Haji 1440H

Haji Yang Mabrur

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha kaya dari semesta alam. {Q.S. Ali Imran:97]

Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sertakanlah ibadah haji dan umrah, karena keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan semua dosa, sebagaimana hembusan api tukang besi yang dapat menyirnakan kotoran besi, emas dan perak. Dan bukannya ibadah haji mabrur itu tanpa pahala, melainkan diberi pahala surga.” (H.R. Tirmidzi, Ibn Huzaimah, dan Ibn Hibban).

Kita ketahui, ibadah haji yang difardukan oleh Allah SWT pada tahun ke-6 Hijriah, merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Setiap muslim tentu menginginkan untuk melaksanakan ibadah haji, tetapi tidak semua bisa menunaikannya. Oleh karena itu, rukun Islam yang ke-5 ini hanya dibebankan kepada mereka yang mampu, yaitu satu kali selama hidup. Maka, sungguh beruntung mereka yang dapat melaksanakan ibadah haji, karena telah memenuhi panggilan Allah SWT.

Allah berfirman: “Beritahukanlah kepada umat manusia supaya mengerjakan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai unta dari segala penjuru negeri yang jauh-jauh. Supaya mereka menyaksikan kemanfaatan-kemanfaatan dan menyebut-nyebut nama Allah di dalam beberapa hari yang ditentukan (sebagai ucapan terima kasih) atas rizki yang telah dilimpahkan kepada mereka berupa binatang-binatang ternak, maka makanlah dagingnya dan berikan makan pulalah orang-orang yang sengsara dan fakir miskin. Dan hendaklah mereka membersihkan diri dari segala nadzar mereka, dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekililing Baitul Atiq.” (Q.S. Al-Hajj: 27-29).

Ayat di atas selain menegaskan wajibnya hukum haji bagi setiap  muslim, juga menyatakan manfaat-manfaat yang akan diperoleh oleh orang yang melaksanakan kewajiban tersebut, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Orang-orang yang memperoleh berbagai kemanfaatan dari haji itulah yang disebut “haji mabrur”. Maka, alangkah rugi seorang muslim yang seharusnya mampu menunaikan ibadah haji tetapi tidak melakukannya, karena dia tidak akan beroleh kemanfaatan dan kenikmatan dari ibadah ini. Namun demikian, manfaat-manfaat ibadah haji itu tidak hanya dirasakan oleh  individu-individu, tetapi juga berdampak secara sosial.

Manfaat Haji

Dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, ibadah haji memerlukan kesiapan fisik, mental, kesediaan bekal termasuk untuk keluarga yang ditinggalkan, dan waktu yang relatif panjang. Oleh karena itu, ibadah ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang  yang memiliki keberanian untuk menghadapi kesulitan, dan kerelaan untuk mengorbankan harta, dalam rangka mencapai satu tujuan yaitu ridha Allah. Baginya, di dunia ini tidak ada yang lebih penting selain kecintaan kepada Allah, dan untuk itu dia rela mengorbankan apa yang dicintainya selama ini, seperti keluarga, harta benda, dan kesenangan-kesenangan yang bersifat duniawi lainnya. Itu manfaat yang pertama.

Yang kedua, ibadah haji itu membawa kecenderungan kepada kebajikan dan kesalehan. Sebelum berangkat, calon haji berupaya membersihkan diri dengan meminta maaf kepada orang-orang dimana dia pernah berbuat salah, meninggalkan sikap dan perbuatan-perbuatan yang tercela, serta memperbanyak amal ibadah. Dia seakan berlomba dengan waktu, karena khawatir tidak ada lagi hari esok baginya.

Ketiga, selama menjalankan rangkaian ibadah, mulai dari ihram, thawaf, sa’i, wuquf, melempar jumrah, dan sebagainya, seorang muslim melatih dirinya untuk menyucikan diri dari berbagai hawa nafsu, yang selama ini telah menguasai dirinya.

Keempat, dengan memakai kain ihram yang sederhana, layaknya seorang pertapa, yang berlaku untuk seluruh jamaah, tanpa memandang pangkat dan jabatan atau kedudukan sosial, seorang Muslim dilatih untuk memiliki sikap kerendah-hatian dan kesederhanaan. Dia harus membuang sifat sombongnya yang diakibatkan oleh kedudukan dan harta yang dimilikinya. Dia juga memiliki kesempatan untuk merenungkan pula hidupnya selama ini yang mungkin cenderung bermewah-mewah. Dengan merenungkan itu semua, maka dia akan memiliki empati, perhatian, welas asih, kepada mereka yang hidupnya papa dan sengsara. Apa arti pangkat, jabatan, dan harta baginya, selain dikhidmatkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak?

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda