Ramadan

Peringatan untuk Orang yang Berpuasa

Written by A.Suryana Sudrajat

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang keji (dusta) dan melakukan kejahatan (kepalsuan), Allah tidak akan menerima puasanya, sekalipun ia telah meninggalkan makan dan minum.” (H.R. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Peringatan Nabi selalu kepada orang-orang yang berpuasa. Bukan kepada yang sebaliknya. Soalnya jelas: sejak semula wajib puasa itu disertai harapan ”agar kamu bertakwa.” (Q.S 2:183). Dengan begitu, tidak sendirinya orang yang berpuasa menjadi orang yang saleh dan bertakwa. Ibadah dengan cara mengosongkan perut dari makanan dan minuman ini adalah sarana, bukan tujuan, yang dengan itu orang dapat  memperoleh manfaat moral dan spiritual.

Sabda yang mengingatkan bahwa melaparkan dan menghauskan diri itu tidak ada gunanya adalah, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang keji (dusta) dan melakukan kejahatan (kepalsuan), Allah tidak akan menerima puasanya, sekalipun ia telah meninggalkan makan dan minum.” (H.R. Bukhari, Muslim, dan Ahmad). Dalam hadis lain disebutkan, “Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan haus, dan banyak orang yang bangun di malam hari tetapi tidak memperoleh apa-apa selain berjaga malam saja.”

Kedua hadis itu mengisyaratkan bahwa orang yang berpuasa akan mencapai kualitas moral jika ia mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan jahat. Puasa, dengan demikian, juga merupakan perisai yang dapat melindungi seseorang dari pengaruh jahat.

Tidak hanya itu. Dalam banyak hadis, Rasulullah memberi petunjuk kepada orang-orang yang berpuasa agar banyak melakukan kebaikan. Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a. bahwa pada bulan Ramadhan tak seorang pengemis pun yang kembali dari pintu rumah Nabi dengan tangan hampa, dan budak-budak pun memperoleh kemerdekaan dari beliau. Jadi, secara moral puasa juga merupakan ibadah simbolik untuk mengembangkan solidaritas kemanusiaan.

Selain meningkatkan kualitas moral, tujuan puasa juga memperkokoh ruhani atau kualitas spiritual. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menjalankan puasa dengan penuh iman dan ihtisab, maka akan diampuni semua dosanya di masa lalu.” Ihtisab sikap seorang muslim yang  hanya  mengharapkan ridha  Allah semata, dan terus-menerus menjaga agar pikiran dan tindakannya tidak berlawanan dengan ridha Allah. Jadi, jika seseorang menjalankan puasa dengan kedua prinsip ini, maka seluruh dosanya di masa lalu akan diampuni. Jadi, bolehlah dikatakan puasa merupakan sarana introspeksi dan mawas diri.

Pertanyaannya sekarang: apakah  manfaat dari ritus ibadah sunyi itu telah mewujud dalam kehidupan sehari-hari kaum Muslim? Jika kita lihat fenomena    bangkitnya kegairahan keberagamaan, yang juga terlihat jelas selama Ramadhan, apakah hal itu juga merefleksikan kesadaran moral dan spiritual kaum Muslim?

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa  fenomena kegairahan keberagamaan Islam itu baru bersifat ritualistik. Para ritualis ini pada umumnya menganggap tidak ada hubungan yang signifikan antara agama, yang dipahami sebagai keibadahan, dan masalah-masalah sosial. Selain itu, ada pula ritualis yang dengan sadar mengumpulkan pahala akhirat melalui berbagai ibadah formal. Mereka berkeyakinan, walaupun mereka banyak melakukan dosa sosial, hal itu bisa mereka tebus atau hapus dengan berbagai ibadah mahdah, seperti umrah yang sering dilakukan oleh para petinggi di negeri ini. Juga terdapat  para ritualis yang sengaja membelah antara kerja duniawi, yang punya kecenderungan mentolerir dosa, dan amal akhirat yang dianggap bisa menghapuskannya.

Keyakinan semacam ini tentu saja berlawanan dengan prinsip bahwa semua amal baik pun punya syarat tertentu agar bisa diterima oleh Allah. Bagaimana sebuah amal yang belum pasti diterima itu diandalkan untuk memutihkan yang buruk yang bahkan dengan sengaja dilakukan?     Itulah puasa para  ritualis yang, seperti dikatakan Nabi,  tidak beroleh apa pun kecuali lapar dan dahaga. Itu pula kiranya mengapa  Nabi selalu mewanti kepada mereka yang berpuasa. Bukan kepada yang tidak puasa, apalagi pemilik warung yang buka di bulan puasa.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda