Cakrawala

Tiga Abdullah yang Menjadi Poros Tanah Jawa. Vol. 2

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Selepas revolusi fisik, Kiai Abdullah Abbas mengalihkan perjuangannya dari mengangkat senjata beralih pada berdakwah langsung di masyarakat. Tokoh penggerak NU kembali ke Khittah 1926

Kiai Mustofa Bisri atawa Gus Mus pernah menyebut  KH Abdullah Abbas salah satu di antara tiga ulama yang menjadi poros atau paku (quthb) Pulau Jawa. Dua lainnya adalah KH Abdullah Faqih di Jawa Timur dan KH Abdullah Salam di Jawa Tengah. Ketiga ulama ini memang dikenal sebagai kiai khos,  yang menjadi rujukan umat dalam pelbagai persoalan.

K.H. Abdullah Abbas atau yang akrab disapa Kiai Dullah   adalah seorang ulama besar dari Jawa Barat. . Ia pengasuh Pondok Pesantren Buntet, di Desa Mertapada Kulon, Astanajapura, Kabupaten Cirebon Jawa Barat. Semasa hidupnya ia pernah menjabat Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia juga  dikenal sebagai satu di antara lima ulama kharismatik Jawa Barat. Empat ulama kharismatik lainnya adalah KH. Ilyas Ruhiyat (Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya), KH Anwar Musaddad (Pondok Pesantren Al Musaddadiyah Garut), KH Totoh Abdul Fatah Ghazali (Pondok Pesantren Al Jawami Cileunyi Bandung), dan KH Irfan Hielmy (Pondok Pesantren Darussalam Ciamis)

Abdullah lahir di Buntet 7 Maret 1992. Ia  anak pertama Kiai Abbas dari istrinya yang kedua yaitu Nyai Hajjah I’anah. Kiai Abdullah Abbas mempunyai seorang adik perempuan yaitu Nyai Hajjah Sukaenah, serta adik laki-laki yaitu K.H. Nahduddin Royandi. Ia menikah dengan  Nyai Hajjah Aisah, dan dikaruniai  seorang puteri yaitu Nyai Hajjah Qoriah yang dipersunting oleh KH. Mufassir dari Pandeglang Banten. Setelah Nyai Aisyah  wafat tahun 1965,  Kiai Abdullah Abbas menikah dengan Nyai Hajjah Zaenab, Putri Qori terkenal K.H. Jawahir Dahlan. Dari perkawinan dengan Nyai Hajjah Zaenab, Kiai Dullah dikaruniai sepuluh putra, yaitu Ani Yuliani, Ayip Abbas, Asiah, Ismatul Maula, Laela, Mustahdi, Muhammad, Yusuf, Neneng Mar’atussholiha,dan Abdul Jamil.

Mula-mula Abdullah belajar agama kepada ayahnya, Kiai Abbas. Ia lalu mondok di sebuah  pesantren di Pemalang, Jawa Tengah  di bawah asuhan  Kiai Makmur. Ia melanjutkan ke Kiai Ma’sum di Lasem,  Jawa Tengah. Dari  Lasem, ia melanjutkan ke  Hadratus Syekh K.H. Hasjim Asy’ari di Jombang Jawa Timur. Dan terakhir ia berguru kepada  Kiai Abdul Karim Manaf di Lirboyo.

Selepas dari Pondok Pesantren, Kiai Abdullah Abbas langsung berkiprah di masyarakat. Pada masa revolusi fisik, ia ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan bersama ayahnya Kiai Abbas.  Ia adalah satu-satunya putera Kiai Abbas yang ikut memimpin dalam berbagai pertempuran melawan Penjajah Belanda.Saat itu, Kiai Abbas bertempur di Surabaya pada 10 November 1945. Kiai Abdullah Abbas pun turut berangkat bertempur melawan penjajah. Kiai Dullah melawan Belanda di daerah Sidoarjo bersama Mayjen Sungkono. Bukan itu saja, Kiai Abdullah Abbas dengan pasukannya sering diminta untuk membantu pasukan lain seperti di Tanjung Priok, Cikampek, Menengteng (Kuningan), dan pernah juga berhasil menyerang pabrik gula Sindang Laut. Kiai Dullah aktif menjadi pasukan Hisbullah, bahkan menjadi Kepala Staf Batalyon Hisbullah, juga menjadi anggota Batalyon 315/Resimen I/Teritorial Siliwangi dengan pangkat Letnan Muda. Selepas revolusi fisik, Kiai Abdullah Abbas mengalihkan perjuangannya dari mengangkat senjata beralih pada berdakwah langsung di masyarakat. Jabatan kemiliterannya (Letnan Muda) ditinggalkan dan lebih memilih menjadi Juru Warta pada Juru Penerangan Agama Kabupaten Cirebon. Lalu menjadi pengatur guru agama Islam Kabupaten Cirebon dan jabatan terakhir adalah Kepala MAN Buntet Pesantren Kabupaten Cirebon.

Pada tahun 1984, ketika situasi politik telah membelokan arah NU, Kiai Dullah bersama Kiai Syafi’i dari Plumbon dan KH Abdurrahman Wahid , melakukan gerakan perlunya NU kembali ke Khittah tahun 1926. Walau mendapat tantangan yang cukup berat, Kiai Abdullah Abbas terus berjuang dengan bersafari dari satu daerah ke daerah yang lain untuk melakukan kampanye perlunya NU kambali ke Khittah tahun 1926. Kiai Abdullah Abbas memang sejak muda aktif di NU. Jabatan yang pernah diembannya antara lain   Rois Syuriah NU Jawa Barat.

KH Abdullah Abbas wafat  pada 10 Agustus 2007. K.H. Hafidz Utsman , Ketua MUI Jawa  Barat dan sesepuh NU,   mengatakan bahwa  Kiai Dullah merupakan sosok pejuang lima zaman mulai masa penjajahan, zaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi. Ia selalu membimbing perjalanan bangsa, dengan memberikan tausiyah kepada semua pemimpin antara lain untuk selalu bersatu dalam membangun bangsa.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda