Mutiara

Wali dan Pembaru dari India

Ilustrasi foto Syekh Ahmad Sirhindi
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Syekh Ahmad Sirhindi hidup pada masa “kebangkrutan” Islam di India. Lebih dari orang  kudus, Ahmad adalah seorang pembaru. Mengapa dia tidak protes sewaktu djebloskan ke penjara? 

Syekh Ahmad Sirhindi ditangkap. Dan, atas perintah Kaisar pula lelaki berperawakan kurus ini dibawa ke istana di Agra, ibu kota kekaisaran Mughal. Kaisar minta klarifikasi atas berbagai tuduhan yang beredar di masyarakat. Kelompok Syi’ah yang memegang kendali pemerintahan menekankan kepada Kaisar bahwa Syekh Ahmad adalah ancaman bagi mahkota kerajaan. Kelompok-kelompok sufi juga tidak senang lantaran Sirhindi getol mengecam praktek-praktek ritual mereka yang menyimpang. Bahkan beberapa kelompok menuduhnya kafir —  dan menghalalkan  darahnya.

“Sujudlah!” Tiba-tiba seorang menteri yang berada di sebelah Kaisar berteriak. “Kau berada di tempat yang penuh kebesaran Kaisar Jahangir.”

“Tidak,” Syekh Ahmad Sirhindi menjawab tegas. “Kepala ini bersujud hanya di depan Tuhan. Tidak kepada makhluk hidup.“

Toh pemeriksaan tetap dilangsungkan. Kaisar Jahangir, dalam memoarnya, menyatakan ketidakpuasannya terhadap jawaban-jawaban Sirhindi. Karena itu, kata dia, untuk membersihkan sekaligus meredakan kemarahan masyarakat, ia minta Syekh Ahmad dijebloskan ke penjara. Sumber lainnya menyebutkan bahwa Jahangir sesungguhnya puas, tetapi karena Hadrat’ I Qudus menolak sujud. Jahangir membuinya.

Lahir di Sirhind, 26 Mei 1564, Syekh Ahmad memang lebih dikenal orang kudus (the holy man)  dari  Sirhind, barat laut New Delhi, India. Berasal dari keluarga yang punya tradisi pendidikan yang panjang. Moyangnya berasal dari Madinah, keturunan Abdullah ibn Umar ibn Khattab, yang bermigrasi ke Kabul. Ayahnya, Syekh Abdul Ahad, adalah pengikut tarekat Chistiyah, dan penganut ajaran wihdatul wujud. Setelah memperoleh pendidikan dasar dari ayahnya, serta hafal Alquran, Ahmad pergi ke Sialkot (kini masuk Pakistan), antara lain belajar ilmu kalam, falsafah, logika, tafsir, dan hadis. Setelah menyelesaikan studinya, pada usia 17, Ahmad pulang ke Sirhind, memperdalam tasawuf kepada ayahnya.

Ahmad berangkat ke Agra, tiga tahun kemudian, dan menjalin kontak dengan sejumlah orang di lingkungan istana. Antara lain dengan Abul Fadhil yang walaupun percaya kepada Allah, menolak kenabian dan syariat. Pernah Sirhindi berdebat dengan Abul Fadhil tentang nubuwwah. Saking sengitnya Fadhil lepas kontrol dan mencaci para ulama. Karuan saja Sirhindi kaget dan setelah itu memutus hubungan dengan Fadhil. Sang ayah yang mendengar putranya kecewa berat menyusul ke Agra dan membawanya pulang. Dalam perjalanan Abdul Ahad menikahkannya dengan putri Syekh Sultan, yang cukup disegani. Di bawah bimbingan ayahnya, Sirhindi kembali berkutat dengan kitab-kitab tasawuf karya Kalabadzi, Suhrawardi, dan Ibnu Arabi.

Sepeninggal Syekh Abdul (1597), Sirhindi naik haji. Dalam perjalanannya di Delhi, ia berkenalan dengan Syekh Abdul Baqi. Pemimpin tarekat Naqsyabandiah yang terkenal sebagai Baqi Billah ini berhasil membujuk Sirhindi masuk ke ordonya. Dalam beberapa bulan saja, murid baru ini sudah mencapai maqam tertinggi. Dalam salah satu surat kepada sahabatnya Baqi Billah antara lain menulis:

“Orang dari Sirhind bernama Ahmad, baru-baru ini telah datang. Ia amat kuat belajar dan punya kekuatan rohani yang luar biasa. Ia tinggal bersamaku beberapa hari. Aku berharap, kelak dia menjadi lampu penerang dunia.”

Agama Baru

Syekh Ahmad Sirhindi memang hidup pada masa kekaisaran Akbar, ketika Islam di Anak Benua dalam keadaan kritis. Waktu itu Akbar memproklamasikan ajaran yang dinamakannya Din-i-Illahi. Agama baru ini merupakan perpaduan dari berbagai kepercayaan dan ritus. Siapa yang berani menolak ajaran yang disusun Abdul Fadhil dan ayahnya ini (Mullah Mubarak) disiksa, dibui,  bahkan dibunuh. Banyak masjid pada masa ini dihancurkan.

Menjelang akhir kekuasaan Akbar, terjadi pergolakan di antara keturunannya. Salim yang mendapat dukungan dari para pejabat yang menolak kebijaksanaan “agama baru” Akbar akhirnya naik tahta pada 1606 dengan gelar Jahangir. Kaisar baru ini pernah berjanji akan mengembalikan syariat Islam yang sudah “dipermak” sedemikian rupa oleh mendiang babenya. Meski mengaku senang, Sirhindi tidak begitu lekas percaya. Maka ia menulis berbagai surat kepada para pejabat tinggi, gubernur, agar Jahangir tetap pada komitmennya.

Enam tahun setelah berkuasa, Jahangir menikahi Nur Jahan, yang cantik dan cerdas. Berkat pengaruhnyalah,  kakak Nur diangkat menjadi anggota mahkamah. Maka, praktis kekuasaan pun berada di tangan keluarga sang istri. Pada masa inilah elemen-elemen Syi’ah masuk ke poros kekuasaan dan mulai melakukan tekanan kepada kaum Sunni. Termasuk Syekh Ahmad Sirhindi, yang dikenai berbagai tuduhan itu.

Syekh Ahmad memang menerima takdirnya tanpa protes. Seperti halnya Ibnu Taimiyah. Ahmad menganggap pemenjaraan itu sebagai cara Allah menjadikannya lebih dekat dengan-Nya. Maka , di dalam penjara pun ia gigih berdakwah. Setahun kemudian Sirhindi dibebaskan dan malah mendapat kehormatan dari Jahangir. Ia tidak pulang atau memilih berdiam di istana. Sirhindi lebih suka berada di kamp tentara. Di sina ia merasa usaha dakwahnya lebih efektif. Kurang lebih tiga tahun Sirhindi menjadi penghuni barak militer. Dan, ketika merasa kesehatannya mulai menurun, orang kudus ini kembali ke Sirhind, mengisi sisa umurnya melulu dengan sembahyang. Ia wafat pada 10 Desember 1624, meninggalkan tujuh putra. “Dialah pelindung Islam di India yang dihadirkan Tuhan di waktu yang tepat,” kata Muhammad Iqbal.

Syekh Ahmad memang bukan dianggap wali. Orang kudus dari Sirhind ini adalah mujaddid alaf-i-tsani  alias pembaru yang ditugaskan untuk membangkitkan Islam di peralihan seribu tahun yang kedua.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda