Tasawuf

Jika Ingin Melawan Tuhan

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat, dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. Dari kisah yang dinukil Syekh Yusuf dalam pembuangannya di Srilangka.

Seorang laki-laki datang kepada Ibrahim. “Hai Syekh, semoga Allah merahmatimu,” katanya. “Saya ini seorang pencuri.”

“Mendekatlah, kau akan mendapatkannya. Dan sesudah mereka, berbuatlah sekehendakmu,” jawab Ibrahim

“Mereka? Saya tidak paham mereka yang Syekh maksudkan.”

“Yang pertama, jika kamu mau melawan Tuhan, janganlah makan rezeki-Nya.”

“Demi Tuhan, itu sangat sukar. Jika rezeki-Nya semua di laut, di darat, di gunung, dari mana saya makan?”

“Elokkah makan rezeki-Nya dan melawan-Nya?”

“Tidak.”

“Kedua, jika kamu ingin melawan Allah, jangan bertempat tinggal di negeri-Nya.”

“Demi Allah, itu lebih sukar dari yang pertama. Jika dunia ini kepunyaan-Nya, di mana saya tinggal?”

“Elokkah makan rezeki-Nya, tinggal di negerinya dan melawan-Nya? Sedang Ia melihat kamu?”

“Tidak. Kalau begitu Syekh, beri saya yang keempat.”

“Jika datang malaikat Maut mengambil ruhmu, kamu akan berkata, ‘Akhirilah kematian saya sampai bertaubat.’ Malaikat akan berkata, ‘Enak saja. Jika kamu tahu, mengapa tidak tobat dulu-dulu.’”

Laki-laki itu belum puas dan karena itu masih meminta opsi kelima.

“Baik,” kata Ibrahim. “Jika datang Mungkar dan Nakir, maka tolaklah.”

“Tidak ada kekuatan bagiku. Berilah Syekh, opsi yang lain.”

“Jika kamu berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan Allah memerintahkan memasukanmu ke neraka, berkatalah kepada Tuhan: ‘Jangan perintahkan mereka.”’

“Saya mohon ampun kepada Allah. Saya bertobat kepada-Nya.”

Syekh Yusuf mengutip kisah itu dari kitab Zaadatul Musaafirin (Perbekalan para Pengelana) dalam salah satu risalahnya, An-Nafhatus Sailaniah (Embusan dari Ceylon). Syekh Yusuf Makasar yang lama tinggal di banten ini menulis lebih dari 20 karangan terutama tentang tasawuf. Salah satunya yang dari Srilangka alias Ceylon itu. Ditulis memenuhi keingan para jamaah dan sahabat, risalah ini memuat antara lain keharusan mempersatukan syariat dan hakikat. Misalnya mengutip pendapat guru-guru tasawuf yang menyatakan, “Siapa yang berilmu tetapi tidak bertasawuf, ia fasik. Siapa yang bertasawuf namun tidak berfikih, ia zindik.”

Syarat Tobat

Tobat (Taubah) dalam bahasa Arab, artinya kembali. Dia bertobat, berarti “dia kembali”. Jadi, jika seseorang bertobat, berarti dia kembali dari sesuatu yang dicela oleh ajaran agama menuju sesuatu yang dipuja olehnya. Rasulullah Saw bersabda, “Menyesali kesalahan merupakan suatu tobat.” (HR. Bukhari dan Ahmad).

Menurut jumhur ulama, ada tiga syarat diterimanya tobat seseorang. Pertama, menyesali perbuatan yang telah dilanggar. Kedua, meninggalkan secara langsung penyelewangan tersebut. Ketiga, memutuskan untuk tidak melakukan tindakan yang sama. Sedangkan menurut, Al-Junaid, selain menyesali dan meninggalkan kesalahan, tobat juga berarti membela orang-orang yang teraniaya.

Menurut Imam Qusyairi, cara tobat yang pertama ialah dengan dengan memisahkan diri dari orang yang berbuat jahat, karena mereka akan mendorong untuk mengingkari tujuan ini, dan keraguan atas kelurusan niat yang telah teguh. Dan hal ini tidak akan lengkap kecuali dibarengi keteguhan dalam bersyahadat, secara terus-menerus, dan dibarengi motif-motif yang mendorong yang mendorong pelaksanaan ketetapan dalam hati, yang darinya dapat memperkuat rasa khauf  (takut) dan raja’ (harap). Selanjutnya, tindakan-tindakan tercela yang membentuk simpul kebandelan dalam hati akan mengendur, ia akan menghentikan perbuatan-perbuatan yang terlarang, dan kendali diri akan terjaga dari memperturutkan hawa nafsu. Kemudian, ia harus segera meninggalkan dosanya dan ketetapan hati untuk tidak kembali ke dosa-dosa yang serupa di masa mendatang. Apabila terus bertindak sesuai dengan tujuan, selaras dengan kehendak-Nya , ini berarti bahwa ia tela dianugerahi rasa aman yang sebenarnya.

Tapi lebih jauh, tobat tidak hanya terbatas menyesali dan tidak mengulang suatu perbuatan dosa. Ia juga meliputi dari kealpaan, dan tobat dari kesadaran akan perbuatan baiknya sendiri.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda