Cakrawala

Kilas Balik 21 Tahun: Soeharto dan Habibie

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Sehari sebelum Soeharto lengser, pada 20 Mei  Wapres Habibie  mencoba menemui sang presiden di kediamannya. Ditolak, dan diminta besok saja di Istana. Mengapa Sampai akhir hayatnya Soeharto menolak ditemui Habibie? 

Saat  menjadi presiden, Soeharto mengaku bahwa dia berusaha untuk berlaku adil kepada para pembantunya (demikian dia menyebut menteri-menterinya). “Artinya semua pembantu saya memang harus saya beri kesempatan yang sama. Juga harus saya perlakukan sama,” kata dia dalam otobiografinya. Lebih jauh dia mengatakan, “Saya berusaha untuk tidak menonjolkan seseorang, untuk tidak menunjukkan si A sebagai anak emas, si B sebagai anak jauh. Tidak! Tetapi bagaimanapun juga, orang yang diberi kesempatan untuk berprestasi dan nyatanya ia bisa berprestasi, memang itu harus diakui juga.” Ia pun menyebut sejumlah menterinya yang berprestasi yaitu B.J. Habibie, Sudharmono, Moerdiono, dan Ginandjar Kartasasmita.

Di antara keempat menterinya itu, Habibie menempati tempat khusus karena  Pak Harto menganggapnya sebagai anak sendiri. Dalam otobiografinya (1989) Soeharto mengingatkan bagaimana dia bertemu dengan Habibie yang waktu itu masih kecil di Makassar; bagaimana dia bertemu kembali dua kali di Jerman semasa Habibie masih sekolah dan bekerja; bagaimana Habibie bersedia diajak pulang ke Indonesia walaupun sudah bergaji US$10.000 (atau senilai Rp 10 juta kala itu), sedangkan di Indonesia hanya digaji Rp250.000 . 

Adapun Habibie,  kelak menjadi wakil presiden dan kemudian presiden menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri, menganggap Soeharto sebagai profesor alias guru besarnya. Waktu Habibie kembali ke Indonesia dan mulai menempati pos-pos penting yang diberikan Soeharto, ia pun segera menjadi idola kaum terpelajar sebagai orang yang paling berotak encer, dan membanggakannya sebagai insinyur mumpuni dalam pembuatan pesawat terbang. Akan tetapi, kata Soeharto, orang tidak tahu “bahwa Habibie selalu meminta nasihat saya. … Setiap memberikan laporan, sampai berjam-jam lamanya ia bersama saya karena ia ingin menangkap pendapat saya, apa filsafat saya. Dan setelah ia menangkap pendirian saya, filsafat saya, ia mengembangkannya sesuai dengan keahliannya sebagai insinyur.”

Ketika Habibie berulang tahun ke-50 tahun 1986, berbarengan dengan penyelenggaraan  Indonesia Air Show yang dipimpin Habibie, Soeharto memberi catatan pribadi  yang kemudian dimuat dalam buku biografi Habibie.

Catatan pribadi itu berkenaan dengan pegangan hidup. Habibie, sebagaimana dikatakan Soeharto, memang selalu minta nasihat kepadanya mengenai falsafah hidup. “Juga ia meminta foto saya dan saya memberikan foto yang ia pilih sendiri, foto saya waktu mengenakan pakaian Jawa,” katanya. Dan dalam foto itu Soeharto menulis sebuah wejangan dalam bahasa Jawa: Wong ing tansah eling, percaya mituhu marang kang murbeng dumadi, iku dadi oboring urip kang becik, sajatining becik. “Jadi, kita selalu harus eling, takwa kepada Tuhan, beriman. Jangan sampai berilmu tetapi meninggalkan iman,” kata Soeharto mengenai nasihat Jawa-nya itu.

Habibie pun memasang potret Pak Harto dalam busana Jawa yang telah dibubuhi wejangan itu di kamar kerjanya. Ia juga buat copy-nya dan dicetak pula dalam bukunya. “Dia itu mengangap saya sebagai orang tuanya sendiri. Kelihatan sekali ia tidak mau berbuat salah. Ia selalu meminta petunjuk saya. Filsafat yang saya berikan selalu dicatatnya. Saya mengerti, filsafat perjuangan itu akan merupakan bekal yang tidak kecil baginya selama ia bekerja dan di masa pensiunnya nanti.”

Sejarah kemudian mencatat, Indonesia terperosok ke dalam krisis yang teramat dalam, menyusul terjadinya krisis moneter yang antara lain ditandai dengan merosotnya  nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Terjadi gelombang protes yang menuntut Presiden Soeharto yang telah berkuasa  32 tahun  lebih turun tahta. Dan berakhirnya kekuasaan Soeharto di tahun 1998 jua yang secara dramatis mengakhiri hubungan Habibie dengan sang guru besar dan orang  yang dianggapnya sebagai orangtuanya sendiri itu. Waktu itu Habibie sudah menjadi RI-2.

Dilaporkan, pada 20 Mei pukul 8 malam Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie tiba di kediaman Presiden Soeharto di Jalan Cendana, jakarta Pusat.  Di beranda rumah Nomor 8 itu, Wapres menitipkan pesan kepada ajudan Soeharto, Komisaris Besar Sutanto untuk meminta waktu bertemu.Tak berapa lama  Sutanto, kelak  menjabat Kapolri 2005-2008, kembali membawa pesan bahwa Pak Harto tidak mau bertemu, dan  besok saja di Istana. Habibie meninggalkan Cendana, dan membawa kembali surat penolakan menjadi menteri Kabinet Reformasi yang ditandatangani 14 menteri dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Harmoko. Tanggal  21 Mei pagi Soeharto pun mengumumkan pengunduran dirinya, yang disusul dengan pelantikan Prof. Dr. Bacharuddin Jusuf  Habibie sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia. Dan begitulah, sampai akhir hayatnya Jenderal Besar itu menolak bertemu dengan orang yang telah dia anggap sebagai anak sendiri itu. Dalam percakapan satu dua kalimat antara Soeharto dan Suweden, ajudannya, Soeharto   mengatakan, “Biar sampai mati tidak mau ketemu.” Ucapan itu terlontar begitu saja saat ada pembicaraan mengenai Habibie. Suweden, yang cukup mengenal karakter Soeharto yang irit bicara,   bergeming, hanya menyimak dan merasai kekecewaan sang presiden kepada Habibie. 

Menjelang akhir hayat Soeharto (27 Januari 2008), Habibie terbang dari Jerman mencoba sekali lagi untuk bisa bertemu guru besarnya itu. Dan kali ini yang menolak adalah anak-anak Soeharto karena ayah mereka sedang tidak berdaya menghadapi maut

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda