Cakrawala

Hikmah Lebaran dalam Politik

Written by Panji Masyarakat

Banyak orang mendiskusikan hikmah Idul Fitri atau lebaran dari segi keagamaan  (Islam) dan budaya. Jarang dibahas hikmah Idul Fitri dari sisi politik. Hal ini bisa dipahami karena momen Idul Fitri sebelumnya tidak bersamaan dengan  peristiwa politik yang khusus atau luar biasa. Situasi berbeda dengan  ldul  Fitri tahun ini yang berdekatan  atau masih bersamaan dengan Pemilu 2019.

Pada hari-hari ini bangsa Infonesia masih menunggu hasil gugatan sengketa  pemilihan umum (pemilu) yang diajukan oleh para calon anggota legislatif dan pasangan calon Presiden-Wakil Presiden  nomor urut 02. Tuntutan Paslon 02 tidak tanggung-tanggung. Yakni adanya kecurangn yang terstruktur, sistematif dan massif, mendiskualifikasikan Paslon 01 Jokowi- Makruf Amin yang sudah dinyatakan menang oleh Komisi Pemilihan Umum ( KPU) dan menuntut dilakukannya Pemilu ulang. Pemilu kali ini juga tergolong sebagai Pemilu yang keras karena menelan ratusan korban dan juga diwarnai dengan provokasi hasusatan hoax dan berbagai kejadian inkonstitusional seperti kerusuhan yang menewaskan delapan  orang.

Ritual Id Fitri sebenarnya merupakan tradisi umat Islam di seluruh dunia. Ritual ini merupakan imanensialisasi ajaran-ajaran  Islam yang substansinya adalah memperkuat kohesi sosial dengan cara membawa umat Islam kembali kepada asal-usul atau kesucian (Idul Fitri). Oleh karena itu,  dalam semangat ini, umat Islam diajarkan untuk saling mengunjungi keluarga, kerabat, handai taulan, sahabat  dan tetangga. Umat Islam juga diajarkan untuk saling berbagi dalam bentuk makanan ( bingkisan lebaran ), pakaian dan juga uang alias THR (tunjangan hari raya). Selain itu umat Islam  juga diajarkan untuk saling memberikan maaf dan saling  mendoakan agar mereka menjadi orang- orang yang kembali kepada fitrah  (a’idun )dan menjadi pemenang  (faizun). Doa ini tercermin ketika seseorang memberikan ucapan lebaran dengan “Minal Aidin wal Faizin” yang berarti  semoga anda menjadi orang orang yang kembali (kepada fitrah) dan  menjadi pemenang.

Kemenangan Kaum Muslim

Frasa Kembali kepada  fitrah dan pemenang merupakan frasa yang tergabung, tidak bisa dipisah-pisahkan. Artinya kemenangan kaum Muslim  adalah ketika mereka bisa kembali kepada fitrah sebagai kelompok sosial yang kohesif dengan cara saling berbagi,  saling mengunjungi, saling memaafkan dan mempunyai semangat yang baru. Kemenangan Kemenangan kaum Muslim  sejatinya bukan dihasilkan dari konflik dan peperangan yang memenangkan satu pihak dan mengalahkan pihak yang lain.

Kemenangan kaum Muslim  merupakan hasil dari penaklukan terhadap nafsu dalam bentuk menahan  makan , minum dan hal lain yang dilarang pada bulan Ramadan hingga waktu yang diperbolehkan.  Dalam bidang ekonomi. Kemenangan kaum Muslim  dilakukan dengan cara berbagi yaitu membayarkan zakat fitrah  dan harta (mal)  kepada panitia zakat (amil ) yang nanti akan disalurkan kepada yang berhak (mustahiq). Islam tidak membatasi kepemilikan harta, tetapi memerintahkan untuk berbagi dalam bentuk zakat, infak dan sedekah.


Strktur ajaran Islam ini sungguh sangat rapi dan sistematis. Dimulai dengan Puasa yang hakekatnya adalah pelatihan fisik dan psikis untuk mengkoreksi seoarng Muslim dari kesalahan( dosa) masa lalu yang sumbernya berasal dari nafsu ( makan, minum, sex, penglihatan,ucapan, dan pendengaran ) untuk kemudian kembali kepada kesucian yang juga menjadi sebuah kemenangan. Ajaran Islam tidak menghilangkan nafsu nafsu manusiawi tersebut, melainkan mengendalikannya yang dalam bulan Ramadhan ini dalam bentuk menahan diri.

Fitrah Politik

AMemasuki perayaan Idul Fitri ini umat Islam Indonesia yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia  bersama umat lain sedang menunggu hasil akhir tahapan Pemilu 2019 yang terdiri dari pemilihan anggota  legislatif dan pemilihan presiden secara langsung. Hasilnya pastilah ada yang terpilih dan ada yang tidak terpilih.  Dengan mengambil hikmah Ramadan dan Idul Fitri, baik calon legislatif dan calon presiden dan wakil presiden yang terpilih dan yang tidak terpilih beserta para pendukungnya bisa menjadi pemenang  secara kolektif. Sebagaimana diajarkan dalam ritual Idul Fitri, kemenangan itu bisa dicapai dengan syarat apabila semua pihak bisa kembali kepada fitrah sebagai makhluk sosial yang dalam terminologi kesepakatan politik disebut sebagai bangsa Indonesia. Dengan kata lain bahwa fitrah politik kehidupan kolektif orang Indonesia adalah sebagai bangsa Indonesia. 


Momen politik seperti pemilu seharusnya memperkuat fitrah politik sebagai bangsa. Janganlah momen politik ini justru menghilangkan atau membahayakan fitrah politik sebagai bangsa. Semangat Idul Fitri secara kebangsaan harus diwujudkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang merekatkan kohesi sosial atau persatuan misalnya saling mengunjungi atau silaturahmi, saling memaafkan dan saling mendoakan  antara keluarga teman dan bahkan pada masa kampanye yang sudah berlalu  menjadi kompetitor dalam pemilihan legislatif atau pemilihan presiden dan wakil presiden. Sikap seperti ini akan akan menjadi rekonsiliasi sosial yang akan mendinginkan suasana yang selama delapan bulan ini panas.

Ritual  yang selama ini sudah dipraktekan selama Idul Fitri akan memperkuat kohesi kebangsaan walaupum semua pihak masih mempunyai perbedaan pandangan, kepentingan menunggu hasil akhir sengketa hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi.  Kemenangan yang kita peroleh dalam Idul Fitri ini bukanlah kemenangan yang dihasilkan dari konflik, kekerasan, pembunuhan, bahkan terorisme. Karena semua ini bertentangan dengan pembangunan kebersamaan , kolektifisme yang diajarkan selama Ramadhan dan Idul Fitri. Untuk menghindari larangan larangan  ini tentunya dengan  cara menahan diri dari keinginan keinginan yang destruktif  yang membahayakan kohesivitas kebangsaan. Jika seluruh komponen anak bangsa yang selama delapan bulan terakhir ini secara sengit terlibat dalam kontestasi pemilu bisa mentrasformasikan hikmah Ramadan dan Idul Fitri ini ke dalam perilakunya, insya Allah semua komponen bangsa baik yang terpilih maupun yang tidak dan para pendukungnya akan menjadi pemenang.
 Para calon legislatif  yang akan menduduki kursi  di DPR, DPD dan DPRD mereka akan berperan sebagai koalisi pemerintah  atau oposisi yang secara kritis mengawasi jalannya kenegaraan. Capres dan Cawapres yang terpilih akan menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan janji politiknya ketika kampanye. Sedangkan Capres dan Cawapres yang tidak terpilih bisa menjadi opisisi yang akan memberi masukan, mengingatkan atau mengkritisi pemerintah jika mereka lupa. Kesemua fungsi  itu diperlukan dalam perjalan bangsa. Jika seluruh fungsi itu dijalankan dengan semangat kebersamaan, bukan konflik, sebagaimana yang diajarkan dalam ritual Idul Fitri, Insya Allah kita akan menjadi bangsa pemenang terlepas apakah  terpilih atau tidak dalam Pemilu dan menjadi pendukungnya.

Dr. Sri Yunanto adalah dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024