Cakrawala

Kisah Habaib (1): Habib Husein Pendiri Masjid Luar Batang

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Pendakwah ini pernah dijeboloskan ke penjara oleh Kompeni. Ia diyakini memiliki sejumlah karomah, sehingga makamnya sampai sekarang ramai dikunjungi para peziarah.

Habib Husein Alaydrus adalah penyebar Islam di Jakarta yang mendirikan Masjid Luar Batang di Jakarta Utara tahun 1730. Dalam berdakwah ia dikenal pemberani, meskipun harus berhadapan dengan Kompeni. Kegiatan dakwah Habib Husein sering dianggap merongrong kekuasaan Belanda. Kompeni kemudian meangkap Habib Husein beserta pengikutnya dan memenjarakannya di kawasan Glodok.

Di dalam penjara ia  tetap berdakwah dan mengajarkan ajaran Islam hingga penguasa VOC memisahkan Habib Husein dari tahanan lainnya. Diceritakan, suatu hari Habib Husein mengimami shalat  dan memimpin dzikir di ruang tahanan. Padahal saat itu Habib Husein telah dipisahkan dari tahanan lain dan sangat tidak mungkin baginya mengimami shalat. Sipir penjara ketika memeriksa diperiksa ruang tahanan, memastikan Habib Husein ada di kamar tahanannya sedang tidur nyenyak. Hal ini diyakini sebagai kelebihan yang dimiliki Habib dari Allah. Kejadian ini menjadi perbincangan yang hangat di kalangan petinggi Kompeni (VOC.) Hingga akhirnya, Belanda Batavia membebaskan Habib Husein.

Tidak berselang lama dari kejadian tersebut Habib Husein diberi hadiah sebidang tanah di daerah Kampung Baru oleh gubernur Batavia, yang kemudian dijadikan sebagai tempat tinggal dan mendirikan surau dikenal dengan sebutan Masjid Luar Batang. Surau itulah yang kemudian dibangun menjadi masjid di daerah Pasar Ikan, Kelurahan Pejaringan, Jakarta Utara. Masjid Luar Batang berdiri kokoh bergaya khas Timur Tengah. Tahun 1827 warga setempat memperluas mushala bersejarah itu menjadi masjid. Perluasan juga dilakukan pada 1995. Selain berdakwah di Masjid Luar Batang, Batavia, Habib Husein juga berdakwah ke berbagai daerah, di antaranya tercatat berdakwah ke Masjid Nurul Huda di Tasikmalaya.

Habib Husein  lahir dan dibesarkan di Hadramaut. Pengembaraannya diawali ke kota Surati di Gujarat, yang sebagian besar penduduknya pemeluk agama Budha. Keeadaan alam pada saat itu sedang dilanda kekeringan. Salah satu solusi yang ditawarkan Habib Husein adalah menggali sebuah sumur. Kemudian Habib Husein memohon pertolongan Allah, berdoa dengan menengadahkan tangannya. Tak lama kemudian  hujan pun turun dengan derasnya sehingga negeri yang awalnya gersang menjadi makmur. Melihat fenomena tersebut menyebabkan banyak masyarakat yang meyakini kekuasaan Allah dalam menyelamatkan hidup mereka dari musibah kekeringan.

Setelah dari Gujarat, Habib Husein melanjutkan perjalanan ke Asia Tenggara hingga sampai di Pulau Jawa tahun 1746. Ia menetap di Batavia yaitu di  Kampung Baru. Di tempat barunya ini, seperti sudah disinggung, ia melanjutkan kegiatan dakwahnya. Habib Husein wafat pada 27 Juni 1756 dalam usia  32 tahun.

Diceritakan, ketika iring-iringan pengusung keranda jenazah Habib Husein sampai di pemakaman Tanah Abang, , ternyata jenazahnya tidak ada dalam keranda tersebut. Setelah dicari, ternyata jenazah Habib Husein berada di tempat tinggalnya. Kemudian jenazahnya kembali diusung ke pemakaman. Namun kejadian serupa kembali terulang, jenazah Habib Husein hilang dari keranda dan kembali berada di tempat tinggalnya. Akhirnya tokoh masyarakat musyawarah, mereka memahami dan sepakat untuk memakamkan jenazah Habib Husein di sekitar kediamannya. Peristiwa inilah yang melatar belakangi sebutan masyarakat sebagai “Kampung Baru Luar Batang” dan kini dikenal dengan “Kampung Keramat Luar Batang”.  Di Betawi keranda jenazah disebut “Kurung Batang”. Bentuk tutup kerandanya melengkung setengah lingkaran, mirip “kurungan”. Ditopang dua “batang” kayu atau besi yang memanjang di pinggiran alasnya. Batang itu menjorok di empat sudutnya, sebagai pegadangan untuk menggotongnya.

Kini makam Habib Husein berada di komplek Masjid Luar Batang, Jakarta. Selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah. Setiap acara haul beliau, ribuan peziarah berdatangan membaca sirah maulid, doa dan tahlil. Haul habib Husein diperingati setiap tahun pada hari minggu terakhir bulan Syawal. Orang Betawi yang pernah menyelamatkan Habib Husein yaitu Haji Abdul Kadir, makamnya tepat di samping makam Habib Husein.     Habib Husein adalah pelopor dakwah alawiyin di Jakarta.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda