Mutiara

Umat Tidak Bertengkar Soal Agama Tetapi Mengenai Harta

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Mengapa khalifah  Umar  ibn Abdil Aziz menolak hadiah padahal Nabi menerima? Dan ini dua peninggalan besarnya untuk umat.

Umar in  Abdil Aziz,  berdasarkan wasiat rahasia Khalifah Sulaiman bibn  Abdil Malik,  diangkat menjadi khalifah  Padahal ayahnya hanya gubernur, bukan seorang khalifah. Pada pidato perdananya, ia  menyatakan:

“Saudara-saudara, Sungguh saya sudah ditimpa bala dengan kedudukan ini, yang saya peroleh tanpa musyawarah dulu dengan saya. Tidak pernah pula saya minta, atau dirundingkan dengan kaum Muslim. Maka itu, saya lepaskan sajalah baiat kepada saya yang telah melilit leher kalian. Sekarang pilihlah, untuk kalian dan urusan kalian, siapa saja yang kalian mau.”

Tiba-tiba hampir semua orang berseru: “Kami memilih Anda, untuk kami dan urusan kami. Kami semua rela.”

“Sesungguhnya,” demikian Umar menyambung, “umat tidak pernah bertengkar tentang Tuhan mereka, kitab mereka, nabi mereka. Tapi kalau soal dinar dan dirham (uang; pen), mereka bertengkar. Demi Allah,” demikian akhirnya sang khalifah berkata, “saya tidak akan memberi seseorang secara batil, maupun menahan hak orang… Barang siapa taat kepada Allah, dia wajib ditaati. Dan sebaliknya. Jadi taatlah kepadaku sepanjang aku taat kepada Allah. Jika saya bermaksiat kepada-Nya, kalian tidak wajib taat kepadaku.”

Salah satu langkah yang diambil Umar pada masa awal pemerintahannya adalah menyetop praktek-praktek pemberian hadiah yang mahal. Ia hentikan honor para pengarang pidato yang memuji-muji keluarga kerajaan. Mudah diduga, uang hadiah dan honorarium itu diambil dari kas negara.

Umar sendiri  tidak mau menerima pemberian dari siapa pun. Suatu hari seseorang menghadiahkan sekeranjang buah apel kepadanya. Khalifah menghargai pemberian itu, tetapi menolak menerimanya. Orang itu lalu memberikan contoh Nabi yang mau menerima hadiah. Tapi kata Khalifah: “Tidak disangsikan lagi, hadiah itu memang untuk Nabi. Tapi kalau diberikan kepadaku, itu penyuapan.”

Suatu hari ia mengundang makan malam beberapa pemuka Bani Umaiyah. Sebelumnya dia sudah menginstruksikan para pelayan  agar menunda dulu penyajian santapan. Ketika para undangan mulai tamak kadang-kadang menyentuh perut mereka, pertanda lapar, barulah Khaifah berteriak agar pelayan menyiapkan makan. Tapi lebih dulu agar disajikan roti bakar. Makanan sederhana itu langsung disantap Umar, yang kemudian diikuti oleh para tamu. Tak berapa lama santapan makan malam pun dihidangkan. Khalifah mempersilakan. Tapi para tamu menolak, lantaran sudah kenyang. Di situlah Umar berkata: “Saudara-saudara. Jika kalian bisa memuaskan nafsu makan dengan makanan sederhana, mengapa harus serakah, sewenang-wenang, sampai-sampai merampas milik orang lain?”  

Para orientais sering menyebut Umar bin AbdulAziz sebagai Umar II. Adapun Umar I adalah Ibn Al-Khattab (buyutnya sendiri dari pihak ibu), yang bersama dengan Umar II menumbuhkan pameo di kalangan Arab :”K’adli Umarain (seperti adilnya dua Umar)

Ada dua peninggalan besar dari Umar II yang penting bagi umat Islam. Pertama, ia menghapuskan selama-lamanya tradisi ”doa kutuk” kepada tokoh-tokoh Alawi, lawan politik yang berpusat pada anak-turun Ali ibn  Abi Thalib, yang waktu itu diucapkan pada khutbah Jum’at di seluruh masjid. Ia menggantinya dengan ayat: “Allah memerintahkan berlaku adil dan ihsan….” dan seterusnya (Q.S 16:90), yang sampai sekarang tetap diucapkan dalam khutbah di masjid-masjid tradisional.  Kedua, lebih pokok, dialah yang pertama kali memerintahkan kepada para wali negeri untuk memprakarsai penggalian hadis-hadis Nabi , mengingat para tabi’i (generasi setelah sahabat) sudah semakin habis. Dengan itu, usaha pencatatan hadis, yang sudah dilakukan, mendapat persemian, pelipatan, dan pelanjutannya.

Suatu malam, tokoh besar ini asyik memelajari beberapa dokumen di kamar kerjanya, sampai-sampai tidak menyadari kehadiran istrinya.

“Boleh mengganggu sebentar?” tanya sang istri.

“Boleh… Ini urusan keluarga atau dinas?”

“Pribadi, Pak.”

“Kalau begitu, tolong matikan dulu lamu itu. Lampu itu milik negara.”

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda