Mutiara

Ahmad Shiddiq, Seni, Islam, dan Pancasila

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Rais Aam PBNU yang satu ini penggemar Michael Jackson. Apa pendapatnya tentang seni, dan hubungan Islam dengan Pancasila?

Kiai Ahmad Shiddiq adalah contoh langka dari kiai NU di abad ke-20 yang menyukai musik Barat. Dalam hal ini mungkin kita hanya menemukan pada sosok Gus Dur yang penggemar berat musik klasik Dua tokoh ini dalam satu periode pernah sama-sama duduk di pucuk pimpinan PBNU, Kiai Ahmad Siddik menjabat Rais Aam, sedangkan Gus Dus menduduki posisi Ketua Umum Tanfidziah. Ia memang punya  apresiasi yang tinggi terhadap seni, termasuk musik. Ia tidak hanya menyukai suara penyanyi legendaris Timur Tengah, Ummi Kultsum, tetapi juga penggemar musik rock dan pop. Salah satu biduan yang ia gemari adalah Michael Jackson. Kiai Ahmad Siddiq biasa berolah raga lari-lari di tempat diiringi lagu legenda pop dunia itu.

Dalam sebuah wawancara dia mengatakan, “Manusia itu memiliki rasa keindahan, dan seni sebagai salah satu jenis kegiatan manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaturan dan penilaian agama (Islam). Oleh karena itu, apresiasi seni hendaknya ditingkatkan mutunya. Apresiasi seni itu harus diutamakan mutu dari seni yang hanya mengandung keindahan menuju seni yang mengandung kesempurnaan, lalu menuju seni yang mengandung keagungan.”

Lahir di Jember, Jawa Timur, 24 Januari 1926. Namanya kadang ditulis Achmad Shiddiq atau Ahmad Shiddiq”. Nama kecilnya adalah Achmad Muhammad Hasan. Putra bungsu Kiai Shiddiq dari lbu Nyai H. Zaqiah (Nyai Maryam) binti KH Yusuf. Mula-mula ia belajar agama kepada ayahnya sendiri.  Dalam mendidik, Kiai Shiddiq terkenal sangat ketat (tegas) terutama dalam hal shalat. Ia wajibkan semua putranya shalat berjamaah lima waktu. Selain kepada ayahnya, Ahmad belajar kitab kepada kakaknya, Kiai Machfudz Shiddiq.

Ahmad meneruskan belajarnya ke Pesantren Tebureng, Jombang, di bawah asuhan KH Hasyim Asy’ari. Melihat kecerdasan Ahmad, Kiai Hasyim pun memberikan   kamar khusus untuknya. Ia ditempatkan bersama beberapa putra-kiai lainnya

Kiai Ahmad menikah dengan Nyai H. Sholihah binti Kiai Mujib, 23 Juni 1947,  dikaruniai 5 orang anak, yaitu: K.H Mohammad Farid Wajdi (Jember), Drs. H. Mohammad Rafiq Azmi (Jember), Hj. Fatati Nuriana (istri Mohammad Jufri Pegawai Pemda Jember), Mohammad Anis Fuaidi (wafat kecil), dan K.H Farich Fauzi (pengasuh pondok pesantren Al-Ishlah Kediri).

Tak Puas di Pemerintahan

Ketokohan Kiai Ahmad tampak di mata masyarakat sejak menyelesaikan belajar di pondok di Tebuireng. Semasa muda, aktif di GPII (Gabungan Pemuda Islam Indonesia) Jember. Karirnya di GPII melejit sampai di kepengurusan tingkat Jawa Timur, dan pada Pemilu 1955, Kiai Ahmad terpilih sebagai anggota DPRD Sementara Kabupaten  Jember.

Sebagai pemuda,  Ahmad juga ikut empertahankan kemerdekaan.. Ia bergabung dengan pasukan Mujahidin pada tahun 1947. Saat itu Belanda melakukan Agresi Militer yang pertama. Belanda merasa kesulitan membasmi pasukan ini  karena banyak anggotanya dari kalangan Kiai. Agresi tersebut kemudian menimbulkan kecaman internasional terhadap Belanda sehingga muncul perundingan Renville. Sebagai konsekuensi dari perjanjian Renville, maka para pejuang di daerah kantong (termasuk Jember) harus hijrah. Para pejuang dari Jember kebanyakan mengungsi ke Tulung Agung. Di sanalah Kiai Ahmad turut memfasilitasi keperluan para pejuang yang mengungsi tersebut.

Adapun keterlibatan  Ahmad Shiddiq dalam pemerintahan dimulai sebagai kepala KUA (Kantor Urusan Agama) di Situbondo. Saat itu Kementerian  Agama dipegang oleh tokoh-tokoh NU. Menteri Agama saat itu adalah KH Wahid Hasyim (NU). Dalam waktu singkat, Kiai Ahmad Shiddiq diangkat menjadi  kepala Kantor Wilayah Departemen Agama di Jawa Timur.

Di organisasi NU,  karier Kiai Ahmad bermula di Jember. Tak berapa lama, ia  aktif di kepengurusan tingkat wilayah Jawa Timur, sehingga di NU saat itu dikenal ada dua Bani Shiddiq yaitu: Kiai Ahmad dan Kiai Abdullah (kakaknya). Bahkan pada Konferensi NU wilayah berikutnya, pasangan kakak beradik tersebut dikesankan saling bersaing, dan selanjutnya Kiai Ahmad Shiddiq yang menjadi ketua wilayah NU Jawa Timur

Kiai Ahmad merasa tidak puas dengan kiprahnya di pemerintahan. Karena itu, sepeninggal ayahnya ia lebih berkonsentrasi mengasuh pesantren.Seangkan kakaknya tetap berkiprah di organisasi NU. Kiai Ahmad juga dikenal dengan “Majelis Dzikrul Ghofilin” yang artinya, majelis zikirnya orang-orang lupa. Majelis yang dirintis ini pada awal tahun 1970-an ini,  20 tahun berikutnya diikuti oleh sekitar 20.000 orang jamaah yang tersebar di seluruh Jawa. Selanjutnya, jamaah pada setiap daerah mengembangkannya lebih lanjut di kawasan masing-masing.

Azas Tunggal

Pada Munas Alim-Ulama NU di Situbondo (1983), KH Ahmad Shiddiq menyampaikan makalah  tentang “Penerimaan Azas Tunggal Pancasila bagi NU”. Ia ungkap argumentasi secara mendasar dan rasional dari segi agama, historis maupun politik. “Pancasila dan Islam adalah hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan jangan dipertentangkan”. Lebih lanjut ditegaskan, “NU menerima Pancasila berdasar pandangan syariah, bukan semata-mata berdasar pandangan politik. NU tetap berpegang pada ajaran akidah dan syariat Islam. Ibarat makanan, Pancasila itu sudah kita makan selama 38 tahun, kok baru sekarang kita persoalkan halal dan haramnya.” Ratusan Kiai yang pada awalnya menolak Azas Tunggal Pancasila sebagai satu-saatunya azas organisasi, berangsur-angsur berubah sikap dan menyepakatinya.

Sejak saat itulah, sejarah mencatat, NU menjadi ormas keagamaan yang pertama menerima Pancasila sebagai Azas Tunggal. Tak ayal lagi, nama Kiai Ahmad pun meroket dalam perhelatan itu. Tak heran pula, dalam Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo itu, Kiai Ahmad Shiddiq terpilih sebagai Rais Aam PBNU, sedang K.H Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum Tanfidziahnya. Duet Kiai Ahmad dan Gus Dur pun semakin mengangkat pamor NU ke permukaan.
Sepulang  dari Muktamar NU di Yogyakarta (1989), Kiai Ahmad Shiddiq terkena  diabetes melitus (kencing manis yang parah). Ia pun sempat dirawat di rumash sakit. Kepada  rombongan PBNU menjenguknya di RS. Dr. Sutomo, Surabaya ia menyatakan, .Tugasku di NU sudah selesai.”  Tak berapa lama, anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) ini wafat pada 23 Januari 1991

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda