Relung

Kembali Kepada Kesucian Diri

Kepadatan arus mudik 2019 di gerbang tol Cikampek Utama (foto : jasamarga.com)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Ribuan orang mulai  memadati stasiun-stasiun kereta api, pelabuhan-pelabuhan kapal, terminal-terminal bus, dan bandar-bandar udara. Belum lagi kendaraan-kendaraan pribadi yang merayap terutama di jalan-jalan tol. Ini bukan pemandangan baru, sebab begitulah yang terjadi pada hari-hari menjelang lebaran. Mudik atau pulang ke tempat asal. Berkumpul  bersama keluarga dan sanak-saudara, mengeratkan kembali tali silaturahim yang mengendor akibat berbagai kesibukan. Tetapi mengapa mudik?

Di zaman ketika orang mudah bepergian, pulang kampung bisa dilakukan kapan mau. Silaturahmi pun bisa lebih erat berkat dengan menggunakan aneka macam aplikasi pada telepon genggam. Tapi itu tidak bisa menggantikan mudik yang boleh jadi kurang bermakna jika tidak dihubungkan dengan lebaran atau hari raya Idul Fitri. Dan untuk itu orang rela membuat antrean panjang dan menempuh kemacetan di jalan raya. Atau bahkan membeli tiket pesawat dengan harga tidak masuk akal.

Mudik lebaran dan Idul Fitri kedua-duanya mengandung pengertian “kembali”. Yang satu kembali ke tempat muasal, yang satu lagi kembali kepada  kesucian. Yakni kembalinya manusia kepada asal mula kejadiannya sebagai makhluk fitrah yang suci dan baik. Mudik lebaran, dengan demikian,  merupakan sebuah prosesi untuk kembali kepada kesucian dan kebaikan diri. Prosesi ini sejatinya sudah dimulai sejak awal Ramadan, karena pada dasarnya puasa merupakan upaya untuk memperoleh kesucian dan kebaikan diri itu. Kesucian ini diperoleh setelah kita mendapat pengampunan dari Allah SWT. Hanya saja, ampunan  itu cuma diberikan kepada orang-orang yang menjalani puasa dengan penuh keimanan dan introspeksi diri.

Mudik, dengan begitu,  bukanlah pulang kampung biasa. Tapi sebuah perjalanan pensucian diri untuk menjadi manusia baru setelah kembali ke fitrah. Adalah fitrah yang menuntun manusia berbuat kebajikan dan tunduk kepada Sang Maha Pencipta. Jika ada  seseorangyang tidak berbuat kebaikan dan berpaling dari Sang Pemberi hidup, maka sesungguhnya dia telah menyimpang dari fitrah-nya sendiri.  

Seperti halnya berbuat kebaikan, iman juga juga merupakan fitrah manusia. Iman  sendiri, sebagai bentuk kesadaran paling dalam mengenai asal dan tujuan hidup, bersifat dinamis, karena bisa bertambah dan berkurang. Ia juga menjadi absurd atau sebatas klaim jika tidak dimanifestasikan ke dalam perbuatan nyata aitu amal kebajikan. Oleh karena itu, penyebutan “orang-orang beriman” di dalam Alquran selalu diikuti penyebutan “orang-orang yang beramal saleh.” Untuk itu pula, manusia harus kembali kepada fitrah-nya yang suci dan baik itu.  Secara simbolik perayaan kembali ke fitrah itu disambut dengan mengenakan pakaian baru. Meski begitu, Nabi mengingatkan bahwa idul fitri sesungguhnya bukan bagi  mereka yang pakai baju baru, tetapi bagi yang takwanya bertambah. Bukankah dengan berpuasa orang diharapkan menjadi takwa? Pengertian takwa yang sederhana dan sering kita dengar adalah “menunaikan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang diharamkan.” Takwa merupakan mahkota kehidupan bagi orang mukmin. Allah pun menyebut bahwa “orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.” Tetapi siapa  yang bisa disebut paling takwa? Tidak ada yang bisa mendaku bahwa seseorang lebih bertakwa dari yang lainnya. Allah pun hanya meyuruh agar semampu mungkin orang untuk bertakwa. Sementara Nabi menyatakan bahwa takwa itu “haa huna (dia di sini)” seraya menunjuk dadanya. Yakni tindakan yang berhubungan dengan hati seperti kejujuran, ketulusan, keikhlasan dan seterusnya. Minal a’idin.

Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang kembali kepada kesucian diri

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda