Tasawuf

Sangkan Paraning Dumadi : Belajar Memahami Asal Mula dan Tujuan Akhir Kehidupan

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Tatkala kecil, Ibu yang seorang guru Sekolah Dasar, sering memegang dan membuka telapak tangan sahaya sambal berkata, “Coba huruf apa yang tertulis di kedua telapak tanganmu ini? Huruf M. Isyarat bahwa (m)anusia mesti (m)ati.” Oleh sebab itu Ibu kemudian berwasiat kepada anak cucunya agar senantiasa ingat sangkan paraning dumadi. Asal mula dan tujuan penciptaan manusia. (Buku “Memaknai Kehidupan” , Penerbit Bina Rena Pariwara 2006).

Wasiat seperti itu tentu bukan monopoli dan asli dari Ibu saya, tapi sesungguhnya sudah turun-temurun dan menjadi ajaran tentang kehidupan orang Jawa pada umumnya.

Dalang wayang kulit ternama, almarhum Ki Nartosabdo ( “Pandangan Hidup Jawa” oleh Sujamto, penerbit Dahara Prize, 2000), juga sering mengajarkan agar manusia selalu ingat asal mula kejadiannya, dengan melantunkan tembang Dandanggula yang amat merdu sebagai berikut:

Kawruhana sajatining urip
manungsa urip ana ing donya
prasasat mung mampir ngombe
umpama manuk mabur
oncat saking kurunganeki
ngendi pencokan benjang
ywa kongsi keliru
Upama wong lunga sanja
njan sinanjan nora wurung mesthi mulih
mulih marang mulanira

Artinya:

Ketahuilah perihal hakikat hidup
manusia hidup di dunia
ibarat hanya singgah untuk minum
ibarat burung terbang
lepas dari sangkar
akan hinggap di mana nanti
jangan sampai salah
ibarat orang bertandang
kunjung-mengunjungi tapi toh akhirnya harus pulang
pulang ke tempat asal mula.

Kalimat yang menyatakan orang hidup itu ibarat sekadar singgah untuk minum, sangat populer bagi orang Jawa. Sama populernya dengan kalimat, Gusti Allah “ora sare”, Gusti Allah tidak tidur. Yang pertama berasal dari sabda Kanjeng Nabi Muhammad, sedangkan yang kedua berasal dari Al Quran ayat Kursi. Karena hanya sekadar singgah minum dari suatu perjalanan panjang seorang musafir, maka waktu untuk singgah adalah pendek. Waktu yang pendek ini harus digunakan dengan sebaik-baiknya, serta diisi dengan kegiatan dan hal-hal yang bermanfaat bagi sukses dan tercapainya maksud dan tujuan perjalanan.

Bait kedua dari tembang di atas selanjutnya menyatakan, manusia dan semua makhluk diciptakan oleh Sang Maha Pencipta Alam Raya Yang Maha Agung. Dialah asal mula sekaligus tujuan akhir dari semua yang ada.

Kehidupan seseorang berasal dari Tuhan, dari Gusti Allah dengan perantaraan ayah bunda, kemudian tumbuh bersama masyarakat dan kelak akan kembali lagi kepada Tuhan. Lantaran diri kita berasal dari Tuhan, maka kita pun memiliki sifat-sifat Tuhan. Meskipun demikian janganlah sekali-kali kita pernah punya pikiran bahwa diri kita bisa disebut Tuhan.

Sebagai ciptaan-Nya, sebagai sesuatu yang berasal dari Gusti Allah, seharusnya ada hubungan emosional yang indah antara ciptaan dan Sang Pencipta. Hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Tuan Besar Sang Maha Pencipta, habluminallah. Sayang sekali, karena pesona dunia dan bisikan setan, manusia sering melupakan hubungan tersebut. Ini dapat terjadi lantaran kita melupakan asal mula kejadian kita. Sementara itu karena tumbuh bersama di masyarakat, manusia juga wajib membina hubungan horizontal di antara sesamanya, yang dikenal sebagai habluminannas, bahkan hubungan yang baik dengan alam semesta dan seisinya.

Subhanallah.

(Dari kumpulan tulisan B.Wiwoho, Orang Jawa Belajar Mengenal Gusti Allah)

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda