Ramadan

Perjumpaan Mesra Dengan Tuhan

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Perjumpaan mesra dengan Sang Maha Pencipta pasti menjadi idaman bagi setiap orang yang beriman. Namun demikian seberapa banyak orang yang mempersiapkan diri untuk perjumpaan tersebut, lebih serius dibanding mempersiapkan diri bertemu dengan pacar duniawinya, dengan penguasa dunia seperti Bupati, Gubernur, Menteri atau Presiden? Waallahualam.

Dalam penutup Surat Al-Kahfi (18:110), Allah Swt berfirman kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. untuk mengingatkan manusia sebagai berikut, “Barangsiapa  yang berharap perjumpaan (mesra) dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia  mempersekutukan  dalam beribadah kepada Tuhannya sesuatu apa pun.”  Allah juga menegaskan, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiya’: 107).

Fungsi, peran dan tugas Rasulullah, tentu saja beserta ajaran-ajarannya, telah digariskan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), artinya, Gusti Allah mengirimnya sebagai rahmat untuk semua orang. Barangsiapa menerima rahmat ini dan berterima kasih atas berkah ini, dia akan bahagia di dunia dan akhirat. Namun, barangsiapa menolak dan mengingkarinya, dunia dan akhirat akan lepas darinya, seperti yang Allah peringatkan, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah (perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah) dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahanam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (Ibrahim:28-29).

Ayat tersebut kembali menegaskan syarat perjumpaan dengan Tuhan, yakni amal saleh dan tidak mempersekutukanNya. Itulah iman dan amal saleh, yang harus ditunaikan oleh manusia sebagai khalifah fil ard yang berkiprah mengikuti junjungannya, Nabi Besar Muhammad Saw.

Perihal manusia selaku khalifah fil ard, Prof.K.H.Ali Yafie dalam buku Merintis Fiqh Lingkungan Hidup halaman 38 menyatakan, manusia adalah pengemban amanah Allah Swt. untuk menjaga atau memelihara dan mengembangkan alam demi kepentingan kemanusiaan. Dalam rangka ini ada sepotong ayat yang diulang-ulang di banyak tempat dalam Al Qur’an, yakni: ‘la tufsidu fil ardhi ba’da ishlahiha.’ Janganlah membuat kerusakan  di muka bumi setelah ditata (oleh Allah) (antara lain Al-A’Raaf : 56 dan 85).

Dalam rangka mengemban amanah memelihara dan mengembangkan kehidupan itu, Prof.Ali Yafie merumuskan 4 (empat) macam penataan kehidupan sesuai kaidah fikih yaitu, pertama  penataan  hubungan antara manusia selaku makhluk dengan Allah Swt sebagai khaliknya. Kedua, penataan hubungan manusia dengan sesamanya. Ketiga, penataan hubungan manusia dalam lingkungan keluarganya dan keempat, penataan tertib pergaulan manusia yang menjamin keselamatan dan ketenteramannya dalam kehidupan.

Betapa rapi Allah Yang Maha Kuasa mengatur keseimbangan alam raya dan kehidupan seluruh makhluknya, ditunjukkan antara lain dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah yang menceritakan sabda Rasulullah, “Salah seorang Nabi dari Nabi-Nabi (Allah) pernah disengat oleh seekor semut, lalu dia memerintahkan orang untuk membakar sarang semut itu, maka Allah mewahyukan kepadanya: ‘Karena seekor semut yang telah menyengatmu maka engkau membakar satu umat dari umat-umat yang bertasbih (kepada Allah)? Mengapa pula tidak seekor semut saja (yang menyengatmu yang engkau bunuh)!'” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Sebuah contoh lain lagi mengenai pola hubungan manusia dengan binatang dikisahkan dalam  sebuah hadis yang sangat terkenal, Kanjeng Nabi bertutur, “Saat seekor anjing memutari sebuah sumur hampir saja rasa haus membunuhnya, tiba-tiba salah seorang pelacur dari pelacur-pelacur Bani Israil melihatnya, maka segera dia membuka sepatunya (lalu dia mengambil air dengan sepatunya itu) kemudian dia memberi minum kepada anjing itu, maka dengan sebab tersebut diampunkan (dosanya).” (Hadis Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Kisah semut dan anjing di atas nampak begitu sepele, namun mengungkapkan ternyata begitu besar pengaruh amal saleh bagi manusia, meskipun ia hanyalah seorang pelacur yang bergelimang dosa, bahkan dari golongan Bani Israel pula. Semoga tulisan-tulisan pendek ini menginspirasi kita dalam memperbanyak amal saleh yang diridhoi Gusti Allah Yang Maha Pengasih. Amin.

(Mutiara Hikmah Puasa, B.Wiwoho).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

1 Comment

  • Maasya Alloh, ini yg kita cari. Bukan hanya dg Sahabat masa kecil tetapi dg Alloh yg Mahabesar, Allohu akbar

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • hamka
  • tabloid-panjimasyarakat