Cakrawala

Hanya Allah Sejatinya Hakim

Paradoks manusia: selalu butuh cermin untuk melihat diri sendiri (ilustrasi foto : Eddie Aguirre/Unsplash)
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Sampai hari ini, manusia tampaknya masih harus puas untuk tetap tinggal sebagai misteri. Bahkan pada tataran personal pun orang tidak pernah bisa membahasakan secara tepat siapa dia sesungguhnya. Ketika seseorang harus mendefinisikan dirinya, yang acap muncul justru citra-citra subyektif, citra yang menurut istilah salah seorang sufi bahkan disebut ‘ramuan dari keyakinan-keyakinan orang lain yang dijejalkan ke dalam dirimu tetapi bukan dirimu yang sebenarnya’.

Inilah paradoks manusia: selalu butuh cermin untuk melihat diri sendiri. Celakanya, kehadiran cermin justru potensial menciptakan penyesatan. Dan, lebih celaka lagi, tampaknya orang memang suka penyesatan. Basuki Abdullah misalnya, dulu pernah sangat disukai orang justru karena rumus penyesatannya. Lukisan-lukisan potretnya tidak sekadar ‘seindah warna aslinya’, tapi selalu ‘lebih indah dari warna aslinya’. Siapapun tentu lebih suka menemukan citra dirinya ‘lebih indah dari warna aslinya’, ketimbang ‘seindah warna aslinya’ yang hampir bosan dia geluti dalam rutinitas kesehariannya. Tak mengherankan bila kini begitu banyak aplikasi fotografi yang bisa membuat foto pun lebih indah dari aslinya.

Ini tak membuat kita terkejut, karena -jujur saja- alasannya kita kenali pula: kita lebih suka menemukan diri lebih dari yang sehari-hari ‘biasa’ kita kenali. Kita selalu merasa butuh idealisasi dan romantisasi, untuk mengatasi kenyataan sehari-hari yang nyaris rutin dan kita rasa kurang punya arti. Yang jelas tidak ada orang yang mau dicitrakan ‘lebih kusam dari warna aslinya’, karena ini pasti akan membuat dia merancau berkepanjangan.

Tapi itulah, kalau sudah menyangkut identitas, pengertian ‘warna asli’ itu sendiri tiba-tiba jadi kabur dan tak pernah bisa dirumuskan dengan tepat. Apa yang kita yakini sebagai ‘warna asli’ pun pada dasarnya -paling tidak menurut pendapat sufi diatas- bisa langsung diklaim sebagai sekedar konstruksi imaji dari kumpulan pencitraan yang ditempelkan dari luar selama rentang waktu hidup kita. Pencitraan yang lewat ‘kimia perkawinan rahasia’ dengan kecenderungan dasar (kecenderungan dasar yang sebenarnya tak bisa luput dari kecurigaan sebagai salah satu hasil tempelan juga) dan kemudian melahirkan citra baru yang kita yakini sebagai ‘warna asli identitas’ kita.

Mungkin, cara pandang seperti inilah yang tercermin dalam ungkapan tradisional: kalau kau ingin tahu siapa dirimu, lihatlah dengan siapa kau merasa nyaman bergaul. Setidaknya ungkapan ini mengantarkan kita pada kesadaran bahwa cermin yang kita pakai untuk melihat diri sendiri secara sekaligus juga menunjukkan aliran-aliran pendapat dan sikap yang disadari atau tidak pada dasarnya ada dalam diri kita.

Meski demikian, perkembangan ilmu sejarah modern justru memberi ruang yang cukup terhormat -justru karena muatan subyektifnya- bagi pencitraan diri semacam ini. Penulisan otobiografi misalnya, yang selama ini dilihat agak bermasalah karena tema mayornya yang subyektif, kini justru di dorong karena alasan yang sama.

Perkembangan lebih lanjut dari apa yang diwacanakan oleh Edward W Said, bahkan menyorongkan orang pada keharusan untuk menengok sisi tafsir subyektif pelaku sebagai salah satu rujukan utama dalam membaca realitas sejarah. Penulisan sejarah baru dianggap berharga bila sisi tafsir ‘subyektif’ (subyektif sekaligus dalam pengertian literalnya) aktornya diberi tempat terhormat. Bahkan perkembangan lebih lanjut dari wacana yang dibangun Edward W Said ini, yang lantas dielaborasi oleh salah satu bidang kajian sejarah yang dikenal sebagai ‘sub-altern studies’, malah mulai menempatkan ruang tafsir para aktor ini sebagai tolok ukur utama untuk menilai kesahihan penulisan sejarah. 

Tentu saja ini dimaksud untuk meminimalisasi penafsiran ‘orang luar’ yang sangat mungkin bias, karena penafsiran semacam ini acap mengabaikan dimensi ruang waktu peristiwa; sehingga seringkali luput menangkap dimensi ‘darah dan keringat’, dimensi ‘ruh’ dari peristiwa itu sendiri.

Tentu saja sebagai wacana, ini masih bisa diperdebatkan, baik secara teknis maupun filosofis. Misalnya, dari satu sisi, para aktor itu sendiri tak mungkin bebas dari dunia tafsir. Artinya, dalam batasnya sendiri, mau tak mau dia juga terpaksa harus melakukan penafsiran-penafsirannya sendiri atas peristiwa yang dialaminya.

Penafsiran-penafsiran yang meniscayakan terlibatnya kepentingan-kepentingan: baik melalui pembelaan-pembelaan, pembenaran-pembenaran, maupun lewat cara-cara lainnya. Penafsiran yang sekaligus sangat membuka ruang untuk mengukir citra kemalaikatannya sendiri, diantara kumpulan ‘malaikat’ sejarah yang bersesuaian dengan dirinya, atau bahkan diantara ‘iblis-iblis’ sejarah yang bertentangan dengan kepentingannya. Dan dalam hal ini tentu saja perbedaannya dengan orang luar, yang juga melakukan penafsiran, tak jauh-jauh amat.

Dari semua ini, masalah utama yang kemudian menonjol adalah: masalah penafsiran. Penafsiran yang akan menyelusup masuk dan memberi makna bagi fakta-fakta. Penafsiran yang akan menentukan sudut, cara, jarak dan (sangat mungkin) resolusi pembacaan -termasuk pemilahan dan pemilihan- dan sekaligus akan mengangkat fakta-fakta -yang sudah terpilah dan terpilih ini- dalam rangkaian konstelasi kesejarahan umum yang sedang berlangsung.

Dalam kaitan ini, yang kemudian jadi menonjol adalah masalah pentingnya kejujuran. Tapi ini bukan berarti akhir dari permasalahan, tapi sekaligus juga awal dari masalah baru yang tak kalah rumitnya. Kejujuran sendiri bukan realitas tunggal dan final, ia berlapis-lapis dan masih terbuka luas untuk selalu dipertanyakan. Dan inti masalahnya memang seperti telah disebut di awal tulisan ini: manusia memang sebuah misteri. Jadi ketika seseorang merasa jujur mengungkapkan sesuatu, celakanya belum tentu dia bebas dari kepentingan subyektifnya sendiri. Masalahnya, kepentingan-kepentingan subyektif semacam ini acap kali juga tak disadari oleh pelakunya sendiri. Ia secara tersembunyi sering sudah terangkum dalam paket nilai yang diyakininya, dalam sudut pandang yang dipilihnya, dalam pemaparan yang ditujunya, dan seterusnya. Alhasil, dari sisi ini, banyak orang -para sufi terutama- memilih membiarkan tindakannya bebas dibaca orang menurut tafsirnya sendiri-sendiri, sementara makna utamanya mereka percaya hanya Allah yang tahu. Dalam hal ini mereka cenderung tak memberi tafsir bagi tindakannya sendiri,  atau kalau terpaksa memberi tafsir, mereka akan menempatkannya sejajar dengan tafsir yang dibuat orang lain. Tak ada pretensi untuk memosisikan tafsirnya sebagai lebih otentik dibanding tafsir orang lain.

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Mulia Indonesia

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Tinggalkan Komentar Anda