Tasawuf

‘Melihat’ Tuhan

Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Agama mengajarkan pada manusia untuk mengenal dua kenyataan yang pasti akan dialaminya: yakni kenyataan surga dan neraka. Surga adalah tempat kebahagian, sebagai imbalan kebaikan yang pernah dilakukan. Sementara neraka adalah tempat siksa dan hukuman atas dosa yang dilakukan.

Sebagaimana agama -yang memang diturunkan untuk manusia- pemaknaan inipun memang dirumuskan untuk manusia. Surga sebagai tempat menerima pahala, digambarkan dengan beragam kenikmatan yang bisa dipersepsi manusia; sementara neraka sebagai tempat penghukuman digambarkan dengan segenap rujukan sakit yang bisa dibayangkan manusia.

Artinya, sudut pandang yang dipakai disini adalah sudut pandang manusia, dan bukan ‘sudut pandang’ Allah. Bila ‘sudut pandang’ ini dibalik, pemaknaan yang diberikan bisa berbeda. Dalam sebuah hadits qudsi misalnya, disebut bahwa ‘rahmat Allah melingkupi adzabNya’. Dari sisi ini, apa yang dipersepsi manusia sebagai adzab pada dasarnya bisa dibaca sebagai wajah lain dari rahmatNya.

Secara tradisional, penyikapan semacam ini sebenarnya sudah akrab di masyarakat, lebih-lebih di kalangan sufi. Sakit, derita, bencana atau apa saja sering disikapi sebagai wujud kasih sayang Allah yang tersembunyi, yang berfungsi menyucikan atau mengangkat derajat penderitanya.

Nabi sendiri mengatakan bahwa secara hirarkis diantara semua manusia, orang beriman merupakan orang yang paling besar cobaannya; diantara semua orang beriman, wali-walilah yang paling besar cobaannya; begitu seterusnya yang menyangkut nabi-nabi, rasul-rasul, rasul-rasul utama (ulil azhmi), dan akhirnya beliau mengatakan: diantara semua itu, akulah yang paling banyak cobaannya.

Dalam perspektif ini, adzab, bala’, cobaan, ‘bencana’ atau pada posisi ekstrimnya: ‘neraka’, justru lebih tampak sebagai rahmat, yang dirancang sebagai ajang-ajang penyucian; yang secara bertahap atau berjenjang diberikan agar manusia bisa menembus hijab demi hijab (mulai dari hijab kegelapan sampai dengan hijab cahaya) dan kembali ke kemurnian, ke asal usul penciptaannya.

Shaum atau puasa adalah ritual yang boleh dikata berlaku universal, dan -yang menarik- unsurnya yang paling menonjol adalah unsur ‘penyiksaan diri’. Disebut ‘penyiksaan diri’ karena ritus ini mensyaratkan orang untuk meninggalkan kecenderungan dan aktivitas-aktivitas yang secara alamiah menjadi bawaannya, seperti makan-minum dan seterusnya.

Sementara bulan untuk berpuasa wajib tersebut disebut bulan Ramadhan. Ramadhan: masdar dari kata ramidha yang antara lain bermakna membakar, mengasah, menghapus.

Dengan berpuasa, pada dasarnya orang sedang diajar untuk sedikit demi sedikit membakar, mengasah dan menghapus keterikatannya dengan dunia, menembus hijab-hijab penghalang kejernihannya melihat kenyataan. Dengan secara sadar melawan kencenderungan alamiahnya, orang diajar untuk melihat kenyataan yang lebih tinggi dan –pada akhirnya- untuk ‘melihat’ Allah itu sendiri.

Menurut para sufi, dalam hubungannya dengan kenyataan, paling tidak ada empat posisi untuk ‘melihat’ Allah. Pertama, melihat Allah sebelum kenyataan. Kedua, melihat Allah setelah kenyataan. Ketiga, melihat Allah bersama kenyataan. Keempat, cuma melihat Allah tanpa kegandaan antara Allah dan kenyataan lagi.

Mestinya, orang-orang semacam inilah yang sedang sangat kita butuhkan untuk memandu perjalanan bangsa!

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

1 Komentar

Tinggalkan Komentar Anda