Ramadan

Membangun Generasi Anak Saleh

Ditulis oleh B.Wiwoho

Benarkah kita sudah memiliki anak-anak yang saleh? Baik anak kandung, anak angkat maupun anak-anak didik? Semoga.

Namun seperti apakah anak ataupun orang yang saleh itu? Apakah yang senantaiasa mengenakan jilbab bagi wanita? Sedangkan bagi pria senantiasa berkopiah atau bersorban, mengenakan baju taqwa dan kain sarung, atau jubah gamis, dengan tangannya selalu memegang tasbih? Ataukah mereka yang ke mana dan di mana saja selalu mengaji Qur’an, tak peduli di tengah kepadatan angkutan umum, dengan orangtua atau perempuan hamil yang berdiri bergelayutan di depannya?

Itu semua baik, tapi belum cukup. Bahkan berbagai bentuk peribadatan lainnya yang tampak mata, yang bisa dilihat dan didengar orang lain seperti  mengucapkan kalimat syahadat, salat, puasa, membayar zakat dan pergi haji itu jika diibaratkan buah, baru merupakan kulitnya, baru merupakan ibadah lahir. Belum menjamin kualitas ibadah batin. Ibarat kapal baru benderanya. Bisa saja benderanya Merah Putih (Indonesia), tetapi pemilik dan awal kapalnya bangsa lain. Tentu tidak seekstrim perumpaan itu. Tetapi semua peribadatan yang nampak mata tersebut menurut  Prof.Kyai H.Ali Yafie dan almarhum Cak Nur (Nurcholis Majid), baru merupakan formalitas, kesalehan formal dan belum bisa menjadi jaminan tingkat keimanan yang mantap apalagi keikhsanan. (buku: “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” halaman 201 dan buku “Memaknai Kehidupan” halaman 54).

Sahabatku, di dalam ajaran Islam, orang yang saleh memiliki kedudukan istimewa, sampai-sampai Allah Swt. berfirman dalam surat An Nuur: 55 sebagai berikut:

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kamu, sungguh Dia akan menjadikan mereka sebagai pemimpin di muka bumi (mereka akan diberi warisan kekuasaan di muka bumi), sebagaimana Dia telah menjadikan pemimpin orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka; dan sungguh Dia akan menggantikan ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka menyembah-Ku, tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu. Dan Barang siapa yang ingkar sesudah demikian itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Iman kepada Allah Swt. dan amal saleh, keduanya nampak berbeda tapi sesungguhnya satu. Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar mengemukakan, iman bagaikan pelita yang memberi cahaya dalam hati, menyinar cahaya itu keluar dan dapatlah petunjuk, sehingga nyatalah apa yang akan dikerjakan. Oleh sebab itu iman akan menimbulkan amal yang saleh.

Banyak pula amalan yang dikerjakan, tapi jika tidak timbul dari iman, bercampuraduklah yang haq dengan yang batil. Namun bila iman dan amal bersatu padu, amal saleh timbul dari iman, dan iman menimbulkan amal saleh, maka kepada orang yang memiliki kedua hal itu, Tuhan menjanjikan akan memberikan warisan kekuasaan di permukaan bumi ini. Kendali bumi akan diserahkan ke tangan mereka.

    Tapi siapakah mereka itu? Mereka adalah orang-orang yang hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan yang lain. Orang yang saleh akan sanggup bekerja keras dalam usaha dan tawakal dalam menerima hasil, serta berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah Swt. dan Rasulullah Saw. Mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, tanpa menawar, tanpa meminta tempo atau tangguh dengan seribu satu alasan.

    Mereka akan teguh memegang tauhid serta menjalankan ibadah baik mahdah maupun muamalah dalam kehidupan sehari-harinya. Karena itu mereka akan berani menegakkan yang haq melawan yang batil, menegakkan kebenaran dan keadilan.

    Mereka juga akan sanggup menghindari syirik chafi, yakni perbuatan yang mengorbankan ketaatan kepada Gusti Allah Swt. dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw., karena takut pada kesusahan kehidupan dunia, termasuk pada tekanan  kekuasaan dan uang. Contoh yang sederhana adalah memberi atau menerima hadiah, komisi dan sejenisnya yang dapat digolongkan sebagai rasuah. Demikian pula dalam menjadikan pesona dunia seperti kekuasaan, kedudukan, pangkat, gelar, harta benda serta aneka pesona dan kenikmatan duniawi lainnya, sebagai berhala-berhala modern yang mengalahkan ketaatan kita kepada Allah dan Rasulullah.

    Bagaimana jika sebelum atau bahkan selama ini kita melakukan hal-hal yang buruk, zalim, munkar, batil, bermaksiat dan syirik chafi seperti diuraikan tadi? Tiada manusia yang sempurna, sedangkan Allah Maha Sempurna, Maha Suci lagi Maha Pengampun. Meskipun kesalahan dan dosa kita bagai buih di lautan, tapi ampunannya jauh lebih besar, lebih banyak lagi. Karena itu kita harus sungguh-sungguh segera menghentikan semua perbuatan buruk kita dan bertaubat, memohon ampunan-Nya, berjanji dan berjuang keras untuk tidak mengulanginya.

Marilah kita belajar dan bertekad untuk senantiasa taat kepada Allah dan Rasulullah Saw. Marilah kita berusaha sungguh-sungguh tanpa kenal menyerah menjadi anak yang saleh. Mendidik anak keturunan kita, mendidik generasi muda umat kita menjadi anak  dan generasi muda yang saleh. Menunjukkan kepada kedua orangtua, kepada guru dan para pendahulu kita bahwa kita adalah benar-benar anak dan generasi mudanya yang saleh, yang senantiasa mendoakan mereka, mendoakan kedua orangtua, guru serta orang-orang yang telah membantu dan berjasa kepada kita, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga insya Allah, setidak-tidaknya doa yang lazim kita panjatkan sesudah salat wajib dikabulkan Allah Yang Maha Pengasih. “Ya Allah, ampunilah dosa hamba, dan dosa kedua orangtua hamba, dan kasih sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mengasihi hamba semasa bayi. Ya Allah, ampunilah orang-orang muslim laki-laki maupun perempuan, mukmin laki-laki maupun perempuan, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan jadikanlah mereka kekasih-kekasih Paduka. Aamiin”

Sahabatku, betapa tak terhitungnya nikmat, rahmat dan berkah yang telah dianugerahkan Gusti Allah kepada kita. Dalam hal usia, sebagian dari kita pun sudah memperoleh bonus melampaui usia Kanjeng Nabi Muhammad Saw.  Bahkan sebagian lagi sudah mengenyam aneka pesona dunia. Apa saja sudah pernah kita coba, sudah kita rasakan kecuali satu hal, yaitu kematian. Dan karena kematian itu pasti, bukan kemungkinan, maka marilah kita songsong kematian itu dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Menyiapkan bekal yang kelak memang kita perlukan yakni amal atau sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak atau generasi muda yang saleh.
     Alhamdulillaah, kita sudah membahas tiga bekal sekaligus tiga sahabat setia yang akan selalu mendampingi kita setelah kita tutup usia kelak. Tiga bekal untuk “Pulang Kampung”, kembali ke haribaan Gusti Allah Swt. Marilah kita siapkan dengan sebaik-baiknya ketiga bekal tersebut, agar dengan itu kita memperoleh anugerah berupa derajat yang mulia di sisi-NYA. Amin. (Mutiara Hikmah Puasa, B.Wiwoho)

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda