Tasawuf

Jangan Kuwalat (1): Mungkinkah Bersyukur Kepada Allah Jika Kepada Sesamanya Saja Tidak

Written by B.Wiwoho

Mengetahui dan selanjutnya memahami asal mula serta tujuan mengapa kita dijadikan, amat penting agar kita selamat dalam menjalani kehidupan, sehingga tiba dengan bahagia dan memperoleh derajat yang mulia di Kerajaan Akhirat kelak. Untuk itu komunikasi vertikal dengan Sang Pencipta dan komunikasi horizontal dengan sesama umat manusia, bahkan dengan sesama makhluk Allah yang lain apa pun jenis dan wujudnya juga harus dibina.

Kedua jenis komunikasi tersebut wajib dijalin dengan baik dan tidak boleh diabaikan meskipun hanya salah satu. Tidak ada artinya merasa dekat dengan Gusti Allah, tetapi tidak tahu berterima kasih, tidak berani membalas budi ataupun tidak bisa menjalin silaturahmi terhadap sesamanya. Anjing saja, untuk memberi contoh ekstrim, sangat setia dan tahu berterima kasih. Maka manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia tidak boleh kalah dengan anjing. Manusia yang berbudi bawa laksana, yaitu yang diamanahi untuk mengamalkan budi luhur, harus jauh lebih pandai bersyukur dibanding anjing.

Bahkan lebih dari itu, jangan sekali-kali kita pernah mengkhianati dan menzalimi orang yang memberikan amanah, yang pernah menolong, membantu atau berjasa kepada kita. Orang yang pernah menolong kita, pada hakikatnya telah berjasa kepada kita. Oleh sebab itu sudah seharusnya kepadanya kita berterimakasih dan membalas jasa, dan bukan sebaliknya.

Dalam ajaran moral masyarakat Jawa seseorang yang pernah menolong secara ikhlas orang lain, tanpa dia sadari juga memperoleh anugerah dari Yang Maha Kuasa kemampuan untuk mengutuk kita sebanding dengan jasa atau pertolongannya. Kutukannya itu bisa menimpa kita seperti doa yang manjur dari orang yang dizalimi. Kutukan itu bisa keluar menimpa kita jika kita menyakiti hatinya, dan kemudian tanpa sadar dia “menangis” mengadukan perbuatan buruk kita kepada Gusti Allah. Dan Tuan Besar mana yang menegakan anak buahnya dipermainkan orang?

Hukuman kehidupan yang dialami seseorang lantaran tidak pandai membalas budi dan sebaliknya bahkan menzalimi, dalam masyarakat disebut kuwalat. Perihal perbuatan zalim, Kanjeng Nabi Muhammad Saw juga berpesan, “Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, sebab tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah,” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

Demikianlah, Tuhan Yang Maha Adil, Yang Maha Pengasih dan Tidak Pernah Tidur, Gusti Allah Ora Sare, akan mendengar tangisan pilu hamba-Nya. Naudzubillah.

Sahabatku, segala sesuatu itu memang berasal dari dan karena Allah. Tetapi Gusti Allah tidaklah misalnya, menurunkan uang, makanan dan buah-buahan atau pakaian langsung dari langit, melainkan dengan perantaraan hambaNya yang lain. Kewajiban kita mengetahui, mengingat dan berterimakasih kepada Allah dan juga sekaligus kepada manusia dan makhluk yang menjadi perantara pertolongan Allah tersebut. Inilah makna pemahaman asal mula kejadian secara vertikal maupun horizontal. Menurut nasehat ibu saya, omong kosong kita mengaku sungguh-sungguh bersyukur kepada Gusti Allah yang tidak kelihatan, kalau berterima kasih kepada sesamanya, khususnya kepada manusia yang nampak secara fisik saja tidak bisa.

Perjalanan hidup kita bagaikan bangunan kehidupan yang tersusun dari batu demi batu, dari material demi material kehidupan. Setiap batu, setiap butir pasir dan partikel semen serta air kehidupan, betata pun kecilnya, mempunyai peran dan arti dalam bangunan kehidupan tersebut. Oleh sebab itu kita harus memahami dan menghargai semua komponen bangunan tadi. (bersambung : Jangan Kuwalat 2:Memahami Jasa Pihak Lain Dalam Kehidupan Kita).

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566