Adab Rasul

Ketika Rasulullah Kena Santet

Teluh atau santet kadang juga menyerang kaum muslim. Bagaimana Rasul menyikapi? (foto : David Mark/Pixabay)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Firman Allah “Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan itu…” bisa disimpulkan menganjurkan berbuat ihsan kepada si pembuat kejahatan, dan bukan membalasnya.

Syahdan, menurut hadis Aisyah r.a. sebagaimana diriwayatkan Bukhari, Rasulullah s.a.w. ditenung oleh seorang Yahudi bernama Labid bin Al-A’sham. Di situ  dimuat kalimat Rasulullah, setelah santet selesai: “Adapun Allah, Ia telah menyembuhkan aku. Adapun aku sendiri tak hendak mengenakan kejahatan kepada orang.” Yang menarik, Bukhari meletakkan hadis Aisyah tersebut dalam “Bab Firman Allah Ta’ala, ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan….  dan mencegah perbuatan keji, kemungkaran dan laku angkara’.”

Dalam Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik (2001), Syu’bah Asa mengutip pendapat Ibnu Baththal yang mengatakan bahwa, Bukhari telah menakwilkan ayat-ayat tersebut di atas bersama dengan keengganan Nabi s.a.w. untuk membalas mengenakan kejahatan kepada orang muslim maupun nonmuslim. Dengan demikian, ayat “Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan itu…” bisa disimpulkan menganjurkan berbuat ihsan kepada si pembuat kejahatan, dan bukan membalasnya.

Jadi, misalkan diantara kaum Muslim yang merasa tersakiti atau terlecehkan oleh ungkapan seseorang atau sekelompok orang,  yang harus diingat adalah janji Allah bahwa perbuatan itu akan berpulang kepada pelakunya, dan Allah akan menolong kepada pihak yang teraniaya. Jadi ajaran ihsan itu,  bahwa yang utama bagi si teraniaya ialah justru mengunjukkan syukur kepada Allah atas jaminan pertolongan itu, dan menyambutnya dengan pemberian maaf kepada yang berbuat.

“Begitulah yang dilakukan oleh  Nabi terhadap si Yahudi penyantet. Padahal beliau punya hak balas, berdasarkan firman: ‘Dan jika kamu membalas, balaslah sepadan dengan yang ditimpakan kepada kamu.’ (Q.S 16:126). Tetapi beliau mendahulukan kelapangan dada, menuruti firman-Nya (Q.S 42:43): ‘Tetapi orang yang bersabar dan mengampuni, yang demikian itu termasuk perkara yang benar ditekankan.” Demikian Syu’bah Asa.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda