Mutiara

Makna Sebuah Mimpi

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Dari seorang bekas budak, Thariq ibn Ziad menjadi panglima yang menaklukkan Spanyol. Tapi alih-alih mendapat tanda jasa, ia malah dipecat. Tanpa pesangon pula.

Apa arti sebuah mimpi?

Bagi Thariq ibn Ziad: bertambahnya keyakinan untuk menang. Di kapal, dalam perjalanan dari Afrika Utara ke Spanyol, panglima ini tertidur. Ia bermimpi melihat Rasulullah s.a.w. dikelilingi para sahabat. Semuanya berselempang pedang. Di situ tiba-tiba Nabi berkata: “Thariq, ayo maju terus!” Ia melihat seolah beliau-beliau itu sedang bergerak menuju Andalusia. Dan segera terbangun.

Thariq, dan 7.000 tentaranya, mendarat 18 April 711 di bibir barat daya Benua Eropa itu. Tindakan pertama: memerintahkan seluruh kapal dibakar. Lalu naik ke bukit, berpidato. Petikannya:

“Sekarang, kita tinggal punya dua pilihan: menang atau mati! Di belakang kita terbentang lautan, sedangkan di depan musuh menghadang. Tidak ada jalan mundur. Semua kapal sudah kita bakar. Barangsiapa lapar, ambillah makanan dari tangan lawan. Barangsiapa butuh senjata, rebutlah dari tangan lawan.”

Luar biasa. Pasukan bergerak ke utara, dan menduduki sebuah kota kecil bernama Cartegia –tanpa perlawanan berarti. Waktu itu tentara Raja Lethric memang sedang berkonsentrasi di Pampalona, menghadapi tentara Prancis. Tapi begitu mendengar info pasukan muslimin Arab dan Berber sedang memasuki wilayahnya, ia kerahkan 40.000 personel ke selatan, hingga Cordova (Arab: Qurthubah). Dia sendiri  yang pegang komando.

Thariq, setelah mengkalkulasi kekuatannya sendiri, akhirnya menyimpulkan: tidak mungkin melawan tentara Goth. Ia segera minta tambahan personel ke Musa ibn Nusair, dan gubernur Afrika Utara ini mengirimkan 5.000 orang.

Kedua pasukan akhirnya berhadapan di Lembah Lugo, 19 Juli. Dan perang delapan hari itu dimenangi pasukan Thariq. Rupanya telah terjadi salah perhitungan di pihak lawan. Dua komandan, Sebsert, di sayap kiri,  dan Appa di sayap kanan, lari bersama pasukan mereka. Semula  mereka mengira orang-orang Arab dan Berber itu masuk ke Andalusia sekadar mau merampas lalu balik lagi ke Afrika. Adapun Lethric tidak jelas nasibnya. Ada yang menyebut, sang raja tewas di medan perang. Ada pula yang bilang mati tenggelam di Sungai Lugo ketika hendak lari. Sementara kabar lain menyebut dia berhasil lari ke utara dan menghimpun pasukannya yang kocar-kacir.Toh sejak pertempuran yang menelan banyak korban di pihaknya itu, Lethric tidak pernah nongol lagi. Sementara pasukan Thariq terus bergerak. Sasarannya kini adalah Toledo (Arab: Thalathilah), kota kediaman Raja Goth.

Sebenarnya, sepanjang yang diingat Musa ibn Nushair, Thariq hanya diperintahkan merintis jalan bagi pasukan yang akan dipimpin Musa sendiri. Tapi mengapa ia terus mendesak pasukan Goth? Rupanya ia berpikir, jika kembali ke Afrika Utara, ia akan dihadang di perjalanan pulang. Lagi pula, kalau tentara yang baru menang itu tiba-tiba disuruh berhenti, bisa-bisa semangat juang mereka turun.

Ada yang meyebut, Musa sesungguhnya iri dengan prestasi mantan budaknya itu. Karena itu setelah menunjuk Abdullah, putranya, sebagai penguasa di Qairuan, sang gubernur berangkat ke Spnyol (April 712) membawa 10.000 tentara, menempuh rute yang tidak dilalui Thariq. Akhirnya tiba di Sidonia, lalu bergerak ke Carmona,merebut Cordova dan Sevilla, dan tiba di Toledo (Juli 713) yang sudah direbut Thariq. Di sini Musa dan Thariq bertemu – dalam suasana tidak menyenangkan. Musa marah. Dan seketika memecat Thariq. Tapi konon Thariq mengemukakan beberapa alasan dan mohon maaf. Itu diterima. Thariq masih mendapat kesempatan menjadi pemimpin pasukan bawahan. Mereka tinggal di Toledo selama musim dingin, sebelum bergerak ke Zaragossa.

Ada yang diperbuat Musa selama di Toledo. Ia memerintahkan pembuatan uang logam bertuliskan “Bismillah. La Ilaha Illallah Wahdah. La ilaha ghairuh” pada satu muka, dan “Dirham ini dikeluarkan di Andalusia tahun…” di sisi muka lain. Juga mengutus satu rombongan yang dipimpin Ali ibn Rabah untuk melapor ke Khalifah Al-Walid ibn Abdil Malik di Damaskus, sambil membawa rampasan perang. Tapi khalifah Umaiyah ini rupanya tidak begitu merestui tindakan gubernur yang sebenarnya hanya diberi tugas mengurusi Afrika Utara bagian barat itu.

Al-Walid berkirim surat agar Musa dan Thariq menghadap seketika. Musa patuh. Menjelang keberangkatan, dia mengangkat putranya, Abdul Aziz, menjadi penguasa Andalusia, berkedudukan di Sevilla. Ketika tiba di Tanjah (Tanger), Afrika Utara, ia mengangkat putranya yang lain, Marwan, sebagai penguasa setempat, melengkapi pengangkatan Abdullah untuk Qairuan sebelumnya.

Ketika sampai di Palestina, ada utusan dari Pangeran Sulaiman ibn Abdil Malik, adik Khalifah, supaya mereka tidak tergesa-gesa, sehingga bisa sampai di Damaskus setelah Sulaiman menjadi raja (waktu itu Khalifah sakit keras). Tetapi Musa (dan inilah kekeliruannya) justru ingin mengejar Al-Walid. Nyatanya, Khalifah keburu mangkat sebelum mereka berdua sempat menghadap.

Dan kini nasib Musa dan Thariq (yang dalam perjalanan bertengkar: Thariq ingin juga diakui jasa-jasanya di Spanyol, sedangkan Musa ingin memonopolinya)  berada di tangan Sulaiman. Dan sungguh menyedihkan. Sang Khalifah baru justru memecat mereka. Musa dijebloskan ke penjara. Thariq dibiarkan terlunta-lunta tanpa pesangon. Ia hidup dari minta-minta, hingga akhir hayat. Politik masa itu bukan main kejam.

Hanya nama Thariq yang abadi. Nama itu, Anda tahu, dilekatkan pada bukit yang di darati di Spanyol, juga selat yang ia seberangi: Jabal Thariq alias Jibraltar.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda