Mutiara

Orang Batak di Masjidil Haram

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Ulama Mandailing ini lebih masyhur di Mekah dan Malaysia ketimbang di negerinya sendiri. Menapa dia menolak permintaan Soekarno dan Raja Saudi?

Syekh Abdul Qadir bin Abdul Muthalib bin Hasan Al-Andunisi Al-Mandili rupanya lebih terkenal di Mekah dan Malaysia serta Pattani (Thailand Selatan) ketimbang di tanah kelahirannya sendiri, Indonesia. Padahal di belakang namanya ia mencantumkan al-Andunisi al-Mandili, yang berarti bahwa dia berasal dari Indonesia kelahiran Mandailing. Bisa dimaklumi, sebab puluhan tahun ulama kita ini mengajar di Masjidil Haram. Tapi mengapa dia begitu masyhur di tanah Semenanjung? Rupanya, selain pernah berguru  selama puluhan tahun di sana, beberapa tahun, kitab-kitab yang ditulis Syekh Abdul QadirAl-Mandili dalam bahasa Melayu, sekarang banyak beredar di Malaysia dan Pattani. Maka, tak heran jika buku biografinya pun ditulis oleh para munsyi dan sarjana dari negeri Jiran itu.   Hampir 30 tahun Syekh Abdul Qadir al-Mandili  menjadi guru di Masjidil Haram. Di antara kegiatan mengajarnya itu, ia memang  pernah diminta untuk mengajar (agama Islam) di Cape Town, Afrika Selatan, diminta Presiden Soekarno menjadi mufti, bahkan ditawari jabatan  Qadi al-Quddah,  dengan gaji besar tentu saja, oleh Raja Saudi. Tetapi, permintaan itu ia tolak,  karena lebih terpanggil untuk mengajar di Masjidil Haram.  Berkat sikap dan kesetiaannya itu, ia pun mendapat julukan Khuwaidam Thalabah al-Ilmi asy-Syarif bil-Harami al-Makki (Khadam Kecil bagi Penuntut Ilmu di Masjidil Haram Mekah).

Abdul Qadir Al-Mandili  lahir pada 1900 di Desa Sigalapang, Panyabungan, Kabupaten Mandailing-Natal, Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga petani miskin. Ia  anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak kecil ia diasuh oleh kakeknya. Pada masa kanak-kanak ia merupakan anak yang aktif, berani, lasak dan nakal di kampungnya. Di dalam karya-karyanya selalu dipakai kata “Al-Mandili” yang merupakan nisbah kepada suku, yaitu Mandailing.

Pendidikannya berawal di Sekolah Belanda pada 1917 dan lulus derajat lima pada 1923. Pada 1924  ia pergi ke Kedah, Malaysia,  untuk mendalami ilmu agama. Di sini ia belajar kepada Tuan Guru Haji Bakar Tobiar  di Pondok Panjang Rong. Dari gurunya ini kemudian ia mampu membaca dan menulis Arab dengan baik. Setelah menguasai beberapa ajaran Islam kemudian ia pindah ke Pondok Air Hitam untuk lebih mendalami agama Islam. Di pondok ini ia belajar kepada Tuan Haji Idris, yang  juga berasal dari Sumatera Utara, keturunan Mandailing. Pada 1926  ia masuk Madrasah Darul Saadah Al-Islamiyah (Pondok Titi Gajah) berguru kepada Tuan Guru Haji Ibrahim Bin Abdul Kadir yang lebih dikenal dengan Pak Chu Him (1894-1968). Ia berguru dengan Pak Chu Him selama 10 tahun sehingga diterima sebagai guru pembantu di pondok ini sekitar tahun 1934. Dari gurunya ini ia belajar tentang tasawuf, fikih, ushuluddin dan sastra Arab.

Setelah 10 tahun di Titi Gajah, ia bertolak ke Mekah dan berguru dengan beberapa ulama besar di sana, sehingga dia pun menjadi seorang alim sehingga mendapat izin untuk mengajar di Masjidil Haram. Selain itu, dia juga dikenal sebagai penulis buku-buku Islam yang produktif. Setidaknya ada 24 karya yang pernah ia tulis, di antaranya: Senjata Tok Haji dan Tok Lebai; Persediaan Tuan Khatib; Pembantu Sekalian Orang Islam dengan Harus Membaca Qur’an dan Sampai Pahalanya Kepada Sekalian yang Mati (terjemah dari Is’af al-Muslimin wa al-Muslimat bi Jawaz al-Qira’ah wa Wusul Thawabiha ila al-Amwat karangan Ibnu Arabi); Al-Khaza’in al-Saniyyah min Mashahir al-Kutub al-Fiqhiyyah li A’immatina al-Fuqaha al-Shafi’iyyah; Al-Asad al-Mu’ar li Qatl al-Tais al-Musta’r; Pemberian yang Bagus Lagi Indah atau Hukum Ihram dari Jeddah; Petunjuk Bagi Umat (terjemahan dari karya al-Hafiz Ibn Mulqan); Bakal Orang Yang Menunaikan Haji; Risalah Pada Menerangkan Makna Sabililllah Yang Mustahiq Akan Zakat; Sinar Matahari Buat Penyuluh Kesilapan Abu Bakar al-Ashari; Al-Mazhab atau Tiada Haram Bermazhab; Beberapa Mutiara yang Bagus lagi Indah; Siyasah dan Lotre Serta Alim Ulama; Anak Kunci Surga; Perisai Bagi Sekelian MukallafIktikad Orang Yang Percaya Akan Quran Dengan Turunnya Isa Alaihissalam pada Akhir Zaman; Risalah Penolak Qadyani; Hadiah Bagi Pembaca Muslim; Penawar Bagi Hati; Menakutkan dan Meliarkan Daripada Memasukkan Orang Islam Anak-Anak Mereka Itu Ke Sekolah Orang Kafir (terjemah); Kebagusan Undang-Undang Islam dan Kecelaan Undang-Undang Manusia; Islam Agama dan Kedaulatan; Pendirian Agama Islam.

Salah satu pemikirannya yang menarik adalah tentang pemurnian jiwa. Ia berpendapat bahwa pemurnian jiwa harus dimulai dengan pengenalan terhadap hati itu sendiri. Harus diketahui antara yang mahmudah (terpuji) dan mazmumah (tercela). Menurutnya, ada sepuluh sifat mazmumah yang menjadi puncak segala penyakit hati, yaitu, kebanyakan makan; banyak berkata-kata, marah, dengki, pelit, cinta dunia, takabur, ujub dan riya. Menurut dia, orang yang memiliki sifat ini harus segera disingkirkan dengan berpuasa atau menahan lapar, karena akan menjadi puncak segala kerakusan nafsu syahwat, cinta dunia, riya’, takabur,  hasad dan dengki. Syekh  Abdul Qadir Al-Mandili wafat di Mekah pada  20 Rabiul Awal, 1385 H/1965 M dalam usia 65 tahun. Ia ditengarai kakinya terkena semacam tumor, tapi ia menolak untuk dioperasi. Ketika Tim Kesehatan Haji Indonesia menyarankan agar dia berobat di Indonesia, ia bersedia. Namun, setelah ia mengetahui bahwa di Indonesia dia akan menjalani operasi, tawaran itu akhirnya ia tolak.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda