Ramadan

Pembebasan Mekah dari Berhala

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Fathu Makkah   yang melibatkan 10.000 anggota pasukan ini dilakukan secara damai oleh Nabi. Tanpa  satu tetes pun darah yang tumpah. Puasa adalah bulan sejarah. Bagaimana dengan manuver-manuver politik di Tanah Air yang dilakukan di bulan suci ini?

Ramadan bulan yang penuh berkah, tapi jangan lupa ia juga menyimpan hikmah sejarah. Satu di antaranya penaklukan Kota Mekah atau yang disebut fathu Makkah itu. Peristiwa ini terjadi pada 11 Januari 630 atau delapan tahun setelah Nabi hijrah ke Madinah.   Pembebasan  yang melibatkan 10.000 anggota pasukan ini dilakukan secara damai oleh Nabi. Tanpa  satu tetes pun darah yang tumpah. Nabi dan pasukannya menghancurkan berhala yang ada di dalam dan sekitar Ka’bah. Setelah itu Nabi memerintahkan  seseorang untuk mengumumkan: “Semua orang ke muka Ka’bah, Muhammad ingin berkata kepada saudara-saudara.”

Mereka pun berkumpul dengan perasaan cemas. Selain tentara pendudukan Muslim, di sana berkumpul  ribuan orang Mekah bukan-Muslim. Karena waktu sembahyang dhuhur sudah tiba, Nabi memerintahkan muadzinnya, Bilal, seorang Negro, untuk mengumandangkan adzan. Bilal naik ke atas atap Ka’bah.  Nabi memimpin orang-orang Muslim sembahyang, sesudah itu lalu ia membalik kepada penduduk Mekah yang bukan-Muslim dan bertanya apa yang mereka harapkan darinya. Mereka tampak  rikuh dan menundukkan kepala. Tak kuasa  untuk meminta kemurahan hati yang tak sepantasnya bagi mereka.

Dua tahun sebelum pembebasan kota suci itu, Nabi menandatangani perjanjian damai dengan  musyrikin Mekah yang dituangkan dalam Shulh Hudaibiyah. Selain gencatan senjata, perjanjian Hudaibiyah antara lain memberi izin kepada kabilah mana pun yang ingn bergabung ke dalam salah satu kubu: musyrikin Quraisy di Mekah atau kubu Muhammad di Madinah.  Di antara puak yang bergabung ke pihak musyrikin Qurasiy adalah kabilah Bani Bakr, sedangan musuhnya yaitu Bani Khuza’ah berpihak kepada Nabi. Rupanya kesempatan damai ini digunakan oleh kabilah Bani Bakr untuk menyerang Ban Khuza’ah. Serbuan diam-diam Bani Bakr ini ternyata  disokong oleh musyrikin  Quraisy. Banu Khuza’ah pun mengadu kepada Nabi. Upaya pemimpin Quraisy Abu Sufyan untuk meminta maaf atas laku khianat mereka, tidak ditanggapi oleh Nabi. Bahkan Nabi meminta kaum muslimin untuk bersiap-siap ngluruk kota Mekah, yang dilakukan secara damai tadi. 

Sesungguhnya Nabi bisa dengan mudah memerintahkan pembunuhan besar-besaran terhadap musuh-musuhnya. Tapi ia tidak berbuat begitu. Ia juga berkuasa untuk menyita harta benda semua penduduk Mekah.  Itu pun tidak dilakukannya. Begitu pula untuk untuk menjadikan mereka budak. Lalu apa yang dilakukan Nabi  ketika ia melihat orang-orang Mekah yang kemalu-maluan itu? Ia berkata: “Hari ini tak ada beban tanggung-jawab buat kalian. Kalian boleh pergi, kalian bebas.” Setelah itu penduduk Mekkah pun berduyun-duyun memeluk Islam. Salah satunya Attab ibn Asid, salah seorang musuh besar Nabi, yang kemudian diangkat jadi gubernur Mekah oleh Nabi. Hal ini menunjukkan bahwa  Nabi adalah seorang yang cinta damai, sebagaimana missi ajaran agama yang dibawanya. 

Nabi dan rombonganya mengundurkan diri dan kembali ke Medinah untuk meneruskan kepemimpinannya. Dan tidak seorang prajurit Madinah disuruh tinggal untuk menduduki kota yang telah ditaklukannya itu. Mekah, kita ketahui, adalah kota kelahiran Nabi. Dan di kota ini pula beliau memulai dakwahnya selama kurang lebih 13 tahun sebelum akhirnya hijrah ke Madinah. Akhir-akhir ini beredar tulisan di media sosial yang menganalogikan fathu Makkah dengan kegiatan atau manuver-manuver politik  di bulan Ramadan ini, khasnya yang  sehubungan dengan penyelenggaraan pemilihan presiden. Silakan  dinilai,  apakah qiyas seperti itu tepat atau tidak. Puasa, sebagaimana dikemukakan Buya Hamka, memang telah membuat sejarah. Puasa juga, kata pendiri Panji Masyarakat ini  telah mampu menggembleng kader-kader Islam yang jiwa dan harta bendanya tidak bisa dibeli oleh yang lain selain Allah. “Pendidikan puasa menyebabkan pekerjaan-pekerjaan besar, amal-amal raksasa, fakta-fakta penting dalam sejarah Islam berlaku pada bulan puasa,” kata Buya seraya menunjuk peristiwa Perang Badar, penyeberangan Thariq bin Ziyad ke Semenanjung Iberia di ujung barat daya Eropa, dan Proklamasi Kemerdekaan RI

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda