Mutiara

Ulama dari India

India punya Syekh Al Badawini dan Syekh Abdurrahim Ramburi yang mengajarkan tentang bohong dan kesaksian palsu adalah termasuk untuk apapun adalah hina dan perbuatan dosa besar (foto ilustrasi : Nitin Gupta/Unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Bohong dan kesaksian palsu, demi apa pun, termasuk untuk kepentingan agama, merupakan perbuatan hina dan dosa besar. Kisah Syekh Al-Badawini  dan Syekh Abdurrahim Ramburi dari India.

India tak  hanya Mahatma Gandhi, asketis yang kemudian menghabiskan hayatnya di ashram. Laki-laki kurus berkacamata ini – yang hanya mengenakan lancingan (sarung yang bagian tengah-bawahnya ditarik di antara dua kaki ke belakangan dan disangkutkan pada gulungan di atas pantat) dari hasil tenunannya sendiri – memang sudah menjadi bapak rohani para pejuang anti kekerasan. Tidak hanya dia, memang. Di sana juga terdapat para ulama berkarakter – pejuang kemerdekaan  seperti juga Gandhi, meskipun  mungkin kini kisah mereka hanya menjadi catatan kaki sejarah negeri itu.

Pada 1857 meletus pemberontakan melawan Inggris. Syekh Al-Badawini, salah seorang seorang ulama, dituduh terlibat. Dia diajukan ke pengadlan. Tak nyana, hakim yang memeriksa perkaranya ternyata adalah salah seorang muridnya. Melalui kawan-kawannya, hakim berpesan agar Syekh menolak tuduhan itu dan dia akan membebaskannya. Namun Badawini tak hendak. “Aku memang sudah ikut serta melawan kekuasaan Inggris. Bagaimana aku harus berbohong?” katanya. Terpaksa hakim  menjatuhkan vonis mati.

Ketika syekh bersiap menuju gantungan, sang murid menangis. “Sampai detik ini pun jika Tuan Guru mau mengatakan sekali saja bahwa tuduhan itu palsu dan Tuan Guru tidak terlibat, saya akan berusaha membebaskan Tuan Guru.”

Orang tua itu marah. “Kamu ingin merusak amalku dengan menyuruhku berbohong kepada diri sendiri? Sungguh rugi dan sia-sia jika aku begitu. Aku memang terlibat dalam pemberontakan itu. Perbuatlah yang kalian kehendaki.

Syekh Badawini dieksekusi. Al-Badawini tampaknya yakin benar bahwa bohong dan kesaksian palsu, demi apa pun, termasuk untuk kepentingan agama merupakan perbuata hina dan dosa besar. “Wahai orang-orang beriman, jadilah kamu para penegak keadilan, menjadi saksi demi Allah walaupun terhadap diri sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabat.” (Q. 4: 135).

Nah. Bagaimana dengan para pembesar di negeri ini jika menghadapi kasus hukum? Bohong, rekayasa, nyogok dan seterusnya, tampaknya sudah lumrah digunakan untuk meloloskan diri dari jeratan hukum, sekurang-kurangnya tidak dihukum berat.

Pada masa kolonial, juga di India, terdapat  kisah ulama yang berkaitan  dengan hukum. Syahdan, di Kandahla, distrik Muzaffarragar, terjadi perebutan sebidang tanah antara orang-orang Hindu dan kaum muslimin. Pihak Hindu mengklaim lokasi itu sebagai tempat peribadatan mereka; begitu pihak Islam. Karena tidak tercapai kesepakatan, kemudian mereka membawa perkara ke pengadilan. Hakim, yang sudah mendengarkan alasan mereka, tidak dapat memutuskan. Kemudian dia bertanya kepada orang Hindu, apakah  di desa mereka ada  seorang muslim yang mereka akui kejujurannya dan mereka  percayai, untuk dia mintai pendapatnya.

Orang-orang Hindu ini kemudian menyebut seorang syekh yang terkenal saleh. Hakim meminta ulama itu dihadirkan ke pengadilan. Malangnya, kepada utusan Pak Hakim orangtua itu mengatakan, Aku sudah terlanjur bersumpah tidak akan melihat wajah orang Eropa.

Hakim masih berkeras agar dia bisa hadir. Katanya, “Boleh saja dia bersikap seperti itu, tetapi dia harus datang memberikan kesaksiaannya.”

Syekh pun hadir di pengadilan. Seraya membalikkan punggungnya, dia berkata, “Yang benar, dalam kasus  ini, adalah orang-orang Hindu. Tanah itu milik mereka.” Dengan pernyataan “saksi ahli” ini Hakim memutuskan perkara. Kaum muslimin kalah, tetapi peristiwa itu amat membekas di hati kalangan Hindu. “Dan janganlah sekali-kali kebencian kepada suatu kaum mendorong  kalian bertindak tidak adil. Berlakulah adil karena  yang lebih dekat kepada Takwa. Dan bertakwalah kepada Allah…..” (Q.S 5:8).

Menjaga Martabat Saat Didekati Pejabat

Sudah menjadi tabiat atau nature penguasa di mana pun dan kapanpun  untuk mendekati ulama berpengaruh. Sebagian untuk meminta nasehat, petunjuk, fatwa, dan sebagian lagi untuk beroleh dukungan, atau bahkan untuk membungkam agar tidak mengeluarkan kritik yang bisa menggoyang kekuasaan. Jika usaha yang terakhir ini gagal dilakukan, maka penguasa biasanya melakukan tekanan dan, kalau perlu, mengirimkannya ke bui dengan bermacam tuduhan. Orang sekarang menyebutnya kriminalisasi. Dan jangan lupa, ada juga  cara baru yaitu mengirim “orang gila” untuk menganiaya atau menghabisi sang ulama.

Bagaimana para ulama menghadapi mulai dari rayuan sampai tekanan tersebut, itulah yang akan menjadi parameter atau tolak ukur martabat seorang. Berikut ini adalah kisah seorang ulama dari India yang ditawari kedudukan empuk dan fasilitas menggiurkan oleh penguasa kolonial Inggris. Dialah Syekh Abdurrahim Ramburi.

Suatu ketika Syekh Abdurrahim Ramburi, yang menerima honor 10 rupee per bulan dari kaum muslimin, didatangi oleh seorang penguasa wilayah Inggris, Mr. Hakins. Dia menawarkan sebuah jabatan tinggi di satu fakultas di Bareili. Gajinya sungguh menggiurkan, 250 rupee, masih ditambah dengan janji bahwa dalam waktu singkat akan ada kenaikan. Syekh menolak.

“Saya sudah punya gaji tetap 10 rupee,” katanya. “Kalau saya menerima tawaran Saudara, gaji itu pasti dihentikan.”

“Saya belum pernah menyaksikan peristiwa seperti hari ini,” Hakins berkata. “Saya tawarkan gaji yang berlipat-lipat dari gaji Anda yang sekarang, tetapi  Anda menolaknya lantaran lebih senang dengan gaji Anda yang sedikit itu.”

“Tuan lihat, di perkarangan saya tumbuh pohon bidara. Itu saya tanam sendiri. Saya amat menyukai buahnya. Tentu saja saya tidak bisa menikmatinya kalau saya tinggal di Bareili.”

“Saya jamin buah-buahan itu akan sampai ke  tangan Anda di Bareili.”

“Namun di sini saya punya banyak pelajar dan mahasiswa. Kalau saya pindah, bagaimana dengan pendidikan mereka selanjutnya?”

“Akan saya usahakan fasilitas agar mereka bisa melanjutkan studi ke Bareili.”

“Bagaimana saya harus menjawab kelak, jika Tuhan menanyai saya, ‘Mengapa engkau ambil upah untuk ilmu?’”

Orang Inggris itu diam. Dan Syekh Abdurrahim pun menjalani hidupnya yang seadanya. Hanya ulama yang berjiwa independen dan punya kecintaan yang luar biasa kepada murid-muridnya,  seperti Syekh Abdurrahim, yang memiliki keberanian  menentukan pilihan hidup. Sementara itu, tidak sedikit pula yang berusaha merapat dengan kekuasaan

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda