Mutiara

Suluk Jalan Trabas Gus Miek

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kiai nyeleneh penghapal Quran ini biasa keluar-masuk tempat hiburan malam. Berdakwah dan memberi pencerahan kepada mereka yang sedang dalam kegelapan. Apa tanggapannya terhadap salah satu kegemarannya, menenggak bir hitam?

Masih ingat KH  Hamim Tohari Djazuli? Itu lho yang akrab dipanggil Gus Miek. Untuk generasi milenial atau zaman now memang rada-rada asing. Tapi untuk generasi kolonial atawa  “angkatan babe gue”, apalagi yang kaum nahdliyyin alias warga NU, nama Gus Miek pastilah sudah akrab di telinga. Kiai ini, meskipun bukan pemimpin ormas Islam atau politisi, hampir mendekati selebriti atau pesohor dalam bab  kemasyhuran.  

Dalam melaksanakan dakwah, Gus Miek memang berbeda dengan para kiai atau ustadz pada umumnya, yang biasa melakukan syiar dari mimbar ke mimbar.  Ia lebih suka mendatangi kerumunan orang di tempat-tempat maksiat. Maka, tidaklah heran jika hampir tiap malam ia keluyuran, menyusuri jalan-jalan di  Jawa Timur. Keluar masuk klub malam, bercengkerama dengan wanita-wanita penghibur, ngobrol  dengan tukang becak  dan penjual kopi di pinggiran jalan. Ya, untuk memberikan sedikit pencerahan kepada mereka yang sedang dalam kegelapan. Salah satu ajaran Gus Miek yang terkenal adalalah “suluk jalan terabas” alias pemikiran jalan pintas.

Dikisahkan, suatu ketika Gus Miek pergi ke diskotik dan di sana bertemu dengan pengunjung yang sedang asyik menenggak minuman keras, Gus Miek menghampiri mereka dan mengambil sebotol dan meminumnya. Salah seorang pengunjung rupanya  mengenali Gus Miek dan bertanya: ”Gus, kenapa sampeyan ikut minum bersama kami? Sampeyankan tahu ini minuman keras yang diharamkan oleh agama?” Gus Miek pun menjawab, “Aku tidak meminumnya. Aku hanya membuang minuman itu ke laut.” Hal ini membuat mereka bertanya-tanya, padahal sudah jelas Gus Miek menenggak minuman itu. Di antara pegiat hiburan malam, Gus Miek terkenal dengan minuman kesukaannya: bir hitam.

Sampeyan semua ndak percaya kalau aku tidak meminumnya tapi membuangnya ke laut?” tanya Gus Miek. Ia lalu membuka lebar-lebar mulutnya. Dan kata si empunya cerita, orang-orang di situ kaget bukan kepalang karena di mulut Gus Miek tampak lautan bergelombang. Dan yang lebih ajaib, para peminum itu pada bertobat,  meninggalkan minum-minuman keras yang dilarang oleh agama. Itulah  salah satu karomah yang dimiliki Gus Miek.

Pernah pula Gus Miek mendatangi NIAC, suatu tempat perjudian besar di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang,  untuk berdakwah. Ia  pun mengikuti permainan dan mampu memenanginya, sehingga para ‘cukong’ mengalami kekalahan yang besar. NIAC pun yang semula menjadi surga perjudian menjadi tempat yang menakutkan bagi para penjudi.

Contoh lain ketika Gus Miek berjalan-jalan ke Surabaya, ia tiba di sebuah klub  malam, dan tentu saja bertemu dengan cewek-cewek penghibur. Ia lalu  menghampiri salah seorang dari mereka dan menepuk pundaknya, sambil meniupkan asap rokok ke wajah perempuan itu. Perempuan itu pun mundur, dan Gus Miek terus mengejar sambil tetap mengepulkan asap rokoknya. Sampai akhirnya perempuan itu masuk kamar dan ketakutan. Dan tahukah sampeyan?  Setelah peristiwa itu si perempuan tadi tidak muncul lagi di tempat hiburan malam. 

Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940. Ia  adalah putra K.H. Jazuli Utsman, seorang ulama sufi,  pendiri Ponpes Al-Falah Mojo, Kediri. Ketika Gus Miek baru bisa merangkak, ibunya membawa Gus Miek ke kebun untuk mengumpulkan kayu bakar dan panen kelapa. Bayi itu ditinggalkan sendirian di sisi kebun, kemudian dari semak belukar muncul seekor harimau. Spontan sang ibu berlari menjauh dan lupa bahwa bayinya tertinggal. Begitu sadar, sang ibu kemudian berlari mencari anaknya. Tetapi, ibunya melihat harimau itu duduk terpaku di depan sang bayi sambil menjilati kuku-kukunya seperti sedang menjaga sang bayi.

Peristiwa tunduknya hewan ini kemudian berlanjut hingga Gus Miek dewasa. Ia  senang bermain di tepi Sungai Brantas dan melihat orang memancing. Suatu ketika terjadi banjir besar kemudian Gus Miek tergelincir ke sungai dan hilang tertelan gulungan pusaran air. Sampai beberapa jam, santri yang ditugaskan menjaga Gus Miek, mencarinya ke sepanjang pinggiran sungai dengan harapan Gus Miek akan tersangkut atau bisa berenang ke daratan. Ajaib, Gus Miek justru muncul di tengah sungai, berdiri di atas air sebatas mata kaki karena Gus Miek berdiri di atas punggung seekor ikan yang sangat besar, yang menurut Gus Miek adalah peliharaan gurunya.

Pernah pula pada suatu hari, ketika ikut memancing, kail Gus Miek dimakan ikan yang sangat besar dan mengakibatkan Gus Miek tercebur ke sungai dan tenggelam. Pengasuhnya menjadi panik karena tak ada orang yang bisa menolong, hari masih pagi sehingga masih sepi dari orang-orang yang memancing. Setelah hampir dua jam tubuh Gus Miek belum juga terlihat, membuat pengasuh itu putus asa dan menyerah. Karena takut dimarahi orangtua Gus Miek, akhirnya pengasuh itu kembali ke pondok, membereskan semua bajunya ke dalam tas dan pulang tanpa pamit.

Menurut pengakuan Gus Miek, ia pernah bertemu gurunya, yaitu Nabi Khidir. Ikan tersebut adalah peliharaan gurunya dan memberitahu bahwa ia dipanggil gurunya. Akhirnya, ikan itu membawa Gus Miek menghadap Nabi Khidir. Pertemuan itu menurut Gus Miek hanya berlangsung selama lima menit. Tetapi, kenyataannya Gus Miek naik ke daratan dan kembali ke pondok sudah pukul empat sore.

Gus Miek puya  hubungan yang erat dengan KH Hamid Pasuruan, dan K.H. Ahmad Siddiq (Rais Aam PB NU tahun 1980-an), serta melalui keterikatannya pada ritual ”dzikrul ghāfilīn” (pengingat mereka yang lupa). Gerakan-gerakan spritual Gus Miek mengikuti tradisi  kalangan warga NU, seperti melakukan ziarah ke makam-makam para wali yang ada di Jawa maupun di luar Jawa. Gus Miek juga merupakan seorang hafizh (penghapal) Alquran. Ia pun membentuk jamaah sema’an Al-Quran dan jamaah Dzikrul Ghofilin.

 Gus Miek wafat pada 5 Juni 1993 DI RS  Budi Mulya (sekarang RS Siloam), Surabaya.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda