Ramadan

Bersunyi di Tengah Kesemarakan

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, apalagi zakat dan haji, puasa bisa tidak diketahui orang sama sekali. Ibadah ini menjadi rahasia antara makhluk dan Khaliknya, tanpa seorang pun bisa mengawasi. Maka, tidak diragukan lagi puasa adalah ibadah kejujuran.

Ramadan adalah bulan yang semarak. Disambut penuh gempita, bak merayakan sebuah karnaval. Di bulan ini konsumsi naik,  juga inflasi —  dan sangat mungkin gratifikasi. Bahkan pada zaman kolonial, datangnya bulan puasa selalu disambut peningkatan  kewaspadaan oleh  polisi untuk mencegah  maraknya pencurian. Fenomena ini sebenarnya kontras dengan sifat ibadah puasa itu sendiri, yang tidak menampak atau ekspresif sebagaimana ritus-ritus Islam lainnya. Puasa  adalah jenis ibadah yang sunyi, yang jauh dari hiruk pikuk.

Seperti dinyatakan Abdullah Yusuf Ali, seorang mufasir kontemporer, puasa memang bukan ritus yang bersifat lahiriah-wadak, melainkan dengan tindakan yang berhubungan dengan hati. Jadi, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, apalagi zakat dan haji, puasa bisa tidak diketahui orang sama sekali. Ibadah ini menjadi rahasia antara makhluk dan Khaliknya, tanpa seorang pun bisa mengawasi. Maka, tidak diragukan lagi puasa adalah ibadah kejujuran. Ia merupakan sarana pendidikan dari Tuhan  untuk melatih dan mendidik seseorang agar memiliki kualitas kejujuran atau shidq. Sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi  menyatakan, “Jika seorang hamba tetap bertindak jujur dan berteguh hati untuk bertindak jujur, maka ia akan ditulis di sisi Allah Ta’ala sebagai orang yang jujur. Dan jika ia tetap berdusta  dan berteguh hati untuk berbuat dusta, maka ia akan ditulis Allah sebagai pendusta.”

Kejujuran memang bukan sesuatu yang bersifat kondisional melainkan sesuatu yang menghunjam di dasar hati. Al-Junaid ibn Muhammad, pemuka kaum sufi berkata, ”Inti kejujuran adalah bahwa engkau berkata jujur di wilayah yang, jika seseorang berkata jujur, ia tidak akan selamat kecuali berdusta.”

Shidq, yang juga merupakan salah satu sifat Nabi, sejatinya merupakan dasar dari kualitas pribadi lainnya yaitu sifat  amanah atau terpercaya.  Amanah juga berkaitan dengan sesuatu yang dititipkan atau dipercayakan, yang kita kenal dengan sebutan “amanat”. Dengan demikian, kejujuran yang bersifat personal itu harus mewujud dalam sikap dan perilaku  yang bersifat sosial, yaitu amanah. Tentu hanya orang yang bisa dipercaya, yang berhak menerima amanat. Dengan begitu, puasa juga mendidik seseorang untuk bersifat amanah.  Untuk hal-hal yang berurusan dengan orang banyak,  amanat diberikan kepada pemegang kekuasaan. Mereka dituntut untuk menunaikan setiap amanat, apa pun jenisnya, kepada yang berhak. Maka, setiap pengabaian dan perampasan atas hak, individu maupun publik, yang dilakukan pemegang amanat merupakan tindakan pengkhianatan.

Tetapi amanat juga berada pada mereka yang berada di luar lingkungan kekuasaan. Yakni mereka yang dikaruniai pengetahuan atau kecendekiaan, yang dituntut untuk menyampaikan kebenaran. Mereka inilah yang menyandang predikat cendekiawan, di mana  ilmuwan agama atau ulama, menjadi bagian di dalamnya. Di sinilah, seorang ulama, misalnya,  akan diuji integritasnya ketika dia mengeluarkan fatwa  menyatakan pandangan-pandangan keagamaannya. Apakah hal itu, dilakukan misalnya dalam rangka melaksanakan “pesanan” penguasa, agar dia lebih dekat kepada kekuasaan? Inilah yang disebut  Imam Al-Ghazali sebagai ulama su’ (jelek).

Melihat berbagai kemungkaran sosial,  yang antara lain tampak dalam perilaku dan tindakan korup, berbagai kekerasan yang bahkan kerap mengatasnamakan agama, bolehlah orang bertanya: apakah  ibadah puasa yang kita laksanakan hanya sekadar ritus? Di negeri kita, pelaksanaan ajaran agama dalam bentuk peribadahan, sering dianggap tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan masalah-masalah sosial. Ruh puasa, yang sejatinya merupakan sarana pendidikan dari Tuhan kepada manusia untuk menjadi orang yang jujur (shidq) dan terpercaya (amanah), seakan tercabut di tengah semaraknya Ramadan, yang juga dipenuhi dengan berbagai tausiah dan dakwah hiburan.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda