Ramadan

Doa Orang Berpuasa dan Uji Kesabaran

Puasa pada dasarnya melatih manusia mengendalikan hawa nafsunya (foto : Andy Al Mesura/Unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Puasa untuk melatih diri dari jeratan nafsu perut,  keinginan melahap apa saja, dan nafsu faraj.   Yakni mengumbar selera rendah sehingga kemanusiaan kita menjadi merosot karena dua hal yang kerap dihubungkan dengan uang dan kekuasaan itu.

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiga jenis orang yang doanya tidak ditolak Tuhan: imam yang adil, orang yang berpuasa, sampai berbuka, dan orang yang dizalimi. Akan diangkat doa itu oleh Allah di atas awan, pada hari kiamat, akan dibukakan baginya pintu langit, lalu Dia berkata, “Demi kemuliaan-Ku, akan Kutolong engkau, walaupun tidak sekarang.”

Betapa mustajabnya doa orang puasa. Juga imam (kepala negara) yang adil dan orang-orang yang teraniaya. Selain hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah itu, Abdullah ibn Umar juga pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bagi orang yang berpuasa, ketika dia berbuka adalah saat doa yang mustajab.”

Banyak ulama mengatakan, puasa merupakan sarana berlatih mengendalikan diri. Yakni dari jeratan nafsu perut,  keinginan melahap apa saja, dan nafsu faraj,  mengumbar selera rendah sehingga kemanusiaan kita menjadi merosot karena dua hal yang, di dalam masyarakat kontemporer, sering pula dihubungkan dengan uang dan kekuasaan. Karena itu puasa juga disebut latihan perang melawan hawa nafsu. “Hal yang kutakutkan dari umatku,” demikian sabda Nabi, “adalah pengumbaran hawa nafsu dan panjang lamunan. Mengumbar nafsu memalingkan manusia dari kebenaran (al-haqq), sedangkan melamun panjang membuat orang lupa kepada akhirat. Karena itu ketahuilah, melawan hawa nafsu adalah modal ibadat” (H.r. Hakim dan Dailami).

Jika kita berhasil membebaskan diri dari jeratan hawa nafsu, maka kita akan mencapai kesempurnaan sebagai khalifah Allah. Yakni sebagai pribadi yang kuat,  yang mampu mengatur diri sendiri  dan menaklukkan syahwat untuk menggapai tujuan atau cita-cita  yang tinggi. Yakni takwa.  Seseorang yang telah mencapai derajat takwa, dia memiliki “kekebalan jiwa yang akan melindunginya dari cobaan hidup, tahan dari berbagai krisis, serta tidak akan jatuh dan terombang-ambing oleh bujukan dan rayuan setan atau mush-musuh yang lain, yaitu hawa nafsu dan dunia.”  (Ensiklopedia Buya Hamka, 2019). Menurut Hamka pula, “Puasa menggembleng kader-kader Islam yang jiwa dan hartanya tidak bisa dibeli oleh yang lain selain Allah. Akhlak mukmin memandang sama derajat seluruh alam, mulanya tidak ada, kemudian ada dan nantinya akan lenyap.”

Dalam hadis lain disebutkan bahwa puasa adalah separo dari sabar (ash-shiyamu nisfu shabrin). Apalagi di tengah kepenatan dan tekanan hidup yang kita hadapi dalam hidup sehari-hari, yang menuntut kita untuk memiliki cadangan kesabaran. Dan, dengan berpusaa, kita berharap cadangan kesabaran yang kita miliki itu tidak akan terkuras oleh hal-hal yang bisa memancing emosi dan menaikkan tensi darah, yang nyata maupun yang maya

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda