Cakrawala

Islam dan Budaya Jawa (8) Jalan Dakwah Sunan Kalijaga

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Dari sekian banyak Suluk-Suluk Demak, yaitu suluk-suluk yang dibuat pada masa Kerajaan Islam Pertama, Demak Bintoro, ada satu suluk yang sampai sekarang masih populer dan banyak didendangkan masyarakat Jawa, yaitu sebuah suluk yang dipercaya sebagai ciptaan Sunan Kalijaga. Suluk ini dikenal dengan tiga nama, yakni (1). Serat atau Surat atau Kitab Kidungan Kawedar, (2) Kidung Sarira Ayu, sesuai dengan bunyi teks dalam bait ketiga, (3) Kidung Rumeksa Ing Wengi, sesuai bunyi teks diawal Surat, sebagaimana kita lazim menyebut Surat Al Ikhlas dengan nama Surat Qulhu atau Surat Al Insyiraah dengan Surat Alam Nasyrah. Ada pun saya sendiri sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di daerah Pantai Utara Jawa Tengah, sudah terbiasa menyebut Kidung Kawedar.

Suluk  ini merupakan kidung yang sangat populer bagi grup-grup karawitan atau seni gamelan Jawa, dan lebih khusus lagi bagi grup-grup tembang Jawa (macapatan), tidak peduli apatah anggota  grup muslim atau bukan. Kidung ini dahulu sangat dipercaya sebagai mantera penolak bala sekaligus membentuk diri agar menjadi manusia yang dikasihi Gusti Allah, yaitu manusia yang memiliki jiwa nan mulia. Untuk menghayati kandungan suluk dan sukses mencapai maqam yang seperti itu, dahulu kala kita harus melakukan puasa mutih, yaitu tirakat atau berpantang segala macam makanan kecuali nasi putih, air putih dan buah-buahan segar selama 40 hari – 40 malam tanpa jeda. Di tengah malam selama periode tirakat, kita diwajibkan mendendangkan Suluk secara lembut sambil meresapi maknanya, selanjutnya dianjurkan tidur namun harus bangun kembali di waktu subuh guna menjalankan salat Subuh.

Sebagai murid Sunan Bonang yang menjadi inti gerakan dakwah Islam Abangan, yang berdakwah secara halus tanpa menimbulkan gejolak sosial, menyusup dalam adat budaya masyarakat Jawa waktu itu, suluk dan berbagai ajaran Sunan Kalijaga, menanamkan  pemahaman keislaman, keesaan serta kekuasaan Gusti Allah, para malaikat, para nabi serta  keluarga dan sahabat Kanjeng Nabi Muhammad, yang tentu saja bercampur dengan nilai-nilai adat budaya lama termasuk agama Syiwa (Hindu) – Budha. Oleh sebab itu dalam memahaminya kita tidak boleh menelan mentah-mentah kalimat demi kalimat setiap  ajarannya, melainkan harus bisa memilah-milah, bahkan harus berusaha melakukan pencerahan sebagaimana yang diharapkan oleh beliau-beliau para Kanjeng Sunan. (lihat tulisan: “Tonggak-Tonggak Awal Tasawuf di Jawa”).

Bagi para pecinta seni budaya yang pada umumnya berperasaan lembut,  Suluk Kidung Kawedar yang didendangkan dengan irama tembang Dandanggula, terdengar dan terasa sangat meditatif dan kontemplatif. Lebih-lebih bila didendangkan di keheningan malam. Sayang sekali pada bulan Februari 2012 yang lalu, tatkala saya memenuhi undangan haul atau peringatan wafat seorang ulama di Demak, yaitu almarhum Kyai Abu Sujak Arruslani, ayahanda dari Kyai Hambali – Lasem, kerinduan saya untuk mendengarkan berbagai aneka tembang dakwah para Wali di daerah asal atau pusat kegiatannya itu, tidak terpenuhi. Dalam peringatan  yang digelar hampir sehari-semalam, bahkan dalam acara shalawatan yang berlangsung lebih dari dua jam non stop – medley – yang terdengar adalah irama musik padang pasir yang gemuruh, dengan tembang-tembang shalawat yang sepenuhnya berbahasa Arab (sebagian sudah popular di acara-acara televisi), kecuali empat lagu pujian, satu diantaranya Syi’iran Hadrotus Gus Dur (Gus Dur, Abdurahman Wahid, mantan Presiden RI).

Ironis sekali, tatkala dewasa ini para mubalig Islam kurang mempedulikan lagi tembang-tembang, media dan sarana dakwah para Wali pendahulu yang telah berhasil mengislamkan pulau Jawa, saudara kita kaum Nasrani justru melestarikan serta memanfaatkannya. Beberapa waktu yang lalu ketika melayat seorang anggota keluarga yang wafat di Yogyakarta, dari pengeras suara saya mendengar sayup-sayu tembang dakwah ciptaan Sunan Kalijaga yang lain, yakni Suluk Singgah-Singgah, dengan teks puji-pujian sesuai agama Nasrani. Masya Allah.

Kidung Kawedar terdiri dari 46 (empat puluh enam) bait. Berikut ini saya kutipkan 3 (tiga) bait dalam bahasa Jawa dan terjemahan bebasnya sebagai berikut:

Bait 1:

Ana kidung rumeksa ing wengi

teguh ayu luputa ing lara,

luputa bilahi kabeh,

jim setan datan purun,

paneluhan tan ana wani,

miwah penggawe ala,

guna ning wong luput,

geni temahan tirta,

maling adoh tan wani ngarah ing mami,

tuju duduk pan sirna.

Artinya:

Ada tembang pujian menjaga di kala malam,

membuat kita selamat dan jauh dari segala penyakit,

terbebas dari segala mara bahaya,

jin dan setan tidak berani,

guna-guna atau teluh tidak mempan,

juga perbuatan buruk,

dari orang-orang jahat,

api menjadi dingin bagaikan air,

pencuri menjauh tiada yang berani mengincar saya,

segala mara bahaya sirna.

Bait 3:

Pagupakaning warak sakalir,

yen winaca ing segara asat,

temahan rahayu kabeh,

sarwo sarira ayu,

ingideran ing widodari,

rineksa malaekat,

sakathahing rosul,

pan dadyo sarira tunggal,

ati Adam utekku Baginda Esis,

pangucapku ya Musa.

Artinya:

Di tempat badak berkubang,

maupun jika dibaca di lautan bisa membuat air laut surut,

membuat kita semua selamat sejahtera,

diri kita menjadi serba cantik (elok),

di kelilingi para bidadari,

dijaga oleh para malaikat,

dan semua  rasul,

pada hakekatnya sudah menyatu dalam diri kita,

di hati kita ada Nabi Adam, di otak kita ada Baginda Sis,

jika berucap bagaikan ucapan Nabi Musa.

 Bait 4:

Napasku Nabi Ngisa linuwih.

Nabi Yakub pamiyarsaning wang,

Yusup ing rupaku mangke,

Nabi Dawud swaraku,

Jeng Suleman kasekten mami,

Nabi Ibrahim nyawa,

Idris ing rambutku,

Bagendha Ali kulit ing wang,

Getih daging Abubakar Ngumar Singgih,

Balung Bagendha Ngusman.

Artinya:

Nafasku Nabi Isa,

Pendengaranku Nabi Yakub,

Wajahku Nabi Yusuf,

Nabi Dawud suaraku,

Kesaktianku Nabi Suleman,

Nabi Ibrahim nyawaku,

Nabi Idris dalam rambutku,

Baginda (Khalifah) Ali kulitku,

Darah – daging, Khalifah Abubakar dan Umar,

Tulangku Khalifah Usman.

Demikianlah Sahabatku,  tulisan pendek tentang Suluk Kidung Kawedar atau Kidung Sarira Ayu, yang pada hemat saya mengandung dua makna utama. Pertama, kidung yang penuh dengan tamzil dan perumpamaan ini, memperkenalkan Islam secara bertahap. Kedua, merupakan jalan untuk menyatu dengan Gusti Allah, Sang Guru Sejati. Kidung ini bisa menjadi wahana untuk senantiasa mengingat dan menyatu dengan Gusti Alah (dzikrullah), antara lain dengan membiasakan mendendangkannya di tengah malam serta kapan saja mengikuti setiap tarikan nafas kita. Tafsir lengkap mengenai Kidung ini dapat dibaca di buku  “ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA. Tafsir Suluk Kidung Kawedar,”  Penerbit Pustaka IIMaN.

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda