Mutiara

Laku Penguasa dalam Menghadapi Masa Sulit

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Di musim paceklik panjang Khalifah Umar ibn Khattab  mengharamkan untuk dirinya makanan yang  bisa dikonsumsi orang kaya. Ia hanya makan daging jika ada penyembelihan unta untuk dapur umum. Bagaimana gaya hidupnya  pada masa normal?

Jazirah Arab, menjelang akhir tahun 18 Hijriah, selepas musim haji. Sembilan bulan tidak turun hujan. Tanah kering retak-retak. Pepohonan mati. Penduduk Hijaz, Tihamah, dan Najd mengalami paceklik yang  teramat berat. Banyak yang makan bangkai. Mereka mengusir keluar tikus-tikus besar dan kadal-kadal dari lubang persembunyiannya. Merek gebuk, lalu mereka makan. Tatkala penderitaan mencapai puncaknya, penduduk pedalaman pergi meninggalkan kampung halaman, pindah ke Ibu Negeri, sekadar untuk mencari rezeki. Oleh Khalifah Umar ibn Khattab mereka ditampung di sekitar Madinah, untuk menghindari kesemerawutan kota, yang pada gilirannya bisa menyuburkan kriminalitas. Sementara orang-orang yang terpaksa mencuri karena lapar tidak dikenai hukuman potong tangan. Tarikh atau  sejarah  menamakan musim kering dan paceklik yang teramat berat itu Tahun Ramdhaa (Tahun Abu, Tahun Kerikil Panas).

Tahun Abu memang merupakan masa tersulit bagi  Umar dalam 10 tahun lebih era kekhalifannya. Ia hanya tidur sebentar: dini hari sudah bangun, keluar rumah, berkeliling sampai ke tempat-tempat penampungan, menyelidik. Jika ada petunjuk kelaparan, ia menghampiri. Terkadang ia keluar bersama pembantunya yang mengangkut tepung dan minyak zaitun. Selain makanan, Khalifah memberikan juga penghiburan. Dari masa inilah datangnya riwayat tentang Khalifah yang mendapati perempuan yang memasak batu, semata-mata untuk menipu anak-anaknya yang menangis lapar, sampai mereka tertidur ketika tengah menunggu.

Bisa dipahami bila Umar mengharamkan untuk dirinya makanan yang bisa dikonsumsi “golongan menengah” waktu itu. Amirul Mukminin yang tidak punya istana itu — yang pada siang hari suka tidur-tiduran di masjid sehingga membingungkan para utusan Romawi Timur yang ingin “menghadap”, meski kekuasaannya mencakup seluruh Jazirah, sampai ke Irak, Suriah, Palestina, Yordania dan Mesir —  waktu itu tidak makan daging. Kecuali jika ada penyembelihan unta untuk dapur umum, ia ikut makan. Ia juga menjauhi samin,  mentega, madu dan susu. Karena pagi-sore hanya makan dengan minyak zaitun, seperti para pengungsi, terjadi gangguan pada perutnya. Lalu ia mengira, jika minyak itu dimasak, mungkin tidak akan begitu menusuk. Toh gangguan perut makin hebat. Apa yang diperbuatnya? Jika perutnya keroncongan, ia tabuh dengan jarinya:  “Berbunyilah sesukamu, tetap saja kau akan diisi minyak zaitun, sebelum orang-orang hidup wajar.” Sikap keras itu juga dia berlakukan kepada seluruh keluarganya.

Makanan yang diberikan Khalifah kepada rakyatnya yang kelaparan itu merupakan tanggungan negara, Baitul Mal. Bahan makanan juga dikirimkan ke pedalaman. Selain itu, ia juga menginstruksikan para wali negeri (gubernur) untuk memobilisasi pengiriman bantuan, termasuk pakaian, ke Madinah dan daerah-daerah bencana. Toh ia tidak dapat mencegah maut yang tidak sedikit menimpa rakyat. Tidak tercatat berapa jumlah korban waktu itu.

Barangkali karena hal itu, maka Umar memperbanyak shalat. Juga suka menangis, bahkan di sembarang tempat. Sampai-sampai wajahnya berubah. Ia sering tiba-tiba saja mengajak orang-orang berdoa bersama dia. Dan ketika penderitaan rakyat sudah mencapai puncak, ia mengajak rakyat melakukan shalat istisqa.

Setelah itu Allah menurunkan hujan. Dan, setelah itu, Umar mengusahakan pemulangan para pengungsi.

Umar sebenarnya bukan orang miskin. Dia saudagar. Meski ia khalifah, profesi itu tidak ditinggalkannya agar ia tidak bergantung pada Baitul Mal. Dia dan keluarganya sebenarnya mampu hidup sebagai orang kaya. Toh dia memperketat kehidupan mereka karena dalam urusan menikmati kesenangan, Umar, seperti selalu dikatakannya, berpegang pada firman: “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik hanya untuk kehidupan duniamu….” (Q.S 46:20). Ia kemudian memilih cara hidup yang pas-pasan, karena khawatir hidupnya akan lebih enak daripada cara hidup Nabi dan pendahulunya, Abu Bakr. Umar, yang lebih suka menjabarkan kebijaksanaannya dalam bentuk perbuatan ketimbang perintah, juga khawatir nilai amalnya berkurang karena menjalani hidup senang. Termasuk dalam hal makan.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda