Hamka

Hamka, Palestina dan Gerakan Zionisme

Perang melawan Zionisme adalah perang melawan racun peradaban dunia (Ahmed Abu Hameeda/Unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Sebelum Indonesia merdeka, kaum Muslim sudah memiliki kedekatan dengan bangsa Palestina yang, kata Hamka, menjadi penumpang di kampung halamannya sendiri.  Perang melawan Zionisme adalah perang melawan racun peradaban dunia.

Kedekatan  Indonesia dengan Palestina sudah tergambar sebelum bangsa ini menyatakan kemerdekaannya tahun 1945, atau disetujuinya resolusi PBB tentang pembangunan negara Israel. Itu terjadi pada tahun 1930-an ketika terjadi pendudukan Zionis atas Palestina. Seperti halnya Hindia Belanda, tanah air baru bagi orang Yahudi itu merupakan ciptaan kaum Penjajah. Lewat kekuasaan imperialnya yang besar, Inggrislah yang memberi jalan kepada orang-orang Yahudi itu untuk memiliki tanah airnya sendiri. Ya, dengan cara menduduki tanah orang-orang Palestina          

“Orang-orang dari segala penjuru dunia, yang telah hidup dalam negeri itu beratus-ratus turunan, mendapat tanah air di Palestina, dan penduduk Palestina sendiri, yang berharta, bersawah dan berladang, berdarah tertumpah di situ, menjadi orang menumpang.” Demikian tulis Hamka di majalah Pedoman Masjarakat (16 September 1936) yang dia kelola bersama M. Yunan Naustion di Medan. Kata James R. Rush, Hamka secara halus menggunakan bahasa untuk menyiratkan kedekatan bangsa Indonesia dan Palestina. “Ungkapan bersawah dan berladang mengesankan pertanian gaya indonesia atau Asia Tenggara, dan secara puitis menyebabkan gambaran kampung halaman timbul dalam pikiran,” tulis Rush dalam karya terbarunya Adicerita Hamka.

Dalam edisi sebelumnya, Hamka menurunkan kisah nyata  seorang sopir truk muda Palestina dari Yerusalem yang dia kutip dari koran Al-Fath terbitan Kairo, Mesir. Dengan penuh keakraban pula Hamka menyebut anak muda yang sopir itu sebagai “kawan kita”. Kata Hamka, kawan kita itu telah kehilangan semuanya selain truknya yang sebuah itu setelah pendudukan Inggris, dan boikot arab yang diserukan Sayyid Muhammad Amin al-Husaini, mufti besar Yerussalem. Serdadu Inggris dan Sikh (India) membanjiri Palestina. Mereka membawa panser dan senapan mesin. Pesawat pembom pun beterbangan di atas Palestina. Kawan kita tak punya pekerjaan dan uang untuk menghidupi anak istri. Ketika ditekan Inggris agar truknya bisa dipakai untuk mengangkut pasukan dalam serangan balasan, dia mulanya menolak. Tetapi ketika kawan kita mengingat seruan Al-Husaini untuk “mengorbankan jiwa, darah.. Palestina meminta”, ia pun setuju. Lalu ia membuat truknya yang dipenuhi serdadu Inggris jatuh ke jurang; menewaskan 12 serdadu dan dirinya sendiri.Hamka mengakhiri kisah sejati ini dengan ayat Qur’an: “dan janganlah mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rezeki.”

Pedoman Masjarakat juga menyebut peran orang Yahudi dan kelompok Zionis, termasuk keadaan pengungsi Yahudi dari Jerman-nya Hitler. Dalam sebuah artikelnya di majalah mingguan ini, Haji Agus Salim menulis tentang kelompok Zionis dan Yahudi Amerika kaya sebagai penggerak sejati pembentukan tanah air Yahudi di Palestina.

Dan berhasil. Beberapa tahun kemudian, ketika negara-negara jajahan satu per satu mulai memerdekakan diri dari cengkeraman kolonial, seperti Indonesia, di Palestina justru tengah bangkit sebuah era penjajahan baru yang disponsori Amerika dan negara-negara Barat lainnya. Era ini dimulai setelah disetujuinya resolusi PBB No. 181 tahun 1947 itu.  Israel pun  “resmi” menjadi negara agresor yang menebarkan aib kemanusiaan modern berupa penjajahan pasca Perang Dunia II. PBB mengalokasikan 56,5 persen wilayah Palestina untuk pendirian negara Yahudi, 43 persen untuk negara Arab, dan Jerusalem menjadi wilayah internasional. Namun kemudian, pada 1967, pasca Perang 6 Hari Arab-Israel—Israel “berhasil” menduduki Sinai, Golan, dan seluruh wilayah Palestina.

Indonesia pun tetap konsisten membela Palestina, sejak Presiden Soekarno sampai era Presiden Joko Widodo sekarang. Pada tahun 1962, misalnya, Bung Karno dengan tegas menolak kehadiran Israel dalam Asian Games 1962 di Jakarta. Bung Karno saat itu menandaskan “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel.” Logika Bung Karno adalah “penghapusan penjajahan, karena tidak sesuai dengan kemanusiaan dan keadilan”, yang merupakan fondasi utama bangsa dan negara Indonesia,

Hanya saja, di lapisan masyarakat kerap terdengar suara-suara yang bernada menggugat, kurang atau tidak memberi dukungan terhadap perjuangan Palestina. Misalnya dikatakan, “Bangsa-bangsa Arab saja tidak peduli terhadap Palestina, mengapa kita harus repot membantunya. Bukankah [negeri] kita sendiri masih banyak masalah?” Logika gugatan semacam ini, betapapun  berlawanan dengan logika sang Bapak Bangsa, yang justru mampu memanfaatkan sebuah momen olah raga—yang selintas terasa tak ada sangkut-pautnya—untuk menyuarakan spirit jatidiri bangsa Indonesia; sekalipun, penyikapan itu memberi risiko dan akibat serius bagi posisi Republik Indonesia dalam kancah diplomasi internasional kala itu.

Dalam pada itu, Ahmad Syafii Maarif, yang kerap disebut guru bangsa itu, pernah mengingatkan bahwa Zionisme merupakan ‘racun peradaban”.  Dalam buku Gilad Atzmon: Catatan Kritikal tentang Palestina dan Masa Depan Zionisme, Buya Syafii menandaskan bahwa Zionisme yang menjadi ideologi politik khas Yahudi/Israel merupakan  landasan dalam praksis politik dan sosial yang menghalalkan kelicikan dan kebiadaban dalam menindas rakyat Palestina. Ideologi Zionisme itu dibuat dan dikembangkan serta dipraktikkan secara keji oleh negara Yahudi Israel di Timur Tengah. Sayang, bangsa-bangsa di dunia bungkam tak berdaya menghadang aksi pemerintah zionis yang bertentangan dengan prinsip dasar kemanusiaan itu. Bahkan negara-negara Arab, yang masih ada garis saudara dengan bangsa Palestina pun tak berkutik. Dunia memang pernah mengutuk ideologi-ideologi yang berlawanan dengan kemanusiaan seperti Nazisme dan Fasisme – tapi tampaknya tidak cemas dengan racun peradaban bernama Zionisme. Benarkah diiperlukan semacam “baratayuda” agar tercapai keseimbangan baru di wilayah yang terus bergolak itu?

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda