Ramadan

Puasa, Amal Produktif dan Profesional

Written by A.Suryana Sudrajat

Dan katakanlah, ‘Beramallah  kamu, tentu Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui perkara yang gaib dan perkara yang nyata, kemudian diberikannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan [Q.S. At-Taubah: 105].

Di negeri kita pengertian amal identik dengan sedekah. Beramal berarti bersedekah, dan tempat penampungan sedekah lazim disebut “kotak amal”. Pengertian amal yang sesungguhnya, sebagaimana antara lain diisyaratkan oleh ayat terjemahan di atas, adalah kerja. Jadi beramal adalah bekerja atau berbuat. Sedangkan sedekah adalah bagian dari perbuatan baik alias amal shalih. Dan amal saleh sendiri merupakan manifestasi atau perwujudan keberimanan kita kepada Tuhan. Iman dengan demikian, tidak berhenti pada keyakinan kepada Sang Maha Pencipta, tetapi harus direalisasikan dalam perbuatan-perbuatan baik kepada yang diciptakan (makhluq).

Lazimnya, sebelum melakukan kebajikan kepada orang lain seperti membalas kebaikan dengan yang lebih baik, kita dituntut untuk  bekerja yang akan menjadi sumber penghidupan kita (dan keluarga). Seperti diungkapkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, bahwa Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bekerja. Dan orang-orang yang bekerja keras untuk mencukupi kehidupan keluarganya ini disejajarkan dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Untuk  mereka Allah pun menyediakan pahala dan ampunan. Pahala yang diperolehnya sama dengan pahala orang yang berjihad di jalan Allah. Sedangkan ampunan yang diperolehnya sesuai dengan sabda beliau; “Sungguh sebagian dari dosa manusia ada yang tidak diampuni dengan melakuan shalat, zakat dan haji. Tetapi dosa itu terampuni dengan sulitnya mencari penghidupan.” (H.R. Ibn Baawaih dan Thabrani).

Maka, tidak mengherankan jika Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk segera mencari rizki begitu pagi tiba. Kita dianjurkan untuk tidak tidur kembali setelah shalat subuh. Bekerja di waktu pagi, kata Nabi, akan mendatangkan keberkahan dan keberhasilan. “Bersegeralah dalam mencari rizki dan kebutuhan. Sesungguhnya bersegera itu adalah mengandung keberkahan dan kesuksesan. (H.R. Bazzar dan Ahmad). Pertanyaannya adalah, bekerja seperti apa, apakah sekadar bekerja?   

Satu ketika Khalifah Umar ibn Khattab melewati sekumpulan orang. Khalifah bertanya: “Apa yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab: “Kami sedang bertawakkal.” Apa tanggapan  Khalifah Umar kemudian? Beliau berkata: “Bukan. Tetapi kalian sedang menggantungkan nasib kepada orang lain. Tawakkal sebenarnya adalah orang yang menaburkan benih di tanah, lalu menyerahkan keberuntungannya kepada Allah.”

Ungkapan Sayidina Umar ibn Khattab  tentang menabur benih itu,  bisa kita maknai sebagai sebuah keharusan orang untuk bekerja keras untuk mencapai yang diinginkannya. Sebelum menuai atau memanen,  orang harus menabur benih terlebih dulu pada lahan yang yang sudah diolah tentunya. Setelah itu dia juga diharuskan untuk merawat tanamannya agar tumbuh subur, terhindar dari serangan hama, hingga mencapai hasil yang optimal. Dengan lain perkataan, terdapat prosedur dan langkah-langkah yang harus ditempuh seseorang untuk mencapai  keberhasilan.  Allah SWT berfirman, Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Q.S. 86:3) Kerja keras yang kemudian diikuti dengan sikap tawakkal akan membentuk sebuah etos kerja pada diri seorang Muslim, yang bukan saja menganggap bahwa segala sesuatu yang ingin dicapai tidak bisa diraih dengan cara “sim salabim”, serba mudah dan instan, namun juga harus mengindahkan kaidah-kaidah agama dan norma-norma hukum yang berlaku.

Ihsan, Kuantitas dan Kualitas

Dalam berbagai hadis Rasulullah s.a.w. banyak memberi petunjuk  kepada orang-orang yang berpuasa untuk melakukan kebajikan. Dengan berbuat demikian,  puasa seseorang tidak menjadi sia-sia sebagaimana diperingatkan oleh Nabi sendiri: “Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan haus. Bekerja keras yang disertai tawakkal dan berbuat baik kepada orang merupakan sebuah kebajikan atau yang disebut ihsan. Firman yang berkaitan dengan ihsan antara lain terdapat dalam surah An-Nahl ayat 90, yang terjemahannya “Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan serta pemberi bantuan kepada karib kerabat, dan mencegah perbuatan keji, kemungkaran dan laku angkara. Ia mewejang kamu agar kamu mengingat-ingat.”

Dalam Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik, Syu’bah Asa menyatakan bahwa pengertian ihsan bisa diterangkan  dari segi kuantitas dan kualitas. Contoh ihsan atau kebajikan dari segi kuantitas misalnya memperbanyak ibadah sunnah, baik yang sifatnya pribadi maupun sosial. Sedangkan dari segi kualitas, misalnya yang disebutkan sebuah hadis, “Engkau shalat seakan-akan engkau melihat-Nya, dan kalau engkau tidak melihat-Nya maka (resapkanlah bahwa) Ia melihat engkau”, dan peningkatan “mutu amalan”.

Dalam konteks bekerja, memaknai ihsan dari segi kuantititas berarti peningkatan produktivitas. Dengan kata lain, bekerja lebih produktif merupakan sebuah kebajikan,yang tentu jika dilakukan pada bulan Ramadhan akan mendatangkan pahala yang berlipat-lipat? Bukankah salah satu tujuan puasa adalah untuk merangsang orang melakukan kebajikan?

Adapun mengorientasikan pengertian ihsan pada mutu, tidak lain berarti kita membicarakan profesionalitas dalam bekerja. Dalam surah As-Sajadah ayat 7 Allah berfirman: “Alladzi ahsana kulla sya’in khalaqah.” Artinya,  “(Dia) yang membuat sebagus-bagusnya segala yang ia Ciptakan.”  Dalam ukuran manusia, ahsana itu berarti profesional. Bukan amatiran dan bukan serampangan. Yakni profesionalisme yang menjadi tuntutan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dengan kata lain, bekerja secara profesional (meningkatkan profesionalisme) merupakan ihsan, atau sebuah kebajikan, sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepada kita hamba-hamba-Nya.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka