Cakrawala

Islam dan Budaya Jawa (7) Fana’ Ruh Idafi dan Suluk-Suluk Sunan Bonang

Ditulis oleh B.Wiwoho

Dalam suluk Gentur yang kita bahas sebelumnya, Sunan Bonang juga menyatakan bahwa pencapaian tertinggi seorang penempuh ialah fana’ ruh idafi, yaitu keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir, yang di dalamnya kesadaran intuitif atau makrifat menyempurnakan penglihatannya tentang Allah, sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal. Dalam fana’ ruh idafi seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat Al Qur’an 28:88,”Segala sesuatu binasa kecuali Wajah-Nya (Allah)”

Gita Suluk Wali, merupakan untaian puisi-puisi yang memikat . Dipaparkan bahwa  hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu bagaikan laut pasang yang menghanyutkan, atau seperti api yang membakar sesuatu sampai hangus. Untaian puisi ini diakhiri dengan pepatah sufi “ Qalb al mukmin bait Allah, hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan”. Subhanallah.

Suluk Jebeng, ditulis dalam tembang Dandanggula yang merdu, dan dimulai dengan perbincangan  mengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, dan dicipta menyerupai gambaran-Nya. Hakekat diri  yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku  dan amal perbuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculannya tidak mudah diketahui.

Jebeng adalah panggilan seseorang yang dituakan kepada seseorang yang masih muda belia dan sedang menuntut ilmu. Berikut ini beberapa bait ajaran Suluk Jebeng:

Puncak ilmu yang sempurna
seperti api berkobar
hanya bara dan nyalanya
hanya kilatan cahaya
hanya asapnya kelihatan
ketahuilah wujud sebelum api menyala
dan sesudah api padam
karena serba diliputi rahasia
adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?
 
Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
berlindunglah semata kepada-Nya
ketahui, rumah jasad sebenarnya ialah ruh
jangan bertanya
jangan memuja nabi dan wali-wal
jangan mengaku Tuhan
jangan mengaku tidak ada padahal ada
sebaiknya diam
jangan sampai digoncang
oleh kebingungan
 
Pencapaian sempurna
bagaikan orang yang sedang tidur
dengan seorang perempuan, kala bercinta
mereka karam dalam asyik,
terlena hanyut dalam berahi
anakku, terimalah
dan pahami dengan baik
ilmu ini memang sukar dicerna”.

Suluk Wujil. Diantara sejumlah suluk Sunan Bonang, yang paling dikenal ialah Suluk Wujil. Wujil adalah nama dari salah seorang cantrik Sunan Bonang. Suluk ini benar-benar menggambakan suasana peralihan zaman Hindu ke Islam, dan sekarang naskahnya sudah berada kembali di Indonesia serta disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta.

Sebagai karya zaman peralihan, pentingnya karya Sunan Bonang ini tampak dalam hal-hal seperti berikut:

Pertama, menggambarkan suasana kehidupan budaya, intelektual dan keagamaan di Jawa pada akhir abad ke-15, yang sedang beralih  kepercayaan dari Hindu ke Islam. Di arena politik, peralihan itu ditandai dengan runtuhnya Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa, dan berdirinya Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama. Di lapangan sastra, peralihan itu dapat dilihat dari berhentinya kegiatan sastra Jawa Kuno setelah penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung meninggal dunia pada pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat  Bahasa sastra secara bertahap bergeser, dan muncul bahasa Jawa Madya atau Tengahan. Sunan Bonang tidak sertamerta meninggalkan suasana dan sastra Jawa Kuno, melainkan melakukan perubahan secara bertahap, sehingga kehadiran karya-karyanya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai suatu  kesinambungan. Bukankah ini sungguh luar biasa, seseorang yang bukan asli Jawa, memahami, menghargai serta menghayati sastra dan budaya Jawa secara total, bahkan menjadi pondasi kebudayaan Jawa Madya yang terus berkembang menjadi seperti sekarang.

Kedua, Suluk Wujil merupakan perenungan tentang masalah hakiki di sekitar  wujud dan rahasia terdalam ajaran agama, memuaskan dahaga kaum terpelajar Jawa yang pada umumnya menyukai mistisme atau metafisika, dan seluk-beluk  ajaran keruhanian. Suluk ini dimulai dengan pertanyaan metafisik yang esensial dan menggoda sepanjang zaman, di Timur maupun Barat.

Mengingat kebiasaan-kebiasaan membaca naskah di jejaring sosial terutama yang menggunakan telpon genggam, berikut ini kami kutipkan 4 (empat) bait saja terjemahan Suluk Wujil sebagai berikut:

Ingatlah Wujil, waspadalah
hidup di dunia ini
jangan ceroboh dan gegabah
sadarilah dirimu
bukan yang Haq
dan yang Haq bukan dirimu
orang yang mengenal dirinya
akan mengenal Tuhan
asal-usul semua kejadian
inilah jalan makrifat sejati (bait 11).
 
Oleh karena itu, Wujil, kenali dirimu
kenali dirimu yang sejati
ingkari benda
agar nafsumu tidur terlena
dia yang mengenal diri
nafsunya akan terkendali
dan terlindungi dari jalan
sesat dan kebingungan
kenal diri, tahu kelemahan diri
selalu awas terhadap tindak tanduknya (bait 22).
 
Bila kau mengenal dirimu
kau akan mengenal Tuhanmu
orang yang mengenal Tuhan
bicara tidak sembarangan
ada yang menempuh jalan panjang
dan penuh kesukaran
sebelum akhirnya menemukan dirinya
dia tak pernah membiarkan dirinya
sesat di jalan kesalahan
jalan yang ditempuhnya benar (bait 23).
 
Orang berilmu
beribadah tanpa kenal waktu
seluruh gerak hidupnya
ialah beribadah
diamnya, bicaranya
dan tindak tanduknya
malahan getaran bulu roma tubuhnya
seluruh anggota badannya
digerakkan untuk beribadah
inilah kemauan murni (bait 39).
 
Demikianlah, sedikit pengantar untuk mengenal Sunan Bonang dan ajaran-ajaran tasawuf Jawanya. Semoga beliau bahagia di sisi-Nya, melihat kita mengkaji dengan rendah hati, hakikat tuntunannya. Amin.. Bersambung (Dari kumpulan tulisan B.Wiwoho : Orang Jawa Belajar Mengenal Gusti Allah).

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda