Mutiara

Ulama yang Mencetak Ulama

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Kiai Idris Kamali adalah pencetak ulama yang  lebih suka berada di belakang layar. Apa tanda kecintaannya kepada istri dan santri?   Mengapa menantu Kiai Hasyim Asy’ari ini meninggalkan Tebuireng?

Dibanding orang-orang yang pernah menjadi anak didiknya, Kiai Idris Kamali pastilah kalah masyhur. Sebutlah,  misalnya, K.H. Ma’ruf Amin (ketua umum MUI Pusat yang menjadi calon wakil presiden ), K.H. Tholhah Hasan (mantan Menteri Agama dan pendiri Universitas Islam Malang atau UNISMA), dan Prof. K.H. Ali Musthafa Ya’qub (imam besar Masjid Istiqlal Jakarta dan pendiri Pesantren Darus Sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan).

Meski ulama besar itu telah 20 tahun  mengajar kitab kepada para santri dan mengkader sejumlah santri  di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, nama Kiai Idris tidak cukup  menasional dan menjadi salah satu ikon Tebiureng Padahal dia adalah menantu K.H. Hasyim Asy’ari yang  telah mengkader sejumlah santri yang kemudian menjadi tokoh ulama di tingkat nasional. Kiai Idris memang lebih suka memerankan dirinya sebagai tokoh di balik layar kemasyhuran Tebuireng pasca-Hadratus Syekh.

Ia lahir di Mekah sekitar tahun 1887 sebagai anak pertama dari  pasangan K.H. Kamali bin Kiai Abdul Jalil dan Nyai Saudah. Waktu itu ayahnya dikenal sebagai ulama ilmu falak dan qira’at  asal Cirebon yang mengajar di Mekah. Ia satu generasi dengan Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1897), Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860-1916), dan Syekh Muhammad Mahfuzh at-Tarmasi (1842-1920) .

Sekitar tahun 1908 Kiai Kamali  dan keluarganya pulang ke Cirebon. Di Pesantren  Idris digembleng sendiri oleh ayahnya. Setelah itu mondok di Pesantren Kaliwungu Kendal, Jawa Tengah, di bawah bimbingan K.H. Irfan Musa (wafat 1931). Saat itu Kiai Idris sudah menunjukkan tanda-tanda dirinya sebagai orang alim. “Kalau Kiai Idris mengambil ilmu dari saya untuk menghafal al-Quran, maka saya harus mengambil hadis dari Kiai Idris,” ujar gurunya, yang juga pendiri Pesantren Kaliwungu di tahun 1919.

Setelah tiga tahun nyantri di Kendal, Kiai Idris kemudian meneruskan  ke Pesantren Tebuireng, nyantri dan berguru ke K.H. Hasyim Asy’ari. Pengetahuannya tentang ilmu hadis diperdalam di sana. Karena beliau tahu bahwa pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama itu adalah seorang ahli hadis ternama. Selama nyantri, Kiai Idris dikenal alim dan jenius dalam penguasaan kitab. Kitab-kitab dasar fiqih seperti  al-Ghayah wa-t-Taqrib dan kitab ilmu nahwu seperti Mutammimah, sudah beliau hafal beserta penjelasannya. Selain itu, beliau juga dikenal taat beribadah dan tekun melakukan riyadhah atau latihan spiritual tiap malam. Puasa hampir tiap hari. Dan sudah hafal al-Quran sejak usia 11 tahun. Tidak heran kalau kemudian beliau ia  dipercaya sebagai asisten atau badal K.H. Hasyim Asy’ari yang membantu mengajar ngaji kitab di pondok.

Tidak lama kemudian Kiai Idris dijodohkan dengan putri sang guru, bernama Nyai Hj. Azzah di paruh akhir tahun 1920-an. Putri keempat pasangan K.H. Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah ini adalah kakak kandung K.H. Abdul Wahid Hasyim. Pasangan baru ini kemudian dikaruniai seorang putra satu-satunya, Abdul Haq (lahir sekitar tahun 1929). Kiai Idris dikenal sangat cinta kepada sang istri. Setelah wafatnya sang istri di usia muda, Kiai Idris tidak berniat menikah lagi. Demikian pula Kiai Idris sayang sekali kepada anaknya.

Cara  Mencetak Ulama

Pada tahun 1940-an, Kiai Idris mengajar di beberapa pesantren di Jawa, dari Pekalongan, Pesantren Kaliwungu di Kendal hingga di Pesantren Kempek Cirebon. Kabarnya ini untuk menghindari kejaran polisi Belanda yang waktu itu sedang mencurigai beliau menghasut para santri dan masyarakat untuk melawan penjajah asing. Namun, selang beberapa waktu kemudian, beliau dipanggil kembali ke Tebuireng.

Maka, sejak tahun 1953, Kiai Idris pun  untuk mengajar para santri. Ketika mengasuh pesantren dari tahun 1955, putra K.H. Hasyim Asy’ari itu meminta Kiai Idris mengajar kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf atau ngaji sorogan di Pesantren Tebuireng. Sehingga bobot Tebuireng saat itu identik dengan pengajian kitab yang dimotori oleh Kiai Idris bersama beberapa kiai.

Kiai Idris sendiri melihat bahwa Tebuireng mengalami langkah mundur dalam mencetak ulama  mumpuni, seiring dengan diperkenalkanya sistem madrasah berjenjang: ibtidaiyah, tasanawiyah, aliyah. Namun demikian, ia menyadari bahwa dirinya tidak cukup mampu dan cukup berpengaruh untuk mengaktifkan kembali “kelas musyawarah” yang dulu diselenggarakan Hadratus Syekh.

Gus Dur memang pernah mengatakan bahwa kedudukan kiai di pesantren sebagai direceur eigenaar, yakni sebagai pengasuh dan pemilik sekaligus. Tapi rupanya ini tidak berlaku bagi Kiai Idris. Meskipun dia menantu Hadratus Syekh dan dari segi keilmuan, tetapi kedudukan ganda semacam itu berada di tangan KH Kholiq Hasyim. Namun, dengan keterbatasan yang dimiliki Kiai Idris dan didorong rasa keprihatinannya, maka ia memusatkan pengajarannya kepada sekelompok santri  pilihan yang didiknya sedemikian rupa sehingga dapat diharapkan mennjadi ulama.

Jumlah mereka kurang lebih 20 orang. Untuk itu ia membuat oersyaratan yang cukup ketat Pertama, harus tinggal di pesantren minimal tiga tahun; kedua, memohon secara pribadi untuk menjadi santri Kiai Idris; ketiga, sudah tamat madrasah tsanawiyah; keempat, mempunyai kesungguhan dan prestasi luar biasa; kelima, sudah hafal kitab dan pelajaran tingkat dasar, keenam, harus patuh kepada sang kiai, terutama dalam menunaikan shalat jamaah lima waktu  bersama beliau di masjid, dan, ketujuh, harus menyatakan sumpah bahwa sang santri tetap bertahan untuk ngaji dan tidak akan meninggalkan, sampai sang guru sendiri menyatakan ngaji satu kitab sudah selesai. Selain menggunakan metode sorogan dan wetonan, Kiai Idris juga menggunakan metode musyawarah atau semacam forum diskusi terfokus di antara para santri yang terbagi dalam beberapa kelompok. Metode ini dimaksudkan agar para santri lebih mudah memahami dan mendalami isi satu kitab.

Ada banyak santri beliau yang kemudian menjadi ulama besar dan pendiri pesantren. Di antara mereka adalah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), K.H. Abdul Hayyie Muhammad Na’im, K.H. Makruf Amin, K.H. Tholhah Hasan (mantan Menteri Agama), K.H. Habib Usman Yahya Cirebon, K.H. Ali Musthafa Ya’qub, dan Kiai Muhid Kebon Gadang. Dan masing-masing santri beliau ini punya spesialisasi keilmuan sendiri.

Kiai Ma’ruf Amin misalnya lebih mewarisi keilmuan fiqih Kiai Idris. Dan memang beliau digembleng oleh Kiai Idris untuk ahli dalam itu fiqih. Sejumlah kitab-kitab fiqih besar seperti kitab Fathul Wahab dan kitab al-Iqna dibaca Kiai Makruf di hadapan gurunya itu. Sementara Kiai Ali Musthafa Ya’qub dikenal melanjutkan kepakaran Kiai Idris dalam ilmu hadis. Segala masalah keagamaan dijawab dengan pendekatan hadis. Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah dua kitab hadis favorit Kiai Idris sepanjang hayat. Hingga kini pengajian kedua kitab itu masih dilanjutkan di Tebuireng oleh salah seorang murid beliau, K.H. Habib Ahmad.

Ternyata disiplin dan komitmen ngaji itu juga berlaku buat dirinya. Ia jarang meninggalkan tugas mengajar. Tidak pula sibuk mengurus organisasi atau partai di luar. Bahkan dalam situasi ada tamu terhormat pun (pejabat dari Jakarta hingga seorang presiden!) yang berkunjung ke Tebuireng, sang kiai tidak pernah memberi libur kepada santri-santrinya. Para santri hanya ingat pernah suatu kali di tahun 1963 pengajian kitab diliburkan gara-gara ada “tamu agung” datang dan hendak ia  temui. Dan ternyata tamu agung itu adalah seorang ulama kharismatik dari Jakarta, Habib Ali Kwitang, yang sangat dihormati oleh Kiai Idris. Waktu itu Habib Ali datang ke Tebuireng untuk keperluan ziarah ke makam K.H. Hasyim Asy’ari.

Kiai Idris gemar  membaca dan mengoleksi kitab-kitab yang mencapai ratusan jilid. Kitab-kitab tersebut kini tersimpan di Perpustakaan Pesantren Tebuireng. Dan kerap menjadi rujukan dalam kegiatan-kegiatan bahtsul masail di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia juga punya hobi  beternak sapi dan kambing hingga memenuhi lingkungan pondok dan tidak jarang mengganggu kegiatan belajar-mengajar sebagian santri. Ini ia akukan karena suka berbagi rezeki,  termasuk kepada para santri. Terutama untuk para santri yang kekurangan uang atau yang kiriman uang dari orang tuanya sering terlambat. Kiai Idris cukup menunjukkan santri bersangkutan ke tumpukan kitab dan membuka salah satu kitab. Santri itu kemudian menemukan uang di antara lembaran-lembaran kitab itu sesuai dengan jumlah yang diminta.

Tahun 1973 Kiai Idris meninggalkan Indoneisa dan bermukim di Arab Saudi selama beberapa tahun. Ketika ditanya alasannya, ia  hanya menjawab untuk menuntut ilmu lagi. Selama bermukimdi Mekah, ia sempat ke Mesir dan menyempatkan diri ziarah ke makam Imam  Syafi’i di Kairo. Tahun 1981 Idris kembali ke Cirebon, dan tidak lagi ke Tebuireng. Di Pesantren Kempek, ia hanya mengajar kitab Dala’ilu-l-Khairat karya Syaikh Muhammad al-Jazuli yang terkenal itu.  Kiai Idris wafat di bulan Juli 1984 dalam usia lebih dari 90 tahun, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Pesantren Kempek, Cirebon.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda