Mutiara

Soekarno dan (Tanpa) Hatta

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Agama seseorang itu mengikuti agama temannya. Maka  salah seorang di antara kalian harus selalu memperhatikan dengan siapa dia berteman. (H.R. Abu Daud). Tentang persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta. Bagaimana pula teman akan menolong kita di akhirat?

Presiden Soekarno pernah meminta Bung Hatta melakukan perundingan dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Hatta menyarankan Bung Karno melakukan tawar-menawar – di samping menyatakan kesediaannya menjadi PM dari satu kabinet presidensiil jika Soekarno menjadi presiden konstitusional.

Tapi Bung Karno ragu. Memang, itu bisa menghabisi ambisi kepemimpinannya. Lagi pula dia didukung Panglima Angkatan Udara Suryadarma, sementara Jenderal A.H. Nasution, Panglima Angkatan Darat, sudah mengeluarkan peringatan  tidak ada kompromi. Kedua tokoh pucuk inilah yang pertama kali memerintahkan aksi militer melawan PRRI. (Mavis Rose, Indonesia Free: A Political Bioghraphy of Muhamad Hatta).

Dan itu membuat Hatta marah. Penggunaan kekerasaan seperti itu tidak diperkirakannya  sebelum ia menempuh perundingan. Kata Mohammad Roem, salah seorang pemimpin Masyumi dan tokoh  kemerdekaan yang pernah dijebloskan ke penjara oleh Soekarno tana proses pengadilan, Hatta pernah bersumpah tidak akan pernah bekerja sama lagi dengan Bung Karno. Memang, sebelumnya ada harapan “Dwitunggal” akan bersatu kembali. Bukankah mereka yang bersama-sama memproklamasikan kemerdekaan RI, dan berhasil menangkis tantangan demi tantangan, dari dalam maupun luar negeri? Keduanya saling melengkapi: Hatta memerlukan kehangatan dan kemampuan Bung Karno berkomunikasi dengan massa Jawa, sementara Bung Karno mengambil keuntungan dari disiplin, integritas,sikap dingin dan rasa ekonomi rekannya  itu.

Tapi Hatta, yang mundur sebagai wakil presiden ada 1956, sebenarnya juga bersikap mendua kepada Bung Karno. Satu kali ia terkesan melindungi dan penuh pengertian, lain kali menyatakan kekecewaan dan kecaman. Bagi Hatta, Soekarno, sebagaimana kaum komunis, merupakan perintang tujuan-tujuan sosial ekonominya. Tapi dalam hubungan pribadi, siapa pun mengakui keduanya ibarat saudara sekandung.

Benar, setelah itu peranan politik Bung Hatta melemah. Tapi sebenarnya juga BK. Tanpa pengaruh terus-menerus Hatta dan dedikasinya pada suatu prinsip ketimbang ambisi pribadi, performa politik BK terus merosot. Dan kita tahu rezimnya berakhir dengan hura-hura politik dan kebangkrutan besar ekonomi.

Tak syak lagi, Hatta, mengutip Rose, adalah negarawan kaliber tertinggi , yang siap mengorbankan ambisi, kekayaan, dan kedudukan demi cita-cita. Ia sangat menjunjung etika dalam mencapai kekuasaan politiknya. Etika itu, sangat boleh jadi, berkat elemen keagamaan yang sangat berakar dalam aktivisme hidupnya. Hatta, yang digambarkan Rose sebagai seorang agamis yang “asketik revolusioner”, muslim modernis, sufi dan Wahabi sekaligus, yakin benar perjuangannya bagi kedaulatan rakyat merupakan tugas suci agama.

Sahabat Kita di Akhirat

Berkata Umar ibn Al-Khattab r.a.:  “Engkau harus bersahabat dengan sahabat yang jujur, sebab engkau akan berada di sisi mereka, sebab mereka hiasan ketika dalam kesenangan, dan menjadi bekal pada saat ada bencana. Dudukkan urusan temanmu sesuai dengan kebaikan-kebaikannya, sampai dia membawakan untukmu sesuatu yang engkau benci dari dirinya. Hindarilah musuhmu, serta berhati-hatilah terhadap temanmu, kecuali orang yang takut kepada Allah. Janganlah engkau bergaul dengan orang durjana, dikhawatirkan engkau belajar pada kedurjanaannya. Dan janganlah engkau membuka rahasiamu kepadanya. Mintalah nasihat dalam urusanmu, pada mereka yang sangat takut kepada Allah.”

Ibnul Qaiyim, mengutip pendapat para ulama, mengemukakan enam manfaat bergaul dengan orang-orang salih: (1) dapat mengubah mengubah diri kita dari ragu-ragu menjadi yakin; (2) dari riya menjadi ikhlas; (3) dari lalai menjadi ingat (zikir); (4) dari cinta dunia menjadi cinta akhirat; (5) dari sombong menjadi tawadhu; (6) dari buruk perangai menjadi orang yang mau menerima nasihat.

Hadis berikut mengungkapkan bahwa di akhirat pun sahabat-sahabat kita yang salih di dunia, masih ingat kepada kita.

“Ketika Allah telah membersihkan orang-orang mukmin dari neraka — sementara mereka tetap beriman — maka tidak pernah ada perdebatan salah seorang di antara kalian dengan temannya dalam masalah haknya di dunia lebih sengit daripada perdebatan orang-orang mukmin tersebut dengan Tuhan mereka, tentang nasib teman-teman yang telah dimasukkan ke neraka. Mereka berkata, “Tuhan, teman-teman kami dahulu juga salat, puasa dan haji bersama kami, kemudian Engkau memasukkan mereka ke neraka.” Dia (Allah) berfirman, ‘Pergilah dan keluarlah di antara mereka orang yang kalian kenali’. Lalu mereka mendatanginya, kemudian berusaha mengenali wajahnya, di mana wajah mereka tidak termakan api (masih utuh). Ada juga di antara mereka yang sudah termakan api hingga separo pundaknya. Ada juga di antara mereka yang sudah termakan api hingga kedua mata kakinya. Kemudian mereka mengeluarkannya. Mereka berkata,”Tuhan, kami telah mengeluarkan orang yang telah Engkau perintahkan kepada kami!” Dia (Allah) lalu berfirman, ‘Keluarkanlah orang yang dalam hatinya masih ada keimanan(meskipun hanya) seberat satu dinar, lalu orang yang dalam hatinya masih ada keimanan(meskipun hanya) seberat setengah dinar, lalu orang yang dalam hatinya masih ada keimanan (meskipun hanya) seberat satu biji sawi.” (H.r. Ibn Majah).

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda