Cakrawala

La Mezquita Atawa Masjid Kordova

Masjid Cordova yang sekarang jadi Katedral ini memiliki banyak pilar seperti di Masjid Nabawi saat ini
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Abdurrahman Ad-Dakhil berhasil membangun seni dan peradaban dunia di Spanyol. Masjidnya di Kordova  yang megah itu kini dialihfungsikan menjadi gereja.

Setelah Abdurrahman ibn Muawiyah, yang berjuluk As-Dakhil itu,  berhasil menjejakkan kakinya di Spanyol, ia harus berhadapan dengan musuh yang jumlahnya demikian banyak. Dan untuk itu,  membangun dan mengembangkan sebuah angkatan bersenjata yang berdisiplin kuat dan terlatih. Jumlahnya mencapai 40.000 orang prajurit bayaran dari bangsa Berber. Mereka didatangkan dari Afrika, dan dikenal cukup loyal serta bisa diandalkan untuk mempertahankan kekuasaannya  yang senantiasa berada dalam ancaman.

Ad-Dakhil mengetahui dengan baik cara-cara untuk menjaga keutuhan pasukannya, yakni dengan memberikan uah yang tinggi. Pada tahun 757   menghentikan tradisi penyebutan nama khalifah dalam khutbah-khutbah Jumat. Meski demikian, ia tidak menetapkan gelar kekhalifahan atas dirinya sendiri. Dia dan para penerusnya, hingga Abdurrahman  III, cukup puas dengan gelar amir, meski sebenarnya mereka memiliki kekuasaan yang independen. Di bawah kekuasaan Abdurrahman I, Spanyol menjadi provinsi pertama yang menggoyang otoritas khalifah Abbasiyah yang diakui oleh sebagian besar dunia Islam.

Pada tahun 777 para pemimpin di kawasan timur-laut membentuk sebuah konfederasi  besar yang  dikepalai oleh gubernur Barcelona, dan salah satu menantu Gubernur Yusuf al-Fihri. Menantu yang bermata biru itu kemudian mengundang Charlemagne, yang mungkin dianggap sebagai sekutu khalifah Abbasiyah, dan tentu saja merupakan musuh Ad-Dakhil. Persekutuan ini dibuat untuk melawan sang amir baru di Spanyol. Setahun kemudian, Charlemagne pun bergerak  melalui Spanyol timur-laut hingga mencapai Zaragossa. Tetapi ia terpaksa menarik diri ketika kota itu menutup gerbang-gerbangnya tepat di hadapannya, sementara musuh-musuh domestik mengancam otoritasnya di dalam negeri. Pada saat menempuh rute perjalanan pulang, melalui jalan-jalan Pyrenes,  pasukan Franka diserang dari belakang oleh Basques dan para penduduk sekitar pegunungan. Akibatnya  pasukan Franka kehilangan  banyak personil dan harta benda mereka. Di antara para pemimpin yang menjadi korban saat ini adalah Roland, yang aksi heroiknya diabadikan dalam Chanson de Roland. Legenda tentangnya tidak hanya menjadi sebutir mutiara dalam khazanah sastra Prancis permulaan, tetapi juga merupakan satu kisah epik paling  menonjol dari Abad Pertengahan. Adapun Ad-Dakhil, melalui perseteruan itu, telah membuktikan bahwa dirinya sederajat dengan penguasa terkuat di Barat, sama halnya dengan penguasa terbesar di Timur, yaitu Abbasiyah.

Setelah relatif berhasil menciptakan konsolidasi dan ketenteraman di tengah masyarakat, untuk sementara waktu Ad-Dakhil memusatkan energi dan perhatiannya pada pengembangan seni dan peradaban. Dalam bidang ini pun ia tampil sebagai kampiun yang sama hebatnya seperti ketika menghadap masa peperangan. Ia mempercantik kota-kota di wilayah kekuasaannya, membangun sebuah saluran besar sebagai sarana pemasok air bersih ke ibu kota, dan memprakasai pembangunan tembok di sekeliling saluran itu. Sedangkan untuk dirinya sendiri, ia mendirikan Munyat  al-Rushsfah di luar Kordova, bentuknya meniru  istana yang dibangun oleh leluhurnya, Hisyam, di Suriah. Untuk vilanya ini,  ia memasok air dan tumbuhan-tumbuhan eksotis, seperti persik dan delima. Untuk satu-satunya pohon kurma yang tumbuh di tamannya, konon didatangkan dari Suriah, ia membacakan syair-syair lembut gubahannya sendiri.

Dua tahun sebelum kematiannya (788), Ad-Dakhil membangun kembali Masjid Kordova. Keagungan masjid ini menandingi  dua rumah ibadah Islam di Yerusalem dan Mekah. Sesudah disempurnakan dan diperluas para penerusnya, Masjid Kordova segera menjadi pusat kegiatan Islam di Barat. Bangunan monumental ini, dengan belantara tiang dan pelataran luar yang luas, kemudian diubah menjadi sebuah katedral pada saat penaklukan kembali oleh Ferdinand III pada tahun 1236. Sampai sekarang bangunan ini masih  bertahan  dengan nama populer “La Mezquita” (Masjid). Selain masjid agung, kebanggaan ibukota lainnya adalah jembatan yang melintasi sungai Guadalquivir, yang kemudian diperbesar menjadi tujuh belas lengkungan. Perhatian pendiri dinasti Umayyah di Andalusia ini tidak hanya pada penciptaan kesejahteraan material bagi rakyatnya. Dengan beragam cara, ia berusaha keras menciptakan kesatuan nasional antara orang Arab, Suriah, Berber, Numidia, Spanyol-Arab dan Gotik. Sebuah proyek yang hampir sia-sia. Dan, dalam pengertian yang luas, ia memprakasai gerakan intelektual yang membuat Spanyol-Islam dari abad ke-9 sampai abad ke-11  menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia. Dan Eropa umumnya pada saat itu berada dalam abad kegelapan

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda