Cakrawala

Islam dan Budaya Jawa (3) Sunan Bonang Membuat Gamelan Menjadi Meditatif Kontemplatif

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Sunan Bonang yang melegendaris bagi masyarakat Jawa khususnya bagi orang-orang Pantura (Pantai Utara) Jawa, Madura dan pulau-pulau di perairan Jawa Timur, ternyata belum menarik minat para peneliti khususnya peneliti nasional, sehingga agak sulit menemukan referensi tertulis yang mendalam mengenainya. Padahal bagi masyarakat Pantura khususnya para penghayat tasawuf, Sunan Bonang dihormati sebagai ulama perintis yang berhasil mengislamkan masyarakat Jawa yang Hindu/Syiwa-Budha dengan menyusupkan secara halus, lembut dan indah, nilai-nilai keislaman dalam budaya Jawa, memasukkan nama-nama nabi dan malaikat dalam mitologi Jawa pada posisi yang mulia di atas nama dewa-dewa Hindu dan pewayangan.

Beliau juga telah menciptakan gerakan-gerakan beladiri 28 jurus yang diberi nama huruf-huruf Arab, mulai dari Alif sampai dengan Ya’. Melalui jurus-jurus tersebut ia mengajarkan baca-tulis Arab dan Al Qur’an.   Jurus-jurus itu “diisi” dengan dzikir yang  dikombinasikan dengan olah pernapasan yang dinamakan “Rahasia Alif Lam Mim”. Ilmu ini oleh para pengikutnya dilestarikan dalam Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia.

Dalam sejarah kebudayaan Jawa, beliau dikenal sebagai budayawan yang produktif dengan karya-karya yang digemari masyarakat sampai sekarang, mulai dari menciptakan alat musik atau instrumen gamelan Jawa yang disebut bonang, aneka tembang, irama gending atau komposisi musik gamelan dan cerita wayang yang bernafaskan Islam. “Di bawah pengaruh wawasan estetika sufi yang diperkenalkan para wali termasuk Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, gamelan Jawa berkembang menjadi orkestra polyfonik yang sangat meditatif dan kontemplatif. Sunan Bonang pula yang memasukkan instrumen baru seperti rebab Arab dan kempul Campa — yang kemudian disebut bonang untuk mengabadikan sebutan nama populernya —  ke dalam susunan gamelan Jawa” (http://setyodh.wordpress.com).

Tembang “Tombo Ati” gubahannya yang dilantunkan oleh penyanyi Opick empat abad kemudian, digemari masyarakat luas dan menjadi pengganti dering nada sambung telpon genggam.

Dalam karya sastra, ia merupakan penulis risalah tasawuf yang ulung. Ia menggubah tembang-tembang tamzil menjadi suluk-suluk tasawuf yang kental dengan budaya Jawa. Suluk adalah jalan menuju atau untuk mendekat kepada Gusti Allah. Jadi arti sesungguhnya juga sama dengan tarekat. Namun dalam pemahaman dan praksis,  suluk adalah suatu latihan guna mencapai ihwal dan maqam tertentu dalam tarekat.

Di jejaring sosial atau internet dewasa ini, kita bisa menemukan sejumlah tulisan yang menyebutkan suluk-suluk karya beliau antara lain Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur dan Suluk Wasiyat.

Semoga kita bisa mempelajari, memahami, menghayati serta mengamalkan hakekat suluk-suluknya, sehingga kita bisa menghambur dalam pelukan dan belaian kasih sayang Gusti Allah yang Maha Pengasih.

Amin.  

Bersambung (Dari kumpulan tulisan B.Wiwoho : Orang Jawa Belajar Mengenal Gusti Allah).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda