Mutiara

Mengoperasi Islam dari Bisul-bisulnya

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kata Nabi, orang Islam itu adalah yang hari ininya lebih baik dari hari kemarin, dan yang hari esoknya lebih baik dari hari ini. Karena itu,  ijtihad   merupakan hal yang niscaya. Bagaimana Pandangan Soekarno tentang Muslim sejati?

Setelah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, presiden Republik Indonesia yang punya minat besar terhadap kajian Islam adalah Bung Karno. Pada Gus Dur tidak usahlah diherankan, sebab dia dididik di pesantren, ayah dan kakeknya, KH Wahid  Hasyim dan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari adalah ulama terkemuka dan pemimpin organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama. Bung Karno memag pernah ”mesantren” di rumah pemimpin Sarekat Islam Tjokroaminoto ketika sekolah lanjutan di Surabaya, tetapi latar belakang keluarganya boleh dikatakan abangan, meminjam istilah C. Geertz.

Bung Karno punya minat serius terhadap Islam ketika dia dibuang ke Ende, yang kemudian berlanjut di tanah pembuangan keduanya di Bengkulu. Di sini  mengajar di SD Muhammadiyah dan sekaligus bertemu jodoh dengan Fatmawati,  putri pemimpin Muhammadiyah setempat. Di Ende ia tumpahkan perhatiannya melalui korespondensi dengan Ustad A. Hassan, pemimpin Persis di Bandung, sedangkan di Bengkulu ia curahkan ke dalam pelbagai karangan yang dimuat surat kabar dan  majalah.

Dalam surat-suratnya dari Endeh yang terkenal itu, BK berbicara tentang bagaimana mengoperasi Islam dari bisul-bisulnya, bagaimana memerdekakan alam pikiran dari kejumudan,”taklidisme, hadramautisme, dari sikap dan praktek ”mengambing, ”kolot bin kolot, ”mesum mbahnya mesum, dan dari lingkungan ”dupa dan korma dan jubah dan celak mata..

Bagi Bung Karno, ”Islam is progress. Suatu keyakinan yang harus terus-menerus diterjemahkan dan diperbarui tiap zaman. Ini karena masyarakat ”adalah barang yang tidak bisa diam, tidak tetap, tidak mati, tetapi….bergerak senantiasa, maju, berevolusi dan dinamis. BK, dalam kata-katanya sendiri, ingin menangkap Islam sebagai ”api, bukan Islam sebagai abu, apalagi Islam sebagai sontoloyo. BK,  dengan ungkapan-ungkapannya yang sarkastis itu,,  memang terkesan royal membombardir paham dan praktek keberagamaan yang dianggapnya jumud (beku) dan tidak rasional. Salah satu sumber kejumudan itu, menurut BK, karena kaum muslimin menganggap fikih sebagai satu-satunya tiang keagamaan. ”Kita lupa, atau tidak mau tahu, bahwa tiang keagamaan ialah terutama sekali terletak di dalam ketundukan kita punya jiwa kepada Allah SWT. Kita lupa bahwa fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murni-nya, belum mencukupi semua kehendak agama,”” tulisnya dalam artikel “Islam Sontoloyo” yang dimuat majalah Pandji Islam terbitan Medan. .

Bung Karno suka melahap buku sejak kecil

Meski begitu, BK mengingatkan pembacanya bahwa diri-nya tidaklah membenci fikih. “Saya bukan pembenci fikih. Saya malahan berkata bahwa tiada masyarakat Islam dapat berdiri zonder hukum-hukumnya fikih.” Jadi? ’’”…saya hanyalah pembenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fikih itu sahaja, kepada hukum-hukumnya syariat itu sahaja.””  di akhir tulisannya BK menyatakan, “Jika pemuka-pemuka kita hanya mau bersifat ulama-ulama fikih sahaja dan bukan pemimpin kejiwaan sejati, maka janganlah ada harapan umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai kekuatan jiwa atau kekuatan jiwa yang hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini. Janganlah kita kira diri kita sudah mukmin, tetapi hendaklah kita insaf bahwa banyak di kalangan kita yang Islam-nya masih Islam sontoloyo!”

Untuk membebaskan umat dari Islam yang sontoloyo, BK, dalam artikelnya ””Memudakan Pengertian Islam”, bicara soal perlunya pemikiran baru. Panta rei, segala hal berubah, ia mengutip Heraclitos. Pokok tidak berubah, agama tidak- berubah, tetapi pengertian-pengertian manusia tentang ini selalu berubah. Koreksi pemahaman selalu ada. Islam mandek berabad-abad, kata dia, karena ditutup-nya bab el ijtihad. Dan bisa berkembang kembali, katanya-, dengan mengutip Farid Wajdi, seorang pembaru dari Mesir, hanya jika penganut-nya menghormati  kemerdekaan roh, kemerdekaan akal, dan kemerdekaan pengetahuan.

Bagi Bung Karno, Muslim sejati adalah muslim progresif. Maka, sebagai konsekuensinya  seorang Muslim dituntut untuk terus bergerak, dinamis, tidak boleh berhenti. Gerak, dengan demikian, harus menjadi bagian dari etos Islam. Meminjam istilah Nurcholish Madjid, seorang Muslim dituntut untuk membentangkan garis lurus antar dirinya dan Allah, yang kelurusannnya itu dijamin dan diterangi hati nurani. Nurani berarti cahaya yang menerangi jalan kita itu. Dinamika, progresivitas, terus berbuat baik dan lebih baik, itulah yang dituntut dari seorang Muslim. Seperti kata Nabi, “Orang Islam itu adalah yang hari ininya lebih baik dari hari kemarin, dan yang hari esoknya lebih baik dari hari ini.” .

Sejalan dengan itu maka ijtihad, seperti juga diingatkan Bung Karno,  merupakan hal yang niscaya. Jika ijtihad adalah usaha terus-menerus dengan penuh kesungguhan untuk menangkap pesan agama dan bagaimana merealisasikan pesan tersebut dalam kaitannya dengan kenyataan ruang dan waktu, maka meninggalkan ijtihad berarti menganggap sudah Soekarno padahal ini semua hasil manusia sendiri yang sifatnya nisbi.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa ilmu tidak punya batas (limit), sebab batas ilmu adalah ilmu Allah yang tidak terjangkau oleh siapa pun makhluk-Nya, Yang ada pada manusia adalah perbatasan (frontier) dari ilmu yang dikembangkan oleh manusia sendiri. Oleh karena itu, sesuai dengan prinsip ijtihad manusia harus terus berusaha untuk menembus ‘perbatasan’ itu, dengan temuan-temuan baru, kreasi-kreasi baru. Selain dinamis, progresif, seorang Muslim dituntut kreatif- inovatif!

Di bagian penghujung kitab Muqaddimah-nya, Ibn Khaldun melukiskan etos keilmuan sebagai anak panah yang menembus dinding perbatasan ilmu pengetahuan manusia saat itu, bukannya yang kembali ke belakang lantaran tidak mampu atau tidak mau menembus dinding itu – sebuah sikap yang menghasilkan penghayatan ilmu secara dogmatis dan serba final.

Sadar akan kenisbian manusia, maka hasil sebuah ijtihad tidak selamanya benar. Keterbatasan membuat manusia selalu mungkin salah. Tetapi berangkat dari niat tulus guna meperoleh ridha, perkenannya, maka kegiatan ijtihad harus dilakukan tanpa takut salah. Bukankah takut salah justru kesalahan yang lebih berbahaya? Orang yang berijtihad, demikian sabda Nabi, jika benar akan mendapat dua pahala, dan jika salah, masih akan mendapat satu pahala Bukankah ini sebuah dorongan yang kuat untuk berkreasi dan berinovasi?

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda