Cakrawala

Tiga Abdullah yang Menjadi Poros Tanah Jawa. Vol. 1

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Seperti halnya  Dzul Yaddain, seorang wakil rakyat tidak boleh sungkan-sungkan untuk menegur atau mengingatkan pemerintah yang melakukan hal keliru. Adapun perilaku yang harus dibuang jauh-jauh, adalah sifat  Dzul Wajhain, alias berwajah ganda, lain di depan, lain pula di belakang, alias munafik.

KH Abdullah Salam  alias Mbah Dullah, seperti dikatakan KH Mustofa Bisri alias Gus Mus. atau adalah salah satu dari tiga paku Pulau Jawa. Dua lainnya adalah KH Abdullah dari Langitan, Jawa Timur, dan KH Abdullah Abbas dari Cirebon, Jawa Barat. Ketiga ulama kharismatis yang sudah almarhum itu dipercaya sebagai wali quthub atau kekasih Allah yang menjadi poros (quthb) kehidupan sosial di wilayah lingkungan masing-masing. Dia adalah pengusuh Perguruan Islam Matholi’ul Falah (PIM) yang biasa disingkat Mathole’.   

Syahdan, seorang calon atau bakal calon anggota DPR datang menemui Mbah Dullah untuk minta restu. Kata Simbah,  jika seseorang ingin menjadi wakil rakyat, dia harus mampu berkepribadian seperti  “Dzul Yaddain” dan jangan sampai mempunyai sifat “Dzul Wajhain”. Ini merujuk kepada sebuah  kisah di kitab hadist Bulughul Maram. Dzul Yaddain adalah  sahabat Nabi, yang dalam satu kesempatan melihat Nabi shalat dzuhur namun hanya dilakoni dua rakaat. Para sahabat  yang lain hanya diam melihat peristiwa itu, sambil mengira-ngira bahwa mungkin  Nabi  sedang mendapat wahyu yang menjadikan shalatnya hanya dua rakaat,  atau tengah meng-qashar shalatnya. Namun tidak dengan Dzul Yaddain, Setelah Nabi salam,  dia langsung  menanyakan mengapa Nabi shalat dzuhur hanya dua rakaat. Ternyata Nabi lupa, dan beliau pun shalat kembali dua rakaat. Hikmahnya adalah, seperti halnya  Dzul Yaddain, seorang wakil rakyat tidak boleh sungkansungkan untuk menegur atau mengingatkan pemerintah yang melakukan hal keliru. Adapun perilaku yang harus dibuang jauh-jauh, adalah sifat  Dzul Wajhain, alias berwajah ganda, lain di depan, lain pula di belakang, alias munafik.

Mbah Dullah lahir sekitar tahun 1917 dan 1920  di  Desa Kajen,  Kecamatan Margoyoso, berjarak sekitar 18 kilo meter ke arah utara dari Kota Pati, Jawa Tengah. Desa yang biasa disebut “desa pesantren” telah banyak melahirkan ulama-ulama besar. Kebesaran Kajen, konon  tak lepas dari sosok waliyullah Syaekh Ahmad Mutamakkin, seorang  ulama sufi yang hidup pada Abad 16-17 M (1695-1740). Dia  adalah salah satu penyebar pertama agama Islam di tanah Kajen dan sekitarnya.  KH Abdullah  Salam adalah keturunan ke tujuh dari pihak ayah sampai kepada Syaikh Mutamakkin.

Abdullah mula-mula belajar di Mathole’yang diasuh ayahnya sendiri, KH Abdus Salam.  Setelah itu ia belajar menghapal Alquran kepada Kiai Mohammad Sa’id  di Madura, dan kemudian melanjutkan ke pesantren Tebu Ireng, Jombang,  di bawah asuhan KH.Hasyim Asy’ari. Setelah menikah, Abdullah masih aktif belajar kepada sejumlah kiai, di antaranya KH Muhammadun Kajen dan  KH.Arwani Kudus. Setelah itu, Mbah Dullah mengajar di Perguruan Islam Matholi’ul Falah dan sebagai Pengasuh di Pesantren Matholi’ul Huda

Mbah Dullah dikenal punya kepribadian kuat. Kekuatannya ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Mbah Dullah biasa memberikan pengajian untuk umum, yang diakhiri makan bersama. Seorang anggota pengajiannya  yang cukup kaya pernah  berbisik kepada temannya,  “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasih makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami Mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan Mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengannya sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” katanya. Konon orang kaya itu kemudian diajak Mbah Dullah ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata Mbah Dullah kepada tamunya itu.

Kisah lain menceritakan Mbah Dullah   kedatagan seorang tamu  dari luar daerah. Tamu itu membawa segepok uang ratusan ribu, yang kemudian ia sodorkan kepada Mbah Dullah. Katanya,  “Terimalah ini, Mbah, sedekah kami ala kadarnya.”

“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang feqir?” tanya Mbah Dullah.“Kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”

“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, Mbah. Semua sudah saya beri.”

“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang fekir?” tanya mbah Dullah.

“Ya tidak, Mbah …” jawab si tamu.

“Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang fakir yang memerlukannya!”

Mbah Dullah, yang dikunjungi Gus Dur untuk dimintai restunya beberapa hari setelah dilantik menjadi Presiden, wafat pada 11 November 2000.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda