Ramadan Uncategorized

Berkebun Pohon Iman

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Dalam catatan yang lalu telah kita bahas “Beriman Tanpa Amal Saleh Tak Banyak Artinya?”. Dalam bahasa gaul sekarang, “Percaya kepada Allah, apakah otomatis kita orang baik? Apakah otomatis masuk surga?” Ternyata belum cukup. Harus ditambah dengan bukti perbuatan berupa amal saleh. Boleh saja kita rajin salat, puasa, zakat dan berkali-kali menunaikan ibadah haji bahkan umroh setiap tahun, tetapi jika hakikat dari semua jenis ibadah tadi tidak tercermin dalam perilaku dan perbuatan kita sehari-hari, apalah artinya. Apalagi jika kemudian puasa atau haji “tomat”, berangkat tobat pulangnya kumat. Maksudnya habis bulan Ramadan atau pulang haji kembali bermaksiat.

Mengakui kemahasucian Allah, tapi sementara itu dengan enaknya kita mencampuradukkan yang halal dengan yang haram, yang haq dengan yang batil, melakukan aneka perbuatan yang melanggar laranganNya, berlaku zalim terhadap sesamanya termasuk pada alam raya. Mengakui kemahakuasaan Allah, tetapi sementara itu kita menghamba pada harta dan tahta, sehingga untuk meraihnya kita terjang semua laranganNya, menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Dengan enak kita melanggar amanah, menyalahgunakan kekuasaan, curang, merampas  hak dan menindas orang, main komisi, suap, sogok, hadiah dan segala macam jenis rasuah lainnya, membiarkan kemungkaran di depan mata bahkan bergelut dengannya, bergelimang keharaman dan kezaliman, dengan seribu satu dalih. Apalah artinya. Apatah artinya.

Demikianlah, iman sangat penting meski tidak cukup hanya itu. Karena pangkal dan bibit tumbuhnya berbagai amalan pekerjaan atau pun usaha dan perjuangan adalah iman. Al Qur’an Surat Ibrahim ayat 24 – 25 menggambarkan pohon keimanan itu tumbuh dari bibit keyakinan di dalam kalbu masing-masing. Iman yang tumbuh mekar itu laksana pohon yang menjulang ke angkasa, bercabang-cabang, berbuah sepanjang tahun.

Mempertegas tamzil tersebut Kanjeng Nabi Muhammad Saw menambahkan, “Iman itu bagaikan pohon yang besar lagi tinggi dan memiliki tujuh puluh cabang; yang paling puncak adalah laa ilaaha illaa Allaah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan.”

Dengan penegasan tersebut Baginda Rasul telah memberikan gambaran hubungan antara iman dan amal saleh, melalui sebuah contoh yang amat sederhana dan bisa dilakukan oleh semua orang yang sehat, yakni menyingkirkan duri dari jalanan agar tidak mencelakakan orang lain.

Maka wahai sahabatku, jika kita mengaku memiliki iman yang berfungsi dengan baik di dalam diri kita, maka kita harus tidak akan tinggal diam. Harus aktif dan dinamis berbuat sesuatu guna membuktikan keimanan kita dalam kehidupan sehari-hari, yang kita sebut amal perbuatan.

Mengenai jenis-jenis amalan, guru kita Prof.K.H.Ali Yafie mengajarkan ada tiga. Pertama, amalan atau pekerjaan hati nurani. Amalan hati nurani banyak sekali hubungannya dengan pekerjaan pemikiran, karena gejolak hati itu memantul ke pemikiran. Amal saleh dalam hal ini ialah memikirkan hal-hal yang baik, berguna dan bermanfaat, yang bisa menyelamatkan serta membantu orang lain. Bukan sebaliknya membiarkan orang lain dalam kesulitan apalagi mempersulit orang lain.

Kedua, pekerjaan lidah yang lazim disebut omongan. Ini yang paling aktif karena banyak sekali omongan  manusia yang tidak terkontrol oleh batin dan pikirannya. Lidah ini bagaikan pisau bermata seribu yang amat sangat tajam di semua sisi matanya. Ia bisa bermanfaat tapi bisa juga merusak. Oleh sebab itu marilah kita kontrol dan kelola dengan baik agar memberikan kemaslahatan yang sebesar-besarnya bagi sesamanya.

Ketiga, pekerjaan seluruh fisik kita. Gerak-gerik mata, hidung, kaki, tangan dan seluruh anggota tubuh kita itu termasuk amal.

Tiga jenis amalan di atas harus dilaksanakan sesuai petunjuk agama, agar amalan-amalan batin kita, amalan lisan serta seluruh anggota tubuh menjadi amalan yang mulia dan baik sehingga memperoleh ridho dan berkah dari Gusti Allah Yang Maha Pengasih. Bukan mentang-mentang merasa yakin tujuan kita baik, misalkan membangun masjid, maka tidak peduli bagaimana caranya, apatah menggunakan uang hasil korupsi dan uang hasil maksiat. Betapa tega kita membangun rumah Allah, memberikan persembahan kepada Allah Yang Maha Suci dengan barang-barang yang kotor. Naudzubillah.

Semoga dengan puasa kita di bulan Ramadan ini kita bisa berkebun pohon iman yang berbuah amal saleh nan lebat sepanjang zaman. Amin. (Mutiara Hikmah Puasa, B.Wiwoho).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024