Mutiara

Hidup Dengan Doa

Written by A.Suryana Sudrajat

Berjuta orang menemukan satu-satunya kepasan  hidup dalam doa dan sembahyang, kata Gandhi. Contoh doa Abbas r.a. Tapi bagaimana doa orang-orang yang suka mengadu domba?

Bagaimana kita mampu bertahan hidup? Tidak kelabu, tidak merasa kosong?‘

“Saya sudah merasakan pengalaman paling pahit, yang sifatnya umum maupun pribadi,’’ kata Mahatma Gandhi. Itu, seperti diakuinya, pernah membuatnya putus asa. “Hanya karena doalah saya dapat mengatasinya. Tanpa doa hidup merasa kelabu dan kosong.’’

Menurut Gandhi, tokoh yang oleh majalah Asiaweek disebut paling berpengaruh di Asia pada abad ke-20, doalah yang menyelamatkan jiwanya. “Tanpa itu mungkin sudah lama saya gila.”  Pada tahap tertentu asketis ini merasa bahwa, seperti halnya tubuh yang tidak dapat hidup tanpa makanan, jiwa tidak akan hidup tanpa doa. Bahkan makanan tubuh, katan dia, tidak seperlu doa untuk jiwa. Lapar pangan sering diperlukan untuk menjaga kesehatan, sebaliknya tidak dikenal kondisi lapar doa. Karena itu, orang tidak mungkin jenuh doa.

Gandhi juga mengaku tidak pernah kehilangan rasa damai, meski dalam keadaan tidk berdaya. Dan, lagi-lagi, kedamaian itu bersumber pada doa. “Saya bukan cerdik cendekia. Tetapi dengan rendah hati saya menyatakan diri sebagai orang yang berdoa.”

Tiga mahaguru dunia, Budha, Yesus, dan Muhammad, demikian Gandhi, memberi kesaksian sudah menemukan cahaya melalui doa – dan tidak mungkin mereka hidup tanpa itu. Dan kini, “berjuta-juta orang menemukan satu-satunya kepuasaan hidup dalam doa dan sembahyang.”

Nabi s.a.w. pernah menyatakan doa sebagai ibadat. Lalu membacakan: “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, Aku kabulkan kamu. Sesungguhnya mereka yang menyombongkan diri dari ibadat kepada-Ku akan memasuki jahanam dalam keadaan hina’.” (Q.S. 40:60). Lalu Nabi memberi petunjuk. Di antaranya:

  • Sampaikan doa berulang-ulang. Ibn Mas’ud menuturkan, Nabi, kalau bedoa, mengulanginya tiga kali (HR Muslim)
  • Jangan cepat merasa tidak dikabulkan. Rasul bersabda, “Doa kalian akan dikabulkan selagi tidak tergesa-gesa.” Lalu ada yang berkata,”Saya sudah berdoa tapi belum juga dipenuhi.” Sahut Nabi: “Jika engkau berdoa, berdoalah sesering mungkin. Engkau berdoa kepada Dzat yang mulia.” (HR Bukhari dan Muslim).
  • Berdoalah dengan optimisme. Kata Nabi,  “Jangan berdoa dengan ‘Ya Allah, ampunilah jika  Engkau menghendaki…’ Hendaknya seseorang memastikan permintaannya, karena bagi Allah tidak ada orang yang bisa memaksa-Nya.” (HR Bukahari Muslim). Hadis lain: “Berdoalah kepada Allah sambil kamu yakin doamu diterima.”

Dasar diterimanya doa, dan sumber keyakinan itu, adalah tobat. Termasuk mengembalikan yang pernah diambil, misalnya, dan menghadap Allah dengan bersih, dengan merasakan keagungan dan kebesaran-Nya. Gandhi bilang, tindakan mengakui kesalahan ibarat setangkai sapu yang menyapu debu dan membuat permukaan lebih bersih dari sebelumnya.

Diriwayatkan  dari Ka’ab ibn Al-Akhbar. Katanya, di zaman Musa a.s. umat pernah dilanda krisis pangan yang parah. Musa dan kaumnya kelur meminta hujan. Tetapi Msa sampai keluar ketiga kalinya, Tuhan belum berkenan. Lalu turun wahyu: “Aku tidak akan memenuhi doamu dan orang-orangmu selagi di antara kamu masih ada yang mengadu domba.” Musa bertanya: “Ya Tuhan, siapa di antara kami yang mengadu domba? Kami usir dia.” Allah menjawab, “Musa, Aku melarangmu mengadu domba, tetapi kamu meminta Aku mengadu domba.” Lalu Musa menyeru kaumnya: “Hai kaumku, bertobatlah kepada Tuhan kamu, tanpa kecuali, dari perbuatan mengadu domba/” Mereka bertobat. Lalu Allah menurunkan hujan.    

Diriwayatkan, Umar ibn al-Khaththab pernah meminta Abbas r.a., paman Nabi s.a.w., berdoa memohon hujan. Abbas berdoa:

“Ya Allah, benarlah bencana tidak akan diturunkan dari langit kecuali dosa para hamba, dan tidak akan tersingkap kecuali lantara tobat. Sudah ada sekelompok kaum yang mendatangi aku untuk memohon kepada-Mu di tempat ini, di temapat tinggal nabi-Mu s.a.w. ini. Tangan-tangan kami ini memohon kepada-Mu dengan penuh dosa,  sementara kami berpesan untuk saling bertobat. Engkaulah Dzat yang memelihara kami. Jangan Kaubiarkan orang menjadi sesat, jangan biarkan orang berpatah hati.. Bocah-bocah sudah merintih, orang-orang tua meminta belas kasihan, suara keras melambung tinggi penuh pengaduan, sedangkan Engkau mahatahu apa yang tersembunyi dan yang lebih tersembunyi. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada mereka sebelum mereka berputus asa dan kemudian hancur. Karena tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali mereka yang ingkar.”

Selesai doa, langit di atas Madinah mulai diselimuti mendung

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566