Tasawuf

Dulu, Ketika Aku Jadi Polisi

Kisah tentang sufi tentang masa lalu polisi (foto : Ev/Unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Inilah akibat menganiaya orang dengan kekuasaan. Kisah polisi Bani Israil yang digigit  ikan hasil rampasan

Betapa sering kekuasaan dipamerkan, khususnya ketika berhadapan dengan orang lemah. Dan inilah kisah seorang polisi Bani Israil yang menganiaya anak yatim. Kapan dan di mana peristiwa itu terjadi, tidak disebutkan. Namun demikian, kisah ini cukup masyhur di kalangan  pesantren, khususnya yang menggeluti dunia tasawuf.  

Syahdan, seorang muda dari Bani Israil sedang melaut. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berseru: “Ingatlah, siapa saja yang melihat kepadaku, hendaknya ia tidak berbuat zalim kepada siapa pun, lebih-lebih kepada anak yatim.”

Anak muda itupun mendekatinya. Katanya, “Hai, Hamba Allah, bagaimana soal anak yatim itu?”

Yang ditanya, yang juga orang Israil, tidak langsung menjawab. Malah ia bercerita tentang dirinya. “Aku ini, dulu polisi,” kata Pak Tua yang ternyata sekarang berprofesi nelayan itu.

“Suatu hari aku berpatroli di pantai, dan melihat seorang anak sedang memancing.”

“Terus Anda usir?”

“Tidak, aku hanya minta ikan yang ia dapat.”

“Dikasih?”

”Itulah… Berani-beraninya dia menolak. Dia tidak takut gertakanku. Aku marah. Kuhajar dia dengan pecut, dan ikanya aku rampas. Dia rupanya anak yatim.

“Bapak kemudian menyesal, kan?”

Sotoy kamu. Dengar dulu cerita saya.”

“Jangan sewot dong, Pak. Mentang-mentang aparat.”

“Sudah mantan.”

“Ya, silakan teruskan, Pak Mantan.”

Pensiunan polisi itu bercerita, di tengah jalan, ikan rampasan itu menggigitnya. Ia mencoba melepaskannya, tapi sia-sia. Baru setelah sampai di rumah, dan anggota keluarganya membantu, ikan itu terlempar. “Tangan saya bengkak, Dik. Sakit sekali.” Lalu ia memeriksakannya ke dokter. Pak Dokter menyatakan, bekas luka gigitan itu tidak akan sembuh, dan tangan harus dipotong. “Jika tidak,” katanya, “bisa menyebabkan kematian.”

Jadinya, mau tak mau, ia harus merelakan telapak tangannya pergi.Tetapi, alih-alih sembuh, dia malah merasakan sakit yang luar biasa, sehingga tidak bisa tidur. Keesokan harinya ia kembali ke dokter,yang kemudian menyarankan tangannya diamputasi lebih lanjut. Saran itupun dituruti. Hasilnya? Sami mawon.

“Tapi sekarang kelihatannya tagan Bapak oke-oke saja,” kata pelaut Israil itu sambil mengamat-amati lengan Pak Tua yang buntung.

“Ini juga ada ceritanya. Hai, Anak Muda. Mau dengar, tidak?”

Mulailah ia bercerita. Ada orang yang bertanya kepadanya, katanya: “Apa penyebab tangan kau begitu?”

Ketika ia menceritakan kisahnya, orang itu bilang: “Jika sejak dini kau menemui anak yatim yang kauminta ikannya secara aniaya itu, untuk meminta maaf dan menghalalkan ikannya, tanganmu tidak akan begitu. Jadi, sebelum penyakitmu itu menjalar  ke seluruh tubuh, kaucari anak itu.”

Tidak susah. Sebab anak itu memang biasa mancing di situ. Tanpa ragu-ragu lagi ia bertekuk lutut, dan mencium kakinya. “Saya minta maaf,” katanya.

“Bapak ini siapa?” Anak itu keheranan.

“Saya ini polisi yang dulu mencambuk kamu, lalu merampas ikanmu,” jawabnya, seraya menceritakan semua yang dialaminya,

“Lalu apa reaksi si anak itu?” tanya si anak muda.

“Ia menangis melihat keadaanku. Katanya, “Bapak saya maafkan. Saya halalkan ikan yang Bapak ambil dulu itu.

“Terus tangan Bapak sembuh, begitu?”

“Jangan sinis. Saya bertanya kepada dia, apakah dia berdoa ketika ikannya saya rampas dulu.

Dia menjawab, ya. Begini: ‘Ya Allah, orang itu telah menganiaya diriku, dengan kekuasaan dan kekuatannya di atas kelemahanku. Karena itu balaslah.’ Nak, percayalah, sekarang saya sudah tobat.”

“Makanya, Bapak sekarang sehat.”

Hikmah: Janganlah gunakan kekuasaanmu untuk menzalimi orang, terlebih mereka yang lemah.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda