Haji 1440H

Pesan Ibrahim kepada Ismail

Kabah dan Hijr Ismail (foto : Glady/Pixabay)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Dua orang nabi, anak-beranak, menjadi contoh ketundukan yang tiada taranya kepada Allah Ta’ala. Pembangunan Ka’bah didahului berbagai cobaan, termasuk pengasingan istri dan anak dan perintah penyembelihan. 

“Setahu saya, di daerah ini tidak ada air,” kata ketua rombongan. “Tapi cobalah dua orang pergi ke sana.” Saudagar dari Yaman itu rupanya penasaran. Maklumlah, selama pulang pergi Yaman-Syam baru kali ini ia melihat burung berterbangan di lembah itu.

“Benar, Bos!  Di sana ada mata air!” kedua pesuruh itu kembali melapor. “Dan bukan hanya itu.”

“Bukan hanya apa?”

 “Ada seorang bocah beserta ibunya.”

Kafilah dari suku Jurhum itu bergegas ke lembah. Karena kendala bahasa, mereka bercakap dengan isyarat. Ibu muda itu mengizinkan Arab-arab Yaman tadi beristirahat di situ, dan tentu saja memanfaatkan air mereka. Imbalannya, mereka mendapat pakaian dan makanan. Maka, dari hanya dua orang penghuni, lembah itu kemudian berkembang menjadi perkampungan. (Kampung kecil berkembang menjadi kota dan kota besar dan modern yang dikunjungi jutaan kaum muslim sepanjang waktu).  Dan ketika sudah berumur, bocah tadi kawin dengan seorang anak perempuan mantan kafilah tersebut. Bocah itu Isma’il namanya. Kelak ia seorang nabi.

Syahdan, lantaran suatu perkara di antara Sarah dan Hajar, Nabi Ibrahim bermaksud mengasingkan istrinya yang kedua itu. Inilah awal cerita. Sarah adalah istri pertama Ibrahim, sedangkan Hajar, yang berasal dari Nubia, setelah selatan Mesir (dan berkulit hitam-cokelat — orang Arab menyebutnya merah), dulunya gadis budak yang dihadiahkan Fir’aun dan dikawini Ibrahim atas anjuran Sarah yang waktu itu mandul. (Belakangan, setelah kelahiran Isma’il, Sarah akan melahirkan Ishaq). Mereka dijemput Jibril yang datang dengan burak. Bocah Isma’il, buah perkawinan Ibrahim-Hajar, dibawa.

Kampung demi kampung mereka lewati. Tapi setiap kali Ibrahim menanyakan, kampung mana yang akan ditempati, Jibril selalu menjawab, “bukan kampung ini” yang dimaksudkan Allah.

Sampai kemudian mereka tiba di satu lembah yang biasa mendapat kiriman air bah dari bukit-bukit sekitar. Tidak berpenduduk. Tidak ada pepohonan. Hanya kadang-kadang terlihat semak belukar.

“Bapak akan meninggalkan kami di sini? Tanpa air? Tanpa makanan?” tanya Hajar kepada Ibrahim, ketika dilihatnya suaminya siap pergi.

Tapi Ibrahim terus beranjak pergi. Barulah ketika Hajar mengejarnya dan bertanya berulang-ulang, “Apakah Allah Ta’ala menyuruh Bapak berbuat demikian?” Ibrahim menjawab, “Sungguh Allah menyuruh aku berbuat demikian.”

“O, kalau memang demikian, tidak apa. Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami”

Ibrahim terus berjalan tanpa mampu menoleh. Sampai ia tiba di bukit bernama Kida’. Ia berhenti. Lalu berdoa, seperti disebut dalam Quran : “Tuhan, sudah kutempatkan sebagian keluargaku, di lembah tanpa tanaman, di dekat bait-Mu yang suci.”          

Adapun Hajar, lama-lama tipis pula perbekalannya. Air susunya kering, sementara Ismail terus merengek kehausan. Hajar lari ke bukit Safa. Tak ada air. Ke bukit Marwah. Tak ada air. Kembali ke Safa. Balik lagi ke Marwa. Sampai tujuh kali— sampai ia seperti mendengar, sayup-sayup, suara air di daerah dekat anaknya. Bagai mendapat tenaga ekstra ibu ini lari – dan benar: air muncrat dekat si orok yang sedang duduk. “Zummi Zummi,” Hajar berkata, menyuruh air berkumpul,membendungnya, agar tidak melebar kemana-mana. Itulah awal hidup yang baru.

Bendul Pintu

Akan hal Ibrahim, beliau baru  kembali menjenguk  keluarganya setelah  Isma’il berangkat dewasa, untuk melaksanakan perintah penyembelihan (kurban) yang sedih tapi berakhir dengan bahagia itu. Pada kunjungan yang lain, Ismail sudah seorang suami. Hajar sudah lama wafat — dan dikuburkan di tempat yang disebut Hijr Isma’il; artinya “pangkuan Isma’il”, yakni Hajar. Ibrahim hanya bertemu menantunya, seorang perempuan tidak senang melihat kedatangannya. “Isma’il sedang berburu,”katanya

“Saya ingin tahu keadaan kalian.”

“Keadaan kami? Wah, hidup kami sangat susah. Tidak pernah tidak kekurangan.”

Sebelum  pergi, orang tua itu berpesan agar salamnya disampaikan kepada suaminya. “Dan agar suamimu mengganti bendul  pintunya”

“Itulah ayahku, Ibrahim,” kata Isma’il, mendengar laporan istrinya. “Beliau berpesan agar aku menceraikan kamu.”

Pada kedatangan Ibrahim yang kedua, Isma’il juga sedang tidak di rumah. Hanya, kali ini ia disambut ramah oleh nyonya rumah — yang rupanya istri yang dikawininya setelah perceraian, yang juga perempuan Jurhum. Si istri menyatakan bersyukur, dan kelihatan ridha kepada Allah Ta’ala, meski hidup mereka tampak kesempitan. Nabi Ibrahim pun berdoa agar diluaskan rezeki mereka, agar dicukupi makan-minum keluarga itu. Dan sebelum pergi, orang tua itu titip salam buat Isma’il, bersama pesan untuk tidak mengubah lagi bendul pintunya itu. Ismail pun paham, dan menerangkan artinya kepada si istri.

Baru pada kunjungan ketiga Ibrahim bertemu dengan putranya. Di situ sang nabi menuturkan, ia kembali menerima perintah Allah untuk melaksanakan tugas suci. Dan seperti yang sudah-sudah, Isma’il, yang belakangan juga menjadi nabi, menyatakan siap melaksanakan perintah apa pun. “Allah menyuruh aku membangun Bait di tempat ini,” kata Ibrahim, seraya menunjuk anak bukit kecil di sisi telaga Zamzam. Itu bukan pembangunan pertama. Sudah ada sisa-sisa fondasi Bait yang pertama, yang dalam hadis-hadis dinyatakan sebagai peninggalan Nabi Adam. Itulah Baitullah Ka’bah, yang setiap Dzulhijjah menjadi tempat berhimpunnya jutaan umat muslimin sedunia.  Labbaik, Allahumma Labbaik!

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda