI) itu. Kehadiran mereka sepertinya tidak menarik perhatian. Maklumlah, hari sudah  menunjukkan pukul satu siang dan jam pelajaran pun sudah  usai. Tidak lama, kedua petugas tadi menggiring seorang laki-laki yang berusia 20 tahunan ke mobil, lantas mengapitnya di bangku belakang. Mereka meluncur ke kantor polisi.

Penangkapan pada 13 Febuari 1922 itu berlangsung kilat. Permintaan si pesakitan agar mengakhiri pembicaraannya dengan komisi sekolah ditolak. Pun ketika minta izin mengambil barang pribadinya di hotel. Ia cuma dibolehkan pamit kepada kawan-kawannya. Setelah semalam di tempat tahanan,  pagi-pagi ia diberangkatkan ke Semarang. 

Ibrahim Datuk Tan Malaka, revolusioner yang  kelak tewas di tangan sesama republiken pada 1949, ditangkap atas perintah residen Semarang. Ia dituduh terlibat aksi pemogokan pegawai pegadaian di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di Semarang, selain memimpin sekolah SI, Tan Malaka juga menjadi anggota dewan gemeente. Karena itu, di  dalam bui ia diperlakukan sebagai orang yang dianggap punya hak-hak yang sama dengan golongan Eropa.

Meski terkesan mendadak, penangkapan itu sebenarnya tidak tiba-tiba. Pemerintah kolonial sudah lama mengamati kegiatan politik  Tan Malaka. Dari hari ke hari, pengawasan terhadap dirinya makin diperketat. Pada 21 Januari 1922 misalnya, sudah ada laporan dari Dinas Resersi Umum, yang secara khusus menyorot “pemimpin komunis Ibrahim gelar Sultan Malaka.” Laporan itu antara lain menyebutkan bahwa Tan Malaka “orang kelahiran Sumatera, belajar beberapa tahun di Negeri Belanda, di sana memperoleh Akta Pembantu (untuk guru), tetapi lebih dari satu kali mencoba dengan sia-sia untuk memeroleh Akta Kepala”. Lantaran sakit hati akibat kegagalannya itu, Tan Malaka merangkul kaum komunis. Pada Desember 1919, lanjut laporan itu, Tan Malaka tiba di pantai Timur Sumatera, bekerja di perusahaan Senembah sebagai pengawas sekolah sekolah-sekolah perkebunan. Tapi, diberhentikan pada 1921 karena mengadakan propaganda untuk SI di kalangan kaum buruh.

Latar belakang pendidikan Tan Malaka adalah sekolah guru. Karena itu, ketika pemimpin SI Semarang, Semaun, pada pertengahan 1921 akan mendirikan sekolah-sekolah SI, Tan Malaka-lah yang diserahi tugas itu. Program pelajaran Tan Malaka pertama-tama adalah antikolonial. Pada masa prakolonial, kata dia, di Jawa mengalami kemakmuran, yaitu ketika perdagangan, kejuruan dan seni kebudayaan berkembang, serta semua orang Jawa bisa membaca, menulis, dan berhitung. Maka di sekolahnya, Tan Malaka mengembangkan seni-tradisional — selain kejuruan.

Menurut Tan Malaka, sesaat sebelum berangkat ke pembuangannya di Belanda (24 Maret 1922), sekolah SI akan didirikan di dua belas tempat dengan rata-rata tiap sekolah memiliki 250 murid. Jika sebagian besar murid itu menjadi komunis yang aktif, maka itu bisa menjadi dukungan yang hebat sekali untuk PKI yang hanya beranggotakan beberapa ratus orang. Pada Mei 1922, empat sekolah sudah berjalan —  di Semarang. Kaliwungu, Salatiga, dan Bandung. Sewaktu ditangkap di Bandung itu, selain untuk memimpin sekolah SI di kota ini, Tan Malaka bermaksud memulihkan kesehatannya yang terancam udara panas dan kerja keras di Semarang.

Boleh dikatakan, Tan Malaka sukses dengan sekolah-sekolah SI yang didirikannya. Pertama, karena masih terbatasnya bangku di HIS. Kedua, Tan Malaka amat berbakat di bidang organisasi ditambah pengetahuannya yang luas mengenai masalah-masalah pendidikan. Pada awalnya, ia menjadi satu-satunya guru di sekolah SI — guru-guru lulusan sekolah guru Hindia tidak mau bekerja pada sekolah Tan Malaka karena gajinya rendah. Untuk mendapatkan guru, Tan Malaka mulai mendirikan sendiri sekolah guru.

Selain menjadi seorang tokoh pendidikan, Tan Malaka juga merupakan seorang pemimpin politik. Hanya, di tengah-tengah pendirian sekolah SI-nya itu, situasi politik di Tanah Air tidak menguntungkan. SI sedang dilanda perpecahan yang parah antara kubu Semarang (Semaun)  dan kubu Yogyakarta di bawah pimpinan Agus Salim dan Abdul Muis. Kedua yang terakhir ini memperkenalkan “disiplin partai” sehingga tidak dimungkinkan lagi keanggotaan ganda dalam partai Serekat Islam dan PKI. Seperti pemimpin SI Tjokroaminoto, Tan Malaka juga berusaha agar dua kekuatan itu bersatu. Ia misalnya, berusaha menghapus cap anti-Islam pada PKI dan khususnya pada dirinya menyusul resolusi Komintern terhadap Pan-Islamisme. Karena itu, ia juga terlibat dalam aksi “Komite Haji”, yang menuntut sejumlah peraturan pemerintah mengenai haji diubah. Ia juga tidak bosan-bosannya berseru agar para pemimpin dari kedua pihak menghentikan serangan-serangannya.

Dalam kongres PKI di Semarang. Desember 1921, Tan Malaka — yang menggantikan Semaun yang berangkat ke luar negeri — juga mengundang pucuk pimpinan SI. Pada kesempatan itu, Tan Malaka menyampaikan pidatonya mengenai rasa persatuan. Tapi seperti sudah diduga, kemudian terjadi lagi pertengkaran antara para pembicara dari kedua partai. “Untungnya”, kata Tan Malaka, “Haji Hadikusumo, pemimpin Muhammadiyah, cepat maju ke depan dan menyatakan setuju dengan pidato saya.”  Pada akhir pidatonya, menurut Tan Malaka, Ki Bagus berani menyampaikan,  “Barangsiapa yang memecah-belah pergerakan rakyat, bukanlah seorang muslim sejati.” Adapun Tan Malaka, yang  buku-bukunya dilarang di zaman OrdeBaru,  sesungguhnya bukan komunis sejati. Bahkan ia membentuk PARI, partai politik baru yang akan dijadikan wahana untuk menyiapkan revolusinya. Tapi, revolusi pula rupanya yang memangsa Tan Malaka pada 1949

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda