Ramadan

Peristiwa Besar Selama Ramadan : Ayo puasa, tapi jangan persempit makna ibadah

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Minggu ini kita sudah mulai menjalani ibadah puasa bulan Ramadan. Selama bulan Puasa, tak jarang kita mendengar ungkapan “Sudahlah, ini bulan Puasa. Nggak usah bikin kegiatan macam-macam. Kita konsentrasi saja pada ibadah.” Masyaa Allah. Kata ibadah ternyata masih sering dimaknai secara sempit oleh kebanyakan orang. Seolah-olah yang termasuk ibadah itu hanya salat, puasa, zakat, haji, membaca Al- Qur’an dan beberapa jenis ibadah mahdah lainnya. Sedangkan yang di luar itu dianggap tidak termasuk ibadah.

Jika demikian halnya, lantas bagaimana dengan segala aktivitas dan kegiatan manusia lainnya, meskipun diniatkan semata-mata karena Allah Swt? Bagaimana halnya dengan Perang Badr yang luar biasa dahsyatnya itu? Bagaimana dengan Penaklukkan Mekah pada 10 Ramadan 8 Hijriyah? Kemenangan gemilang Salahuddin Al-Ayyubi dalam Perang Salib pada
Ramadhan tahun 584 H? Serta kemenangan Pasukan Mamaluk mengalahkan Pasukan Mongol pada Ramadan 658 H? Bagaimana dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945? Kelima contoh peristiwa besar tersebut justru berlangsung di bulan Ramadhan. Demikian pula sejumlah peristiwa bersejarah lainnya.

Perang Badr yang legendaris berlangsung antara pasukan
Rasulullah Saw yang hanya berkekuatan 313 prajurit, dengan
dukungan 70 ekor unta dan 3 ekor kuda yang dinaiki secara
bergantian serta perlengkapan perang apa adanya, melawan
tentara kafir Mekah berkuatan 1000 prajurit, 600 diantaranya
infanteri berbaju besi, 100 orang tentara berkuda (kavaleri) serta
300 prajurit pendukung. Luar biasa niat ibadah Pasukan Rasulullah melalui jalan perang menaklukkan musuh-musuhnya. Waktu itu musim panas tengah berlangsung amat terik, sedangkan perbekalan makanan dan
minuman Pasukan Muslim sangat terbatas, sehinga mereka hanya
bisa sahur dan berbuka dengan beberapa teguk air dan beberapa
butir kurma saja. Akibatnya, sebelum pertempuran berlangsung, sudah ada sejumlah prajurit yang jatuh pingsan karena lapar dan haus.
Namun mereka tidak menyerah. Bahkan tak mau juga membatalkan puasanya, meskipun Rasulullah telah mengijinkan dan menganjurkan.

Alhamdulillah, diawali dengan pergerakan pasukan tanggal 08 Ramadhan dari Madinah, perang dahsyat yang berlangsung di Lembah Badr, antara Madinah dan Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan 2H itu, akhirnya dimenangkan secara telak oleh Pasukan Rasulullah. Sesungguhnyalah, secara garis besar ibadah di bagi menjadi dua macam. Pertama, ibadah yang selama ini kita kenal sebagai ibadah mahdah, ibadah yang ketentuannya pasti seperti salat, puasa, zakat dan haji. Ibadah ini juga disebut ibadah khusus.Kedua, ibadah amah atau ibadah umum yang banyak dikenal sebagai ibadah muamalah. Semua perbuatan dan semua bentuk kebaikan yang dilaksanakan dengan niat ikhlas karena Gusti Allah
tergolong dalam ibadah ini.

Begitulah, setiap orang yang mampu menjadikan semua aktivitas dirinya untuk menggapai ridho Allah Swt, berarti telah melakukan suatu amal ibadah yang besar artinya, lebih-lebih lagi jika amal salehnya itu meliputi hubungan antar sesama yang luas. Ibadah yang seperti ini disebut ibadah muamalah. Hubungan sesama yang luas ini meliputi hubungan antara hamba dengan Allah, hubungan antara manusia dengan sesama manusia serta hubungan antara manusia dengan alam dan segenap isinya.

Saudaraku yang budiman, di samping ibadah mahdah seperti halnya salat dan puasa, ternyata masih banyak lagi hal-hal yang menuntut amal perbuatan, amal saleh kita melalui ibadah muamalah. Memberantas korupsi yang dampaknya luas dan sangat luar biasa jahatnya, membasmi ketidakadilan dan kejahatan dalam kehidupan bermasyarakat – berbangsa dan bernegara, memerangi penyebab-penyebab kemiskinan, melawan perusakan alam dan lingkungan, demikian pula melawan kemunafikan dan kemungkaran, yang bukan tidak mungkin bahkan sedang bersimaharajelala di diri kita, yang justru mungkin tidak kita pahami dan sadari, adalah juga ibadah. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara misalnya, Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 atau 9
Ramadhan 1364H. Kemerdekaan diproklamasikan lantaran kita memiliki cita-cita luhur antara lain untuk memerdekakan, mencerdaskan, mensejahterahkan, memakmurkan serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat dan tanah tumpah darah kita.

Adakah cita cita itu sudah terwujud? Apakah justru bukan sedang berlangsung kembali penjajahan oleh Kapitalisme Global? Apakah bukan kita justru seperti apa yang dikhawatirkan oleh Proklamator Bung Karno sebagai hal yang sulit diatasi, yaitu kita sedang dijajah oleh bangsa sendiri?
Berjuang melakukan revitalisasi semangat cita-cita kemerdekaan 1945, bagi sebesar-besar kemaslahatan masyarakat luas, adalah juga ibadah yang harus terus dikobarkan dan ditegakkan kapan saja, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah melalui Perang Badr.

Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar.

(Mutiara Hikmah Puasa, B.Wiwoho).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda