Tasawuf

Allah Selalu Ingat Saya

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikan, bagi siapa saja yang memperbanyak istigfar, setiap kesedihan ada kelonggaran dan setiap kesulitan ada jalan keluar. Dan Allah akan memberikan rezeki kepadanya tanpa diduga dari mana asalnya.” (H.r. Abu Dawud dan Nasa’i).

“Allah selalu ingat saya.”

“Bagaimana kamu tahu? Ah kamu sok saja.”

“Saya serius . Dan bagiku itu mudah saja. Juga bagi kamu.”

“Aku? Bagaimana aku tahu?”

“Kalau kamu ingat  Allah, Allah pasti mengingatmu”.

Lupa saya, kitab apa yag memuat pembicaraan tersebut, juga siapa yang melakukannya. Tapi hampir dipastikan, itu menyangkut bab zikir. Dan memang ada firman: “Zikirlah kepadaku, niscaya Aku  akan zikir kepadamu.” (Q. 2:152). Di kalangan orang tasawuf, zikir atau mengingat Allah, punya kedudukan sentral. Bahkan boleh dikatakan hampir seluruh hidup seorang salik digunakan untuk berzikir, berzikir, dan berzikir. Zikir bukan sekadar metode pembebasan diri dari kecintaan akan dunia, tapi bisa dinikmati kelezatannya. Ekstase.

Adapun di kalangan awam, zikir, seperti tasbih, tahmid, dan takbir, masing-masing 33 kali sesudah shalat, diyakini bakal menghapus dosa,  sebanyak buih di lautan sekalipun. Sebuah sabda juga mengatakan, “Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikan, bagi siapa saja yang memperbanyak istigfar, setiap kesedihan ada kelonggaran dan setiap kesulitan ada jalan keluar. Dan Allah akan memberikan rezeki kepadanya tanpa diduga dari mana asalnya.” (H.r. Abu Dawud dan Nasa’i).

Tapi mungkin Anda pernah mendengar kisah Ahmad al-Aswad dan Abu Ishaq alias Ibrahim al-Khawwas, para sufi seangkatan dengan Al-Junaid al-Baghdadi. Suatu hari mereka mengadakan perjalanan, dan tiba di suatu tempat untuk beristirahat. Ketika malam tiba dan udara menjadi dingin, cerita Ahmad, mereka melihat banyak ular berkeliaran. Dia berteriak kepada Ibrahim agar hati-hati, yang kemudian dijawab: “Zikirlah kepadaAllah.” Ahmad berzikir. Dan ular-ular pun menjauh.

Tapi ular-ular itu kembali lagi, dan Ahmad kembali berteriak, dan Ibrahim kembali menyuruh zikir. Begitu seterusnya sampai akhirnya mereka tertidur. Pagi, sewaktu mereka bangkit, hendak meneruskan perjalanan, tiba-tiba seekor ular besar jatuh dari gulungan kasur Ibrahim. “Kiranya, semalam ular itu telah tidur  bergulung berama beliau,” ujar Al-Aswad.

“Apakah Anda tidak merasakah kehadiran ular itu?” tanya Al-Aswad.

“Tidak. Sudah lama aku tidak merasakan tidur nyenyak seperti tidurku semalam,” kata Ibrahim.

Zikir dan Tafakur  

Yang dekat atau malah sering disamakan  dengan zikir adalah tafakur.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta penggantian siang dan malam, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk dan berbaring, dan bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi. Tuhan kami, tidaklah Engkau jadikan (semua) ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami ari azab neraka.’ (Q. 3:191).

Seseorang bertanya kepada Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq.

“Manakah yang lebih utama, zikir atau tafakur?”

“Kamu sendiri  lebih berkenan yang mana?” Abu Ali balik bertanya.

“Menurutku zikir lebih utama. Sebab Allah menyifati dirinya dengan Dzikr,” jawab Abu Abdirrahan. Orang tadi. Abu Ali setuju.Boleh kita tambahkan, zikir menjadi lebih utama bila kita melakukannya setelah tafakur. Dan dari kegiatan merenungi ciptaan Allah itu, kita akan memetik banyak hkmah, seperti diungkapkan imam Ghazali dalam kitabnya Al-Hikmah fi Mahkluqatillah ‘Azza wa Jalla.  Kata dia, jika memikirkan alam ini dan merenungkannya, kita akan menemukannya seperti sebentuk bangunan rumah, yang di dalamnya disediakan segala yang kita butuhkan. “Langit ditinggikan sebagai atap, bumi digelar sebagai alas, bintang-bintang terpasang sebagai lampu, mutiara-mutiara tersimpan sebagaimana layaknya benda-benda simpanan. Semuanya itu disediakan dan disiapkan sesuai dengan kedudukan dan fungsinya.” Allahu akbar

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda