Ramadan

Bijak Berdakwah via Media Sosial

Seorang warga serius memperhatikan telepon genggamnya (foto : Alfred Dielmann/Pixabay)
Ditulis oleh B.Wiwoho

Dari hari ke hari, penggunaan telpon genggam di Indonesia sebagai media komunikasi meningkat pesat. Di mana saja, kapan saja dan siapa saja nyaris tak luput dari kesibukan memainkan telpon genggam. Bahkan seorang sahabat yang mencari tenaga asisten rumah tangga pengganti selama libur lebaran, memperoleh pertanyaan yang mengagetkan dari sang calon asisten, “Apakah di rumahnya ada Wifi?”

Wifi adalah sebuah teknologi yang memanfaatkan peralatan elektronik untuk bertukar data secara nirkabel (menggunakan gelombang radio) sehingga berbagai peralatan elektronik dapat tersambung termasuk koneksi internet berkecepatan tinggi. Dengan sarana ini para tamu di rumah yang memasang Wifi bisa melakukan hubungan komunikasi internet ataupun menelepon secara mudah dan gratis menggunakan aplikasi seperti WA, Skype dan sebagainya.

Penggunaan telpon genggam sebagai media sosial, melesat luar biasa sehingga pada akhir 2017, Indonesia menempati kedudukan keenam pengguna telpon genggam setelah China, India, Amerika Serikat, Brazil, Rusia. Penduduk Indonesia sebanyak 261 juta ternyata menggunakan 236 juta telpon genggam. (The Spectator Index, https://www.idntimes.com/tech/gadget/eka-supriyadi/daftar-6-negara-pengguna-ponsel-terbanyak-di-dunia-ada-indonesia-c1c2/full 31 Januari 2018).

Perkembangan media sosial yang luar biasa itu, juga membawa pengaruh dalam berkomounikasi termasuk dakwah. Sejumlah sahabat mengeluhkan sahabat, dan juga saudaranya, yang semenjak setiap Sya’ban lebih-lebih lagi selama Ramadan, mendadak sangat aktif berdakwah dengan mengcopas/forward WA, SMS, Line, Telegram, Instagram, Facebook dan sejenisnya yang dimaksudkan sebagai nasihat dan syiar agama.

Yang paling dikeluhkan adalah antara lain, sehari bisa beberapa kali menerima pesan yang sama dari puluhan bahkan ratusan teman kontak, yang panjangnya bukan main sehingga membosankan serta menyulitkan, kadang-kadang berisi hadis palsu dan hadis-hadisan (mainan) bahkan ada satu dua yang mengharamkan atau menganggap bid’ah sesuatu kebiasaan, sekaligus merasa dirinya memonopoli kunci surga dengan mengkafirkan dan menganggap musrik, sehingga akan masuk neraka orang-orang yang menjalankan kebiasaan yang dianggapnya bid’ah tersebut.

Dalam berdakwah memang ada sebuah hadis yang sangat popular, yang sering dijadikan pegangan bagi seseorang untuk meneruskan pesan dakwah, termasuk membangunkan orang agar shalat tahajud. Hadis tersebut berbunyi “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (Hadis Riwayat Bukhari).

Dalam metode komunikasi, hadis ini berkekuatan dahsyat, karena mendorong orang  berani berdakwah, meskipun ilmu agama yang dimiliki hanya sedikit, sebagaimana diibaratkan hanya satu ayat, sehingga semua ilmu yang diterima atau datang dari Kanjeng Nabi Muhammad Saw terus sambung-menyambung menyebar luas. Hadis ini selain memerintahkan kepada setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk meneruskan pengetahuan keislamannya,  juga menguatkan tekad mereka,  terutama yang mengetahui lebih dari satu ayat.

Sahabatku.

Dalam kehidupan ini, maksud baik belum tentu bisa diterima dengan baik oleh pihak lain. Apalagi jika metode, kemasan dan cara penyampaiannya juga tidak baik. Demikian pula materi atau substansi isi dakwah ataupun nasihat dan  tips,  sebelum dicopas/forward, kita harus sungguh-sungguh yakin kebenarannya, jangan buru-buru langsung dicopas/forward.

Memberi makan orang yang kelaparan sangat mulia, tetapi jika cara memberikannya dengan melemparkan dan menaburkan di hadapan orang yang lapar tersebut, kemuliannya menjadi hilang berganti penghinaan.

Sementara itu target audiens, yaitu orang yang akan kita kirimi juga harus dipahami. Saling mengingatkan itu harus, saling mencerahkan itu penting. Namun jangan sampai kita menggurui, menggarami air laut, merasa kita lebih hebat misalkan, dengan mengebom mengirim WA ataupun SMS melalui pesan pribadi sehari beberapa kali tentang sesuatu hadis atau pengetahuan agama kepada ahlinya.

Lebih dari itu semua, kita juga harus jujur dengan bertanya pada diri sendiri, apakah ada unsur ujub dan riya dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah tadi, karena sesungguhnya batas antara syiar dengan ujub dan riya hanya bagaikan sehelai benang; dan itu hanya diri kita sendiri yang paling tahu. Jika ada unsur ujub riya, sebaiknya kita tahan dulu sampai perasaan ujub riyanya mengendap.

Demikian catatan saya, agar niat baik kita bisa diterima dengan baik. Jika ada yang pernah melakukan sebagaimana gambaran di atas, janganlah lantas berhenti sama sekali. Perbaiki saja materi atau substansi, metode penyampaian, cara dan kemasan serta niatnya, sehingga kita tetap dapat mengemban amanah Rasulullah Saw dalam berdakwah. Semoga hidayah dan hikmah-Nya tercurah kepada Anda dan kita semua. Amin.

(Mutiara Hikmah Puasa, B.Wiwoho)

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda