Mutiara

Sekalipun Dilaknat

Written by A.Suryana Sudrajat

Ada masanya seseorang yang paling dilaknat di sebuah negeri, tetapi ternyata  meninggalkan jasa yang masih dan akan terus dirasakan orang entah sampai kapan. Khususnya dalam bacaan Alquran. Dialah Hajjaj ibn Yusuf, seorang panglima perang, sekaligus algojo yang amat bengis. Seorang yang juga dikenal sebagai perencana kesejahteraan sosial.

Syahdan, di suatu musim haji, seseorang naik ke atap Ka’bah. Badannya yang kurus hanya dibungkus sehelai selimut. Ia pun mulai berpidato, “Saudara-saudara, barangsiapa mengenalku berarti ia kenal aku. Bagi yang belum, namaku Maimun, alias Bapak si Mubarak.” Memanjatkan puji syukur, shalawat dan salam kepada junjungan Rasul dan seterusnya, akhirnya ia sampai pada penutup doa: “Hancurkanlah Hajjaj, yang telah berbuat lalim kepada Ka’bah-Mu dengan melemparkan kotoran dan membunuh para sahabat. Jika Engkau menyebut nama-nama hamba-Mu dengan panggilan rahmat, sebutlah Hajjaj dengan murka yang paling hebat. Ya Allah, inilah Ka’bah-Mu, Tanah Haram-Mu dan Hijir dari Ismail nabi-Mu. Engkaulah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.”

Abul Mubarak, ya Maimun  atau Bapak si Mubarak itu, kemudian berangkat ke Mina. Usai shalat subuh, dia kembali pidato. “Laknatullah Hajjaj! Ya Allah, jangan selamatkan dia dari murka-Mu, dan jauhkan dia dari rahmat-Mu yang meliputi segala-galanya.” Orang-orang mengerumuninya.

“Anda dari mana?”

“Dari negeri Allah,” jawab Ibnul Mubarak.

“Tinggal di mana?”

“Di bumi Allah.”

“Ada apa denga Hajjaj? Dia menzalimi Anda?”

“Benar.”

“Bagaimana?”

“Ia menajiskan Ka’bah Tuhanku, membunuh dan menghina beberapa sahabat Nabi.”

Abul Mubarak memang bukan orang Mekah, atau Madinah. Dia dari Kufah. Di kota itu pula ia pernah diciduk aparat Hajjaj. Untung, sesudah diinterogasi langsung oleh panglima itu, ia dilepas. Ia sebenarnya bukan pemberontak atau lawan politik yang layak diperhitungkan. Di mata Hajjaj ia hanya seorang penyair kurang waras yang hidupnya tidak terurus. Dilaporkan, sewaktu akan diangkut petugas, ia sedang berceramah di depan anak-anak yang belum akil balig. Dan tidak melawan. “Kalian datang mencariku, kan?Jangan ikat aku. Aku akan menurut.”

Hajjaj, panglima perang Umaiyah,  memang dikenal  brutal dalam menghadapi musuh. Dan reputasinya itu membuatnya dihujat di mana-mana. Di zaman para khalifah Umar dan Utsman, orang yang tidak ikut perang, misalnya,  hukumannya hanya dipermalukan di depan umum, dengan cara dicopot sorbannya. Di zaman Ibn Zubair, dicukur rambut dan jenggotnya. Tapi Hajjaj memberinya hukuman mati.

Tapi yang ajaib, Hajjaj bukan semata mesin perang yang ganas. Orang yang kemudian menjadi gubernur Irak ini dikenal  sebagai perencana dari yang biasanya kita sebut pembangunan. Tidak hanya yang menyangkut sarana fisik, seperti sekolah, rumah sakit, atau sistem irigasi yang rusak akibat perang, tapi juga yang berhubungan dengan penyediaan lapangan kerja dan pengembangan sumber daya manusia.

Waktu itu terjadi arus urbanisasi dan, sebagai akibatnya muncul masalah pengangguran di kota-kota. Nah, Hajjaj menarik mereka kembali ke desa, dengan membentuk sistem pengairan untuk tanah-tanah pertanian mereka yang terbengkalai. Ia membangun tentara profesional. Juga menyiapkan kader-kader pembantu gubernur untuk berbagai daerah. Kelompok Hajjaj inilah yang, bersama-sama keluarga Marwan (dinasti Umaiyah), menguasai imperium. Dia juga yang secara ketat memberlakukan mata uang Arab, yang dengan cepat menggantikan berbagai mata uang lama.

Dan perlu dicatat, Hajjaj jugalah yang memberi tanda baca Alquran. Seperti fathah (a), kasrah (i), dhamah (u) berikut tanwin (tanda untuk bunyi an-in-un pada suku terkhir kata benda infinite) yang memudahkan kita yang tidak menguasai “Arab gundul”. Tak heran, meski jarang diketahui: sebelum aktif sebagai tentara di masa kekhalifahan Umaiyah, sampai diangkat panglima perang oleh Khalifah Abdul Malik ibn Marwan,kemudian gubernur Irak, Hajjaj adalah seorang guru di kampungnya. Ia lahir di Thaif, dekat Mekah, 661 M., dan meninggal pada Ju 714 M. (95 h.) di Wasit, Irak. Diriwayatkan, di hari-hari menjelang ajalnya, orang politik yang sukses ini sering menangis.

Di tempat lain dan di waktu lain dan dalam konteks yang lain, kita akan menemukan orang-orang yang dilaknat seperti Al-Hajjaj tapi sekaligus pembawa manfaat. Tapi kita sering hitam-putih dalam menilai seseorang.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768