Cakrawala

Mengapa Bahasa Melayu-Indonesia disebut Bahasa Islam

Written by A.Suryana Sudrajat

Setelah kedatangan Islam, yang diikuti dengan konversi penduduk kawasan Asia Tenggara menjadi muslim, abjad Arab pun diadopsi. Maka, jika semula bahasa Melayu hanya merupakan bahasa pasaran yang terbatas, setelah kedatangan Islam mengalami revolusi.

Hamzah Fanshuri (wafat 1590) adalah sufi masyhur yang produktif menulis. Sayang sebagian karyanya dibakar atas perintah Sultan Iskandar Thani yang mengikuti anjuran mufti Kerajaan Aceh Darussalam, Nuruddin al-Raniri, karena dianggap menyimpang. Dalam mukadimah untuk kitabnya Syarab al-‘Asyiqin, Hamzah menulis: “Ketahui bahwa fakir dha’if Hamzah Fanshuri hendak menyatakan jalan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ma’rifat Allah dalam bahasa Jawi dalam kitab ini – Insya Allah – supaya segala hamba Allah yang tiada tahu akan bahasa Arab dan bahasa Farisi (Persia)  supaya dapat membicarakan dia. Adapun kitab ini dinamai Syarab al-Asyiqin yakni Minuman Segala Orang yang Berahi.”

Murid Hamzah Fanshuri, sekurang-kurangnya murid rohaninya, yaitu Syekh Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani (wafat 1630), juga banyak menghasilkan karya baik dalam bahasa Arab maupun Melayu, yang ia sebut bahasa Pasai. Dalam kitabnya Mir’at al-Mu’min, dia  menulis: “Terbanyak daripada orang yang mulia daripada saudaraku yang salih… karena tiada mereka itu tahu akan bahasa Arab dan Parsi, tetapi tiada diketahui mereka itu melainkan bahasa Parsi jua…”

Tokoh terkemuka lainnya di Aceh yang amat produktif adalah Syekh Abdurrauf as-Singkili. Pemimpin tarekat Syatariah ini juga dikenal dengan nama ‘Abd al-Rauf ibn ‘Ali al-Fanshur al-Jawi. Kitab-kitabnya antara lain Mir’at al-Thullab fi Tashhil Ma’rifat Ahkam al-Syar’iyah li al-Malik al-Wahhab, yang artinya “Cermin bagi Mereka yang Menuntut Ilmu pada Memudahkan Mengenal Segala Hukum Syara’ Allah”. Inilah kitab pertama kodifikasi hukum yang ditulis dalam bahasa Melayu. Kitab ini ditulis memenuhi titah Sultanah Taj al-Alam Safiatuddin Syah, permaisuri dan pengganti Sultan Iskandar Thani. Syaekh Abdurrauf menulis dalam kitabnya itu: “Maka bahwasanya adalah hadrat yang maha mulia itu telah bersabda kepadaku daripada sangat lebai akan agama Rasulullah bahwa kukarang baginya sebuah kitab dengan bahasa Jawi yang dibangsakan kepada bahasa Pasai yang muhtaj kepadanya orang yang menjabat jabatan qadi pada pekerjaan hukmi daripada segala hukum syara’ Allah yang mu’tamad pada segala ulama yang dibangsakan kepada Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu…”

Kitab ini rupanya masih dipelajari di Kerajaan Riau, 150 tahun sejak dikarang. Pengarang Tuhfat al-Nafs, Raja Ali Haji, mengatakan bahwa Yang Dipertuan Muda Raja Ja’far yang ditabalkan menjadi raja Kerajaan Riau pada tahun 1805 adalah seorang raja yang saleh dan kuat menuntut ilmu. Di antara kitab-kitab yang didalami Baginda tersebutlah kitab Mir’at al-Tullab.

Kitab lainnya yang dikarang Syekh Abdurrauf adalah Tarjuman al-Mustafid. Ini adalah kitab tafsir pertama dalam bahasa Jawi atawa Melayu. Kitab ini pernah diterbitkan di Istanbul pada tahun 1302 H (1884/1885), terdiri dari dua jilid. Di Indonesia kitabii  dapat ditemukan, yaitu untuk cetakannya yang ke-4, yang diterbitkan di Mesir pada tahun 1370 H/1951.

Syai’r Ma’rifat adalah karya Abdurrauf lainnya yang bisa dibaca sampai sekarang. Kumpulan syair ini disalin di Bukittinggi pada 28 Januari 1859. Bagian penutup syair itu berbunyi demikian: “Adapun dikata ma’na yang empat/Iman, Islam, tauhid, makrifat
 Keempatnya itu suatu tempat/ Kurang dituntut tiadalah dapat
.”

Tidak syak lagi, bahasa Melayu-lah yang dipilih oleh para juru dakwah atau agen Islamisasi lainnya untuk mengembangkan Islam di Asia Tenggara. Selain itu, kitab-kitab klasik di Nusantara boleh dikatakan seluruhnya ditulis dalam huruf maupun bahasa Jawi alias Melayu.

Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, orang-orang Arab yang mula-mula menyebarkan agama Islam di kepulauan Nusantara, sengaja memilih bahasa Melayu sebagai pengantarnya. Ada persamaan nasib, antara bahasa Arab dan Melayu, kata guru besar bahasa dan kesusteraan Melayu Universiti Kebangsaan Malaysia yang asal Bogor itu. “Orang-orang Arab telah memperkenalkan diri mereka pada daerah ini sejak sebelum Islam, yaitu sejak zaman Jahiliyah. Seperti bahasa Arab zaman Jahiliyah, bahasa Melayu pun tidak merupakan bahasa estetik dalam bidang agama.”

Kalaupun bahasa Arab bernilai tinggi, itu terutama dalam sastra rakyat. Sedangkan bahasa Melayu, kata Al-Attas, pengetahuan kita mengenai bahasa yang satu ini “boleh dibilang hampa belaka, dan mungkin, sebagai sastra rakyat, penggunaan bahasa kuno itu hanya dalam bentuk tradisi lisan.”

Al-Attas tampaknya menolak pendapat yang mengatakan bahwa bahasa Melayu merupakan lingua franca atau bahasa perhubungan, yang sudah berabad-abad digunakan sebelum kedatangan Islam. Soalnya pada zaman pra-Islam, perdagangan di kawasan ini tidak meluas pasarannya. Lagi pula, kata dia, kalau bahasa Melayu merupakan lingua franca waktu itu, mengapa ia tidak mencapai peringkat sebagai bahasa sastra? Bahasa Melayu menjadi bahasa sastra memang setelah kedatangan Islam, dengan Hamzah Fanshuri sebagai tokoh utamanya. Selain itu, masyarakat Melayu adalah masyarakat pedagang, sebagaimana halnya masyarakat Arab Jahiliyah. “Keadaan bahasa Arab yang demikian dapat kita bandingkan dengan bahasa Melayu Kuno; sebagaimana halnya bahasa Arab tidak dipergunakan atau mengambil peranan sebagai bahasa agama yang bersifat estetik seperti bahasa-bahasa Yunani-Romawi Kuno dan Iran-Parsi Kuno, begitu juga bahasa Melayu Kuno tidak dipergunakan untuk mengambil peranan sebagai bahasa agama-agama Hindu-Budha,” kata Al-Attas.  Di Nusantara peran itu memang diambil oleh bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sanskrit.

Setelah kedatangan Islam, yang diikuti dengan konversi penduduk kawasan Asia Tenggara menjadi muslim, abjad Arab pun diadopsi. Maka, jika semula bahasa Melayu hanya merupakan bahasa pasaran yang terbatas, setelah kedatangan Islam mengalami revolusi. Selain diperkaya oleh kosa kata bahasa Arab dan Parsi, bahasa Melayu juga dijadikan sebagai bahasa pengantar utama Islam di seluruh Nusantara, dan pada abad ke-16 berhasil mencapai peringkat sebagai bahasa sastra dan agama yang tinggi dan menggulingkan kedaulatan bahasa Jawa dalam bidang-bidang ini. Dengan ini pula bahasa Melayu-Indonesia, menurut Al-Attas, harus dianggap sebagai bahasa Islam, dan mungkin merupakan yang kedua terbesar dalam dunia Islam. Sebuah bahasa yang sudah diperkaya oleh perbendaharaan kata Arab, mulai dari soal-soal keagamaan sampai bidang politik. Misalnya, untuk contoh yang disebut terakhir itu adalah daulat, sultan, malik, khalifah, baiat, tadbir, jihad,  majelis, umat, siasat, musyawarah, dan sebagainya. Dan jangan lupa pula bahasa Parsi seperti “diwan” (dewan), “johan” (pahlawan), “syah”, “tahta”, “lasykar”, “nakhoda”, dan “syahbandar”.

Iklan

Sumber: S.M.N. Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (1977).

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768