Tasawuf

Tragedi Sang Sufi Pengembara Vol.2

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kisah prosesi Al-Hallaj menuju eksekusi mati. Apa yang dia lakukan sebelumnya di penjara?

Khalifah Mu’tashim Billah memerintahkan agar Abu Manshur al-Hallaj dijebloskan ke dalam penjara. Setahun ia mendekam di bui. Dan orang-orang tetap mengunjungi dan meminta nasihat sehubungan dengan masalah-masalah yang mereka hadapi. Kemudian dikeluarkanlah larangan untuk mengunjungi Hallaj di penjara. Selama lima bulan tidak ada yang mengunjunginya  kecuali Ibnu Atha dan Ibnu Khafif, yang masing-masing sekali berkunjung.

Suatu kali Ibnu Atha  menyurati Hallaj. “Guru, mohonkanlah ampunan karena kata-kata yang telah engkau ucapkan, sehingga engkau dapat dibebaskan,” tulisnya.

Al-Hallaj kemudian mengirim pesan:  “Katakanlah kepada Ibnu Atha. siapakah yang menyuruhku untuk minta maaf?” Mendengar jawaban ini, Ibnu Atha’ tidak dapat menahan tangisannya. Kemudian ia berkata : “Dibanding dengan Hallaj kita lebih hina daripada debu”.

Orang-orang mengatakan, bahwa pada malam pertama Abu Mnashur  dipenjarakan, para penjaga mendatangi kamar tahanannya, tetapi mereka tidak menemukan dirinya. Seluruh penjara mereka geledah, namun sia-sia saja. Pada malam kedua, mereka juga tidak menemukan Hallaj dan kamar tahanannya. Juga di tempat lain.  Pada malam ketiga barulah mereka dapat menemukan Hallaj di dalam kamarnya.

“Di manakah engkau pada malam pertama, dan dimanakah engkau beserta kamar tahananmu pada malam yang kedua? Tetapi kini engkau dan kamar tahananmu telah ada pula di sini, mengapakah bisa demikian?” kata penjaga

“Pada malam pertama, aku pergi ke Hadirat Allah, oleh karena itu aku tidak ada di tempat ini. Pada malam kedua Allah berada di tempat ini oleh karena itu aku dan kamar tahananku ini menjadi sirna. Pada malam yang ketiga aku disuruh kembali ke tempat ini agar hukum-Nya dapat dilaksanakan. Kini laksanakanlah kewajiban kalian”.

Menurut Attar  penulis biografinya, ketika Abu Manshur Al-Hallaj dijebloskan ke dalam bui,  ada  sekitar 300 orang yang dipenjarakan di tempat itu. Malam itu Hallaj berkata kepada mereka, “Maukah kalian jika aku membebaskan kalian?”

“Mengapa engkau tidak membebaskan dirimu sendiri?”  jawab mereka.

“Aku adalah tawanan Allah. Aku adalah penjaga pintu keselamatan. Jika ku kehendaki, dengan sebuah gerak isyarat saja semua belenggu yang mengikat kalian dapat kuputuskan.

Kemudian Hallaj membuat gerakan dengan jarinya dan putuslah semua belenggu mereka. Tawanan-tawanan itu bertanya pula:

“Kemanakah kami harus pergi, pintu-pintu penjara masih terkunci”.

Kembali Hallaj membuat sebuah gerakan dan seketika itu juga terlihatlah sebuah celah di tembok penjara.

“Sekarang pergilah kalian.”

“Apakah engkau tidak turut beserta kami?”

“Tidak. Aku mempunyai sebuah rahasia dengan Dia, yang tidak dapat disampaikan kecuali di atas tiang gantungan.”

Esok harinya para penjaga bertanya: “Kemanakah semua tahanan di sini?”

“Aku telah membebaskan mereka,”  jawab Hallaj.

“Engkau sendiri, mengapa tidak meninggalkan tempat ini?”

“Dengan berbuat demikian, Allah akan mencela diriku. Oleh karena itu aku tidak melarikan diri”.

Peristiwa kaburnya para tahanan itu kemudian dilaporkan kepada  Khalifah. Dan inilah instruksinya:

“Pasti akan timbul kerusuhan. Bunuhlah Hallaj atau pukulilah dia dengan kayu sehingga ia menarik ucap-ucapannya kembali.”

Tiga ratus kali Hallaj dipukuli dengan kayu. Setiap kali tubuhnya dipukul terdengar sebuah suara lantang yang berseru :

“Janganlah takut wahai Abu Manshur”.

Kemudian ia digiring ke sebuah panggung, tempat eksekusi dilaksanakan.  Dengan menyeret 13 rantai yang membelenggu dirinya, Al-Hallaj berjalan dengan mengacung-acungkan ke dua tangannya.

“Mengapa engkau melangkah sedemikian angkuhnya?”  mereka bertanya.

“Karena aku sedang menuju ke tempat penjagalan.”

Ketika mereka sampai ke panggung penghukuman di Bab at Taq, Hallaj mencium panggung itu sebelum naik ke atasnya.

“Bagaimanakah perasanmu pada saat ini?”  .

“Kenaikan bagi manusia-manusia sejati adalah di puncak tiang gantungan.”.

Ketika itu Al-Hallaj mengenakan sebuah celana dan sebuah mantel. Ia menghadap ke arah kiblat,  mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah.

“Yang diketahui-Nya tidak diketahui oleh siapapun juga,”  Hallaj berkata dan naik ke atas.

Sekelompok murid-muridnya bertanya : “Apakah yang dapat engkau katakan mengenai kami murid-muridmu ini dan orang-orang yang mengutukmu dan hendak merajammu itu?”

“Mereka akan memperoleh dua buah ganjaran tetapi kalian hanya sebuah,”  jawab Hallaj. “Kalian hanya berpihak kepadaku, tetapi mereka terdorong oleh Iman yang teguh kepada Allah Yang Esa untuk mempertahankan kewibawaan hukum-Nya”.

Kemudian semua penonton mulai melempari Hallaj dengan batu. Agar sesuai dengan perbuatan orang ramai, Syibli melontarkan sekepal tanah dan Hallaj mengeluh.

“Engkau tidak mengeluh ketika tubuhmu dilempari batu”, orang-orang bertanya kepadanya. “Tetapi mengeluh karena Sekepal tanah?”

“Karena orang-orang yang merajamku dengan batu tidak menyadari perbuatan mereka. Mereka dapat dimaafkan. Tetapi tanah yang dilemparkan ke tubuhku itu sungguh menyakitkan karena ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melakukan hal itu”.

Kemudian kedua tangan Hallaj dipotong tetapi ia tertawa.

“Mengapa engkau tertawa?”, orang-orang bertanya kepadanya.

“Memotong tangan seseorang yang terbelenggu adalah gampang”, jawab Hallaj. “Seorang manusia sejati adalah seorang yang memotong tangan yang memindahkan mahkota aspirasi dari atas tahta”.

Kemudian kedua kakinya dipotong. Al Hallaj tersenyum.

“Dengan kedua kaki ini aku berjalan di atas bumi”, ia berkata. “Aku masih mempunyai dua buah kaki yang lain, dua buah kaki yang pada saat ini sedang berjalan menuju surga. Jika kalian sanggup, putuskanlah kedua kakiku itu!”.

Kemudian kedua tangannya yang buntung itu diusapkannya ke mukanya, sehingga muka dan lengannya basah oleh darah.

“Mengapa engkau berbuat demikian?” orang-orang bertanya.

Telah banyak darahku yang tertumpah. Aku menyadari tentulah wajahku telah berubah pucat dan kalian akan menyangka bahwa kepucatan itu karena aku takut. Maka kusapukan darah ke wajahku agar tampak segar di mata kalian. Pupur para pahlawan adalah darah mereka sendiri,” jawab Al-Hallaj.

“Tetapi mengapakah engkau membasahai lenganmu dengan darah pula?”

“Aku bersuci”.

“Bersuci untuk shalat apa?”

“Jika seseorang hendak sholat sunnat dua roka’at karena cinta kepada Allah”, jawab Hallaj. “Bersucinya tidak cukup sempurna jika tidak menggunakan darah”.

Kemudian kedua biji matanya dicungkil. Orang ramai gempar. Sebagian menangis dan sebagiannya lagi terus melemparinya dengan batu. Ketika lidahnya hendak dipotong, barulah Hallaj memohon :

“Bersabarlah sebentar, berilah aku kesempatan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata”. Kemudian dengan wajah menengadah ke atas. Hallaj berseru : “Ya Allah, janganlah engkau usir mereka (di akhirat nanti) karena mereka telah menganiaya aku demi engkau juga, dan janganlah Engkau cegah mereka untuk menikmati kebahagian ini. Segala Puji bagi Allah, karena mereka telah memotong kedua kakiku yang sedang berjalan di atas jalan-Mu. Dan apabila mereka memenggal kepalaku, berarti mereka telah mengangkatkan kepalaku ke atas tiang gantungan untuk merenungi keagungan-Mu”.

Kemudian telinga dan hidungnya dipotong. Pada saat itu muncullah seorang wanita tua yang sedang membawa kendi. Melihat keadaan Hallaj itu, si wanita berseru :

“Mampuslah dia. Apakah hak si pencuci bulu domba ini untuk berbicara mengenai Allah ?”

“Cinta kepada yang Maha Esa adalah melebur ke dalam Yang Esa.” Kemudian menyenandungkan sebuah ayat, yang terjemahanya sebagai berikut :“Orang-orang yang tidak mempercayai-Nya ingin segera mendapatkan-Nya, tetapi orang yang mempercayai-Nya takut kepada-Nya sedang mereka mengetahui kebenaran-Nya..

Itulah yang dia ucapkan untuk kali terakhir.  Kemudian mereka memotong lidahnya. Ketika tiba saatnya shalat, barulah mereka memenggal kepala Al-Hallaj. Ketika dipenggal, Abu Manshur alias si Pencuci Bulu Domba  masih menyunggingkan senyum. Sesaat kemudian ruhnya meninggalkan raganya.

Sumber: Fariduddin Attar,   Tadzkiratul Auliya           

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda