Tasawuf

Yang Merusak Nikmat Beribadah

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Cobaan bagi orang yang ingin hidup lurus di jalan Allah, tidak hanya berupa kesusahan tapi juga kesenangan hidup. Mengapa Abu Bakr tak pernah mengenyangkan perutnya setelah masuk Islam? Juga Umar yang menolak hidangan yang lezat-lezat?  

Di zaman entah kapan, inilah kisah seorang pemuda Bani Israil penjual keranjang. Seperti tukang kelontong dari Tasikmalaya, ia keluar-masuk kampung menjajakan dagangan. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang dayang, tidak jauh dari Istana. Perempuan itu terkesiap. Tapi hanya sesaat: bergegas balik ke Istana.

“Aku lihat pemuda tampan, Tuan Putri,” katanya terengah-engah. “Rasanya belum pernah aku melihat orang setampan dia.”

“Panggil dia kemari,” kata yang dilapori.

Pemuda itu pun mengikuti sang dayang. Dan setelah melewati pintu pertama, kedua dan ketiga, barulah dia berjumpa dengan putri raja itu.

“Silakan, kalau ada yang mau beli keranjang ini. Murah, kok,” kata pedagang keliling itu, sedkit  grogi. Maklum saja, Princess baru saja memerintahkan pintu-pintu yang barusan ia lewati dikunci, dan ia kehilangan omongan.

“Aku mengundangmu bukan untuk membeli daganganmu,” kata Putri, seraya melempar senyum.

“Lho, untuk apa?”

“Aku tertarik ketampananmu. Maukah kamu…..?”

“Putri,” Kata si pedagang, yang mulai menangkap gelagat. “Takutlah kepada Allah. Janganlah berbuat sesuatu yang dimurkai-Nya.”

“Kalau tidak mau, aku akan berteriak bahwa kau akan memperkosaku.”

Namun pemuda itu tidak peduli. Bahkan terus berupaya mengingatkan putri raja itu. Sebaliknya sang putri tidak menggubris: hasratnya sudah mencapai puncak. Merasa kata-katanya tidak dihiraukan,  pemuda kita itu minta izin berwudu. Sang putri memanggil pelayan untuk menyediakan air. Selesai wudu, pemuda itu berdoa:

“Ya Allah. Aku diajak bermaksiat. Aku lebih suka jatuh dari loteng ini daripada berbuat dosa kepada-Mu.”

Lalu ia membaca basmalah. Dan, oops, dari ketinggian, pemuda itu terjun bebas. Tapi mahakuasa Allah, yang lebih cepat mengirimkan malaikat-Nya untuk menyelamatkan sang pemuda.

“Ya, Allah. Jika Engkau berkehendak, berilah aku rezeki yang cukup sehingga aku tidak berjualan  keranjang lagi,” begitu doanya sekarang.

Arkian, Allah mengirim belalang emas. Maka dengan suka cita pemuda itu memasukkannya ke dalam sakunya, sampai penuh.

“Ya Allah. Jika Engkau memberiku rizki di dunia, maka berkahilah rezeki ini.”

“Yang Allah berikan kepadamu,” begitu tiba-tiba terdengar suara, entah dari mana, “hanya seperempat dari pahala kesabaranmu bertahan dari gejolak nafsumu, sampai-sampai kau rela menjatuhkan diri dari loteng.”

“Ya Allah,” katanya lagi. “Aku tidak menginginkan sesuatu yang akan mengurangi pahalaku di akhirat nanti.”

Selesai dengan doa itu, tiba-tiba belalang emas di sakunya lenyap. Tapi pemuda itu tidak menyesal. Dia segera pulang, sementara dagangannya tertinggal di Istana.

Setan, yang detik per detik mengikuti peristiwa itu, ditanya malaikat: “Mengapa kamu tidak mampu menyesatkan tukang keranjang itu?”

“Susah,” jawabnya. “Orang itu berani mengorbankan dirinya untuk keridhaan Tuhannya.”

Nabi Yahya, Abu Bakr dan Umar

Kisah berikut tentang perjumpaan Nabi Yahya dengan Iblis yang membawa perangkap.

“Untuk apa itu, Iblis?”

“Ini syahwat, untuk memikat manusia.”

“Adakah padaku yang bisa kaujerat?”

“Tak ada,” kata Iblis. “Tapi pernah terjadi malam. Engkau makan kenyang, lalu aku menjeratmu, sehingga engkau malas sembahyang.”

“Ah, kalau begitu aku tidak akan makan kenyang lagi.”

“Menyesal sekali, aku sudah membuka rahasia itu kepadamu.”

Kata guru ngaji di kampung, orang yang makan kenyang malas beribadah. Tubuh menjadi gemuk, badan terasa berat, dan bawaan-nya tidur melulu. Kata mereka, “Jika kamu dalam keadaan kenyang, anggaplah dirimu sedang lumpuh.” Abu Bakr r.a., pernah mengatakan, “Sejak aku masuk Islam belum pernah aku mengenyangkan perut, karena ingin merasakan nikmatnya ibadah.”

Adapun kisah ketiga lebih merupakan peristiwa biasa. Syahdan, Khalid ibn Al-Walid, panglima perang itu, suatu hari mengundang Umar bin Khattab untuk jamuan makan.

“Kita akan melahap santapan yang enak-enak ini,”  kata Umar. Tetapi bagaimana nasib orang-orang fakir Muhajirin, yang belum pernah kenyang dengan roti yang jelek sekalipun?”

“Amirul Mukminin, itu ’kan sudah lampau. Ayolah cicipi,” ujar Khalid. “Lagi pula, bagi mereka sudah ada kenikmatan di surga, dan mereka sudah mendapatkannya.”

“Memang, mereka sudah beroleh surga dengan berbagai macam kenikmatannya. Sedangkan kita di sini hanya dapat makanan yang enak-enak saja seperti ini. Cilaka, Khalid. Jauh sekali bedanya dari mereka.”

Adakah Sayidina Umar khawatir pahalanya bakal berkurang dengan menjalani hidup nyaman? Yang pasti, ia memilih hidup pas-pasan karena khawatir hidupnya akan lebih enak dari hidup Nabi dan Abu Bakr. “Anda sudah membuat tugas pengganti Anda sangat sulit,” katanya kepada Abu Bakr dulu, ketika menerima barang inventaris yang hanya seekor unta dan sehelai permadani

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda